Saturday, November 22, 2008

Jejak Crusoe di Tanah Sunda

Cast away..going at it alone..
Cast away..now im on my own..
Trouble bound lost and found cast away….(Green Day)

Sebagai sebuah tema dalam karya sastra, ‘cast away’ telah dipopulerkan oleh seorang penulis Inggris; Daniel Defoe (1660-1731) melalui karyanya yang fenomenal: Robinson Crusoe. Tapi tahukah Anda, saking terkenalnya novel ini sehingga data sejarah literature masa Kolonial di Indonesia sempat mengabadikan kisahnya dalam bahasa Sunda dan dibaca oleh kalangan elit pada masa itu?

Secara ringkas buku tersebut menceritakan tentang kecerdasan strategi dan pertahanan Crusoe untuk hidup dalam pulau tersebut selama 26 tahun. Dalam cerita tersebut juga dimunculkan seorang tokoh yang disebut sebagai “Friday”--yang selanjutnya menjadi frase “man Friday” yang berarti ‘trusted servant’ atau ‘pelayan setia’. Setelah 28 tahun keduanya kemudian berhasil ke luar dari pulau tersebut dan berlayar menuju Inggris.

Penjelajah Daisuke Tkahashi lebih dari satu dasawarsa meyakini bahwa Alexander Selkirk, seorang kelasi Skotlandia, yang mungkin mengilhami Robinson Crusoe. Selkirk terdampar dan bertahan hidup di sebuah pulau, jauh dari pantai Cile pada 1704. Tepatnya di dekat teluk Cumberland. Selkirk kemudian diperkirakan membangun dua pondok kayu ditutupi lalang dan dilapisi kulit kambing (Kompas, 25 September 2005).

Lalu bagaimana Robinson Crusoe bisa tercetak dalam bahasa Sunda?

Adalah Kartawinata (1846-1906), seorang anak dari (hoofd) panghulu Moehamad Moesa (pengarang Panjiwoeloeng, 1871), yang terlibat dalam berbagai penerjemahan pada masa itu. Bersama saudara dan anak-anak Sunda lain, dia belajar bahasa Belanda di Garut. Adiknya, Lasminingrat juga seorang penulis yang hidup sezaman dengan Kartini dan juga turut berkontribusi dalam pendidikan gadis-gadis Sunda pada masa itu (Moriyama: 2005).

Kartawinata bersama K. F. Holle menerjemahkan berbagai novel eropa (Kapten Bonteku, Robinson Crusoe, Kapitein Marion, dll), buku pertanian, buku pelajaran, kamus-bersama P. Blusse, serta publikasi-publikasi pemerintah. Dia kemujdian ditunjuk sebagai asisten penerjemah untuk bahasa Sunda pada Februari 1874 dan kemudian diangkat menjadi pegawai penerjemah resmi. Karena jasanya yang berharga bagi Kolonial, pemerintah Batavia kemudian menghadiahinya dengan medali perak.

Sebelumnya, diketahui bahwa bahasa Sunda diakui secara formal keberadaannya oleh pemerintah Kolonial pada abad ke-19 dan disadari pentingnya oleh para penguasa Bumi putera (Bupati dan jajaran di bawahnya) yang kemudian penggunaannya diperluas bukan hanya sebagai alat komunikasi social secara lisan seperti pada aad sebelumnya (17 dan 18) melainkan juga sebagai objek penelitian ilmu bahasa, bahasa pengantar, dan mata pelajaran di sekolah, dan media karya tulis.

Lalu apa yang menarik dari karya terjemahan Kartawinata?

Menurut Moriyama, bukan hanya uraian rinci mengenai kebiasaan dan pemikiran Barat yang membuat terjemahan Kartawinata terkesan modern. Yang juga membangkitkan minat dan mengejutkan para pembaca Bumiputra adalah adanya objek-objek dan orang-orang asing yang ada pada buku-buku itu yang dilukis dengan sangat hidup dan realistis dalam gambar sketsa, kontras dengan naskah-naskah Bali dan Jawa dan Sunda yang menurut Ekadjati (1996:101-128) hanya sedikit mengandung ilustrasi dan gambar.

Kombinasi antara tulisan dan gambar tentunya dirasakan sebagai sesuatu yang sangat baru oleh para pembaca Sunda; sekarang mereka dapat membaca cerita sambil mengembangkan imajinasi mereka tentang peristiwa-peristiwa yang dikisahkan. Boleh dibilang, para pembaca dipaksa untuk membaca dan melihat, suatu cara baru untuk memahami dunia ini yang merupakan kunci penting menuju modernisasi (Moriyama, 2005: 249-250).

MODERNISASI. Itulah benang merah yang hendak dirajut dalam rangkaian kata demi kata, dalam transliterasi maupun transkripsi oleh para pendahulu kita- yang pada akhirnya membawa pada sebuah babak baru: pembentukan Commissie voor de Inlandsch School-en Volkslectuur (Komisi untuk buku-buku sekolah Bumiputera dan buku-buku bacaan populer) pada 1908-sebuah angka tahun yang berharga bagi tonggak sejarah kebangkitan Nasional! (Rusyanti)

Berapa Kali Borobudur Dibangun?


Siapa yang tidak mengenal Borobudur? Memang tidak mengenal Borobudur bukan sebuah kejahatan. Namun cukup untuk membuat seseorang dianggap sebagai manusia tak berwawasan luas. Sebab candi megah ini sangat terkenal, tak hanya di Indonesia namun juga di dunia.

Walau demikian terkenal, tak banyak yang tahu kalau Borobudur dibangun dalam beberapa periode. Menurut Jacques Dumarcay, seorang arsitek asal Prancis, candi itu dibangun sebanyak lima kali dalam periode yang berbeda.

Pada perode pembangunan yang pertama, pondasi awal Borobudur terbentuk dari dinding kecil yang terdiri dari deretan batu yang merupakan garis batas. Dinding pondasi dilapisi puing-puing batu sisa. Batu yang digunakan di seluruh bagian candi adalah batu andesit. Setelah dinding pondasi sudah diselesaikan, maka yang selanjutnya dilakukan adalah mengerjakan bagian kaki. Bagian ini merupakan bagian yang terpisah dari pondasi. Kedua garis pondasi memiliki perbedaan satu sama lain. Proyeksinya adalah 16 cm di sebelah timur laut dan 8 cm di sebelah barat daya.

Sisi-sisi candi dibuat menghadap ke arah timur. Penopang candi diletakkan di bagian atas tingkat pertama lapisan puing-puing batu. Sementara kaki-kaki tiang pancang ditanamkan ke dalamnya. Ketika jalan mulai dibuka, penopang tetap diletakkan dalam bangunan sampai pembangunan mencapai galeri pertama. Setelah itu, penopang diambil dan bekas tempatnya diisi oleh balok-balok batu. Setelah meletakkan deretan batu pertama pada tembok untuk galeri kedua, bagian barat dikurangi karena penyusunan batunya tidak rapi.

media-2.web.britannica.com

Pada galeri ketiga dibangun struktur. Mungkin proporsi dan kerangka tembok hias dan relief telah dibangun seluruhnya sebelum kemudian dirusak. Keberadaan struktur ini diketahui dari dua fakta. Berdasarkan hasil riset geologi, ada wilayah yang sempit dan tersusun rapat di galeri ketiga. Hal ini menunjukkan bahwa bagian tersebut pernah digunakan. Fakta kedua, adalah dibawah tangga utara yang menuju kaki bangunan dan berasal dari periode pembangunan yang kedua, sejumlah besar elemen pahatan, termasuk tembok hias dan puncak tertinggi, telah ditemukan.

Pada akhir periode pembangunan awal, bangunan sudah lengkap. Termasuk bagian kaki candi yang sekarang tersembunyi, dua galeri pertama, dan sebuah struktur utama. Lalu pengerjaan bangunan ditinggal selama lebih kurang 25 tahun.

Pada periode pembangunan kedua lapisan puing-puing batu terlepas. Sementara parit besar yang muncul di sisi bukit menyebabkan struktur bagian utara rusak. Periode pembangunan kedua adalah pembaharuan lengkap bangunan, untuk menjaganya tetap sebagai satu kesatuan. Akan tetapi rencana baru yang dibuat untuk galeri tiga dan empat menunjukkan perbedaan dari periode pertama. Tangga yang sudah direkonstruksi pada periode pertama, sekarang menjadi kurang tinggi. Karena itu perlu sekali untuk membuat kembali desain baru, dan membangun kembali lengkungan di pintu masuk.

Untuk memberi kesan kesatuan bagi bangunan, tiang pintu masuk yang baru, diletakkan di dekat relief lama yang sama dengan galeri tiga dan empat. Bagian atas bangunan mulai dikerjakan lagi. Sisi-sisi bukit tempat candi mendompleng, mulai berubah. Termasuk lima tingkat dari tanah yang dimampatkan dan melapisi puing-puing. Struktur bundar dibangun di bagian atas mimbar, lalu pekerjaan sekali lagi dihentikan.

Sebelum pembangunan periode ketiga dimulai, semuanya diratakan. Pada periode ini dibangun tiga beranda bundar yang menembus stupa-stupa dan stupa sentral. Pagar langkan galeri pertama dimodifikasi dengan cara membangun relung dibagian atasnya untuk menambah sejumlah arca Buddha. Bagian kaki diperluas, dan disisipkan saluran-saluran air hujan.

Pada dua periode terakhir, yaitu periode keempat dan kelima, hanya terjadi perkembangan kecil. Ruang antara relung terbuka di pagar langkan galeri pertama ditutup. Selain itu, pada bagian dalam galeri pertama dipahatkan relief yang baru. Relief-relief ini dihubungkan dengan jalan menuju pintu masuk dan akses baru menuju tangga.

Pada periode ini, tanah yang padat mengakibatkan sisi bukit terkikis dan puing-puing menimpa ke sisi barat. Tanah disekitar bangunan menutupi seluruh tingkat pertama bagian kaki. Tangga di sisi bukit menghilang, galeri-galeri akan terisi tanah dan tanaman liar. Lalu pembangunan terhenti, hingga muncullah candi megah sebagaimana yang kita kenal sekarang. (nisa)

Masjid Azizi: Berlian di Tanjungpura

Kubah

Jatuh cinta itu sudah dirasakan sejak pandangan pertama. Begitulah yang penulis rasakan ketika pertama kali melihat mesjid ini beberapa tahun lalu. Sayang kesempatan untuk mengunjunginya lagi baru terlaksanakan September lalu.

Namanya Masjid Azizi, terletak di Tanjungpura, sebuah kota kecamatan kecil yang belum melupakan kemelayuannya. Masih banyak rumah tradisional berbahan kayu dengan tangga yang berdiri dengan eloknya di kota ini. Walau tentu saja modernitas adalah sesuatu yang tak dapat di tolak. Rumah-rumah berarsitektur Melayu ini pun mesti bersaing dengan rumah modern yang angkuh.

Syahdan, Azizi dan Tanjungpura merupakan milik Kesultanan Langkat. Mesjid dibangun pada masa pemerintahan Sultan Abdul Aziz Djalil Rachmat Syah (1897-1927) dan diresmikan pada 12 Rabiulawal 1320 Hijriah atau tepatnya 13 Juni 1902. Kini nama kerajaan pendirinya diabadikan dalam nama sebuah kabupaten, Kabupaten Langkat.

Tak banyak memang yang tahu kerajaan ini. Pamornya kalah oleh Kerajaan Deli dengan Istana Maimoon-nya yang memang berlokasi di Kota Medan. Padahal Kesultanan Langkat cukup makmur dengan perkebunan karet dan cadangan minyak di Pangkalan Brandan. Kesultanan ini runtuh bersamaan dengan meletusnya Revolusi Sosial tahun 1946. Pada saat itu banyak keluarga kesultanan Langkat yang terbunuh. Namun kejayaan mereka tak hilang ditelan waktu. Mesjid Azizi masih menyimpan kenangan akan kerajaan ini.

Kenangan tersebut terlihat pada pemakaman istimewa yang berada dalam bangunan berpagar dan terbuat dari bahan seperti marmer putih. Itulah makam keluarga kesultanan. Di sampingnya terdapat pemakaman dengan nisan bermacam ragam dan berjumlah ratusan. Diantaranya tampak kuburan Amir Hamzah, penyair Indonesia dari angkatan Pujangga Baru, dengan salah satu karya terkenalnya: Nyanyi Sunyi.

Arsitektur Mesjid Azizi merupakan perpaduan corak Timur Tengah dan India. Ada lebih dari sembilan kubah kecil yang terdapat bagian atap. Ciri khas Timur Tengah dan India tersebut dikombinasikan dengan corak Melayu, Persia dan China.

Keanekaragaman itu tercermin dari ornamen-ornamen mozaik dan pualam bernuansa Timur Tengah. Sementara pengaruh Cina bisa dilihat dari menara yang menjulang di pelataran mesjid. Hal serupa juga ditemukan pada bagian pintu dengan ukir-ukiran khas Cina mirip yang terdapat di kelenteng. Bangunan utama Masjid Azizi merupakan perpaduan arsitektur bercorak Timur Tengah dan India yang megah dengan banyaknya kubah. Ada lebih dari sembilan kubah kecil yang terdapat pada atapnya.


Azizi adalah mesjid yang kaya. Bukan karena biaya pembangunannya mencapai angka 200.000 ringgit. Kekayaannya tampak dari arsitektur dengan banyak ciri dan tradisi. Kekayaan ciri itulah yang menjadikan Azizi indah dipandang. Mesjid ini bahkan lebih indah dari istana sang sultan sendiri. Tak salah jika Azizi dianggap Berlian dari Tanjungpura. (nisya)

Saturday, May 17, 2008

May Day

Sebuah peradaban besar dunia seringkali ditandai dengan adanya suatu bangunan adikarya yang menjadi masterpiece. Banyak orang menyebutnya sebagai keajaiban dunia atau wonders. Tapi seringkali wonders tersebut identik dengan raja, penguasa, dan dinasti pembuatnya. Dan melupakan jutaan buruh yang membangunnya: Yang rata-rata berusia hanya hingga 30 tahun, atau mungkin bekerja sepanjang hari dan malam tanpa upah, dengan status budak.

Mesir Kuno memiliki Piramid. Salah satunya merupakan piramid agung di Giza, yang dibangun sekitar 5000 tahun yang lalu. Konon piramid ini bisa terlihat dari bulan. Selain memiliki fisik mengagumkan, piramid Giza juga membuat kagum para ahli arkeologi karena akurasi ordinasinya yang mengacu pada rasi bintang Orion. Juga karena kerumitan bentuk ruang di dalamnya, dengan banyak ruang rahasia dan diindikasi penuh harta karun. Walau demikian, Piramid tetap identik dengan Pharaoh (Firaun), dan terlupakan pula jasa jutaan buruh yang membangunnya selama tiga dasawarsa.

China memiliki Tembok Besar yang membentang sepanjang 6.700 kilometer. Tembok yang katanya bisa dilihat dari bulan tersebut dibangun sebagai pertahanan terhadap musuh yang datang dari utara. Tembok ini dibangun oleh beberapa dinasti dari sekitar abad 5 SM hingga abad ke 16. Tapi yang dikenang adalah Kaisar Qin Shihuang sebagai pemrakarsa dalam pembangunan tembok secara masif pada 220 SM. Maka terlupakanlah jasa 2 hingga 3 juta buruh yang mati dalam pembangunannya.

Hal ini mencetuskan pertanyaan menarik: Ketika peran buruh sering terlupakan, apakah peradaban merupakan manifestasi ego penguasa? Apakah peradaban adalah wujud dari megalomaniak seorang raja yang ingin memperlihatkan kebesarannya? Atau mungkin sekedar membuat bangunan indah untuk mendiang istrinya?

Namun kemudian sejarah mencatat bahwa para buruh melakukan perlawanan ketika peran mereka terlupakan. Para buruh menolak untuk bekerja selama 19 – 20 jam perhari dengan upah yang sangat minim.

Kemudian pada tanggal 1 Mei 1886 sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat mengadakan demo besar-besaran selama empat hari di Chicago. Demo itu kemudian berujung pada penangkapan dan penembakan terhadap para aktifis buruh, yang kemudian dikenal sebagai insiden Haymarket. Untuk memperingati insiden Haymarket, para buruh kemudian menjadikan 1 Mei sebagai Hari Buruh International, yang lebih populer disebut May Day.

Mungkin May Day merupakan sebuah momentum yang mengingatkan manusia. Bahwa peradaban (yang dibangun dari cipta, rasa, dan karsa manusia) idealnya menghargai setiap lapisan masyarakat. Peradaban bukanlah manifestasi individualisme sekelompok manusia untuk mengeksploitasi manusia yang lain. Walau sejarah pernah mencatat bahwa eksploitasi dan ekspansi pernah menjadi bagian dari peradaban di masa lalu, bukan sebuah dosa untuk berharap terciptanya peradaban masa depan yang lebih baik. (BG)

Monday, April 14, 2008

Memaknai Kecantikan Tuhan

Pengantar

Aroma feminin begitu terasa setiap memasuki bulan April, terutama di pertengahan. Mengapa? Mungkin karena sejarah kelahiran satu nama, yang kelak dianggap berjasa bagi pergerakan kaum perempuan Indonesia: Kartini.

Kartini adalah sosok yang resah pada masanya. Status sosial dan penderitaan bangsanya akibat dijajah, membuatnya tidak merasa nyaman. Namun, hal yang paling membuatnya resah adalah statusnya sebagai perempuan. Bukan karena ia menyesal karena dilahirkan sebagai perempuan. Tetapi, lebih karena ia merasa sulit untuk menyatakan pendapat, juga mewujudkan impiannya untuk melanjutkan pendidikan, hanya karena ia perempuan.

Menjadi perempuan. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Secara primordial, manusia juga mengakui itu. Bahkan, manusia merasa takjub dengan peran yang dijalankan perempuan: sebagai rahim kehidupan, yang melahirkan sebuah generasi. Sebuah ketakjuban yang membuat mereka menggambarkan salah satu bentuk Tuhan dalam figur perempuan, yang dikenal dengan nama Mother Goddess.

Bagaimana pun juga, secara alamiah, perempuan memiliki peran besar dalam kehidupan: Sebagai seorang ibu, yang melahirkan dan membesarkan calon penerus negeri. Kesadaran itulah yang menjadikan kami mengangkatnya dalam tema Tinulad edisi April.


Tuhan itu Cantik

“If God had a name, what would it be and would you call it to His face…”
(Joan Osborne dalam One Of Us)

Perbincangan tentang Tuhan adalah hal yang sulit. Hal ini tidak hanya disebabkan akan melibatkan masalah teologi semata. Ketika melakukan perbincangan tentang Tuhan, kita akan terlibat dalam dimensi yang jauh lebih luas dan mendalam: Pada sebuah pencarian manusia yang sangat panjang, sebuah pencarian akan hakikat.

Perkenalan manusia terhadap dunia ‘di luar’ mereka telah terekam dalam bukti-bukti arkeologi sejak masa Paleolitik, atau sekitar 20.000 – 30.000 tahun yang lalu. Hal tersebut ditandai dengan adanya berbagai peninggalan yang menyiratkan adanya kepercayaan terhadap kekuatan Sang Segala Maha. Peninggalan tersebut antara lain berupa punden berundak, lukisan gua (rock art), dan kubur batu beserta bekal kubur yang menyertainya.

Dari peninggalan-peninggalan tersebut, para ahli dari berbagai ilmu sosial-budaya kemudian mengetahui beberapa konsep kepercayaan yang dimiliki manusia sejak masa prasejarah: Antara lain adalah adanya konsep “hidup sesudah mati (life after death)”, “dunia lain”, dan kepercayaan supranatural lainnya. Namun, bisa jadi hal paling menarik untuk diperhatikan adalah sebuah konsep manusia akan Tuhan. Juga tentang bagaimana mereka berusaha untuk menggambarkan kepercayaan mereka yang abstrak akan Tuhan, ke dalam sebuah bentuk konkret.

Bagaimanakah bentuk Tuhan? Pertanyaan itulah yang berusaha dijawab manusia sejak ribuan tahun silam, namun tetap relevan hingga sekarang. Manusia kemudian berusaha untuk mendefinisikan realitas tertinggi tersebut ke dalam berbagai macam bentuk dan figur. Tentu saja, beberapa penggambaran bentuk Tuhan didefinisikan sejauh nalar yang dimiliki manusia. Sehingga, sering kali terdapat penggambaran Tuhan secara antropomorfis, dengan bentuk layaknya manusia.

Di setiap kebudayaan, penggambaran Tuhan secara antropomorfis merupakan hal yang sering ditemui. Seperti misalnya penggambaran Tuhan yang termanifestasi dalam bentuk arca-arca persembahan. Tuhan digambarkan memiliki bentuk dan indera layaknya manusia. Bahkan, dalam kebudayaan yang tidak memanifestasikan Tuhan dalam bentuk arca persembahan, seperti Islam misalnya, penggambaran Tuhan secara antropomorfis tetap ditemukan. Seperti misalnya konsep kerinduan untuk menatap wajah Tuhan, wajah yang mampu ‘ditangkap’ nalar manusia merupakan wajah seperti layaknya yang dimiliki manusia.

Lalu bagaimana dengan Tuhan dalam figur perempuan? Hal ini sempat menjadi kontroversi ketika dalam film Dogma (1999), Tuhan digambarkan adalah seorang perempuan, yang diperankan oleh Alanis Morisette. Padahal, sejak ribuan tahun sebelumnya penggambaran Tuhan dalam figur perempuan sering ditemui dalam berbagai kebudayaan di dunia. Sebuah konsep yang dikenal dengan nama Mother Goddess, bukti bahwa manusia juga memiliki konsep Tuhan dalam figur perempuan. Sebuah konsep yang juga hadir sebagai bagian dari penggambaran antropomorfis manusia akan Tuhan.

Perempuan Sebagai Rahim Kehidupan

Mother Goddess (Dewi Ibu) merupakan identifikasi umum untuk penggambaran Tuhan dalam figur perempuan. Umumnya, Mother Goddess juga sering disebut dengan Mother Earth, yang sering dikaitkan sebagai dewi kesuburan. Konsep penggambaran Tuhan yang dikaitkan dengan kesuburan ini merupakan konsep yang telah dikenal manusia sejak masa Paleolitik, bahkan ditemukan di beberapa belahan dunia.

Temuan arkeologi yang paling terkenal yang menggambarkan Mother Goddess adalah “Venus of Willendorf”. Arca ini ditemukan di Willendorf, Austria, dan berasal dari masa Paleolitik, sekitar tahun 30.000 – 20.000 SM. Bentuknya menyerupai seorang perempuan, yang terlihat dari payudara dan perut yang menonjol seperti sedang hamil. Bentuknya menyerupai seorang perempuan dengan payudara dan perut yang menonjol seperti sedang hamil. Karena bentuknya itulah figur ini sering diidentifikasi sebagai dewi kesuburan. Karena seperti yang kita ketahui perempuan juga merupakan seorang ibu, sebagai makhluk yang melahirkan.

Selain “Venus of Willendorf”, terdapat pula temuan-temuan figur perempuan dari masa prasejarah yang juga diidentifikasi sebagai Mother Goddess. Antara lain figur-figur yang ditemukan di Lespugue dan Lausell, Prancis; dan tepian sungai Nil, Mesir. Bentuknya hampir sama dengan yang ditemukan di Willendorf, sehingga juga dikaitkan dengan kesuburan. Namun tidak semua temuan dengan bentuk tersebut memiliki arti dan makna yang sama. Bisa jadi figur-figur tadi tidak memiliki makna ketuhanan dan diidentifikasi sebagai dewi kesuburan, melainkan hanya sebagai hiasan atau mainan.

Pada masa selanjutnya, konsep-konsep ketuhanan dalam bentuk perempuan tetap banyak yang dikaitkan dengan kelahiran dan kesuburan. Konsep yang kemungkinan telah dikenal sejak masa prasejarah ini, semakin bervariasi dikenal di banyak belahan dunia.

Kebudayaan Yunani mengenal Gaea, sebagai Ibu Bumi yang kelak melahirkan dewa-dewi dan kehidupan di bumi; Kebudayaan Babylonia dan Asyria mengenal Ishtar sebagai dewi kesuburan; Amaterasu dipercaya sebagai dewi matahari yang melahirkan keluarga kaisar yang berkuasa di Jepang. Selain itu, masih banyak lagi penggambaran figur perempuan yang dikaitkan dengan dewi yang berkaitan dengan kesuburan dan kelahiran. Hal itu memperlihatkan bahwa konsep Tuhan sebagai pencipta sering pula dikaitkan dengan perempuan yang merupakan rahim dari awal kehidupan manusia.

The Power-Within

Pada awalnya, memang figur dewi perempuan sering diidentikkan dengan dewi yang berkaitan dengan kelahiran dan kesuburan. Akan tetapi, pada pada perkembangan berikutnya banyak ditemukan dewi perempuan yang dilengkapi dengan atribut lain selain kesuburan dan kelahiran. Umumnya, figur-figur dewi perempuan di berbagai kebudayaan memiliki atribut yang memiliki sifat feminin sebagaimana layaknya perempuan: Seperti dewi cinta, dewi kecantikan, dan dewi kesenian.

Selain itu, figur-figur dewi perempuan juga sering digambarkan sebagai sosok yang memiliki kekuatan. Seperti misalnya Athena, dewi kebijaksanaan yang dikenal di kebudayaan Romawi. Walau sebagai dewi kebijaksanaan, figurnya lebih menyerupai dewi perang. Hal ini terlihat dari penggambaran Athena: dengan baju perang, lengkap dengan perisainya. Namun bukan berarti Athena merupakan sosok yang identik dengan kekerasan. Athena dikenal juga sebagai dewi kedamaian dan dewi keadilan. Oleh masyarakat Yunani, Athena dianggap sebagai pelindung kehidupan yang beradab (civilized life).

Kebudayaan Hindu mengenal Durga sebagai figur perempuan yang dilengkapi dengan atribut kekuatan. Sosok Durga digambarkan bertangan banyak, dengan beraneka macam senjata di genggaman. Masing-masing senjata merupakan pemberian setiap dewa dalam pertarungan Durga melawan Mahisasura, yang berwujud kerbau. Hal itu dilakukan para dewa karena mereka tidak sanggup mengalahkan Mahisasura, dan hanya Durga yang mampu mengalahkannya. Durga merupakan aspek krodha (dahsyat; menakutkan) dari istri (sakti) Siva. Adapun aspek santa (tenang) dari sakti Siva lebih dikenal dengan nama Parvati atau Uma.

Selain Athena dan Durga, masih banyak figur perempuan yang juga memiliki atribut kekuatan. Seperti misalnya Freya (dewi perang sekaligus dewi cinta yang dipercaya oleh bangsa Viking di Eropa Utara) dan Ishtar (dewi perang dan cinta bangsa Babylonia dan Assyria). Hal itu seolah-olah menepis kesan perempuan sebagai sosok yang lemah. Menariknya, justru kekuatan itu semakin bersinergi dengan kelembutan dan kebijaksanaan, yang merupakan sifat feminin dan secara alamiah dimiliki perempuan.

Konsep Keseimbangan

Melihat begitu banyaknya unsur feminin pada sejarah manusia dalam usahanya menggambarkan Tuhan, banyak yang bertanya-tanya: Mengapa sekarang terdapat kecenderungan aspek ketuhanan yang patriarki, yang didominasi oleh figur laki-laki. Walaupun mungkin pada kenyataannya Tuhan bukanlah laki-laki atau perempuan.

Namun sebenarnya, terdapat pula konsep keseimbangan dalam hal ketuhanan yang berusaha dijelaskan oleh beberapa kebudayaan. Misalnya seperti konsep sakti dalam kebudayaan Hindu. Sakti adalah energi atau kekuatan yang dimiliki setiap dewa, yang juga dianggap sebagai penggerak para dewa. Ada juga yang mengatakan bahwa sakti adalah energi feminin, sehingga dalam penggambarannya sakti itu berwujud istri. Sebuah wujud yang merupakan pendamping para dewa dalam menjalankan ‘tugasnya’ untuk menciptakan dan melangsungkan alam semesta.

Selalu ada perempuan hebat di balik lelaki hebat. Mungkin itulah makna dari konsep sakti. Karena itu Wisnu ditemani Laksmi, Brahma ditemani Sarasvati, dan Siva ditemani Parvati dalam menjalankan ‘tugasnya’.

Konsep keseimbangan juga terdapat pada kebudayaan yang tidak memanifestasikan Tuhan dalam wujud konkret, dalam hal ini adalah kebudayaan Islam. Walau tidak memiliki wujud konkret, namun konsep keseimbangan gender dalam hal ketuhanan yang dikenal Islam terdapat pada sifat-sifat Tuhan yang terdapat di nama-namaNya (Asmaul Husna). Mengutip Ibnu Arabi, Sachiko Murata (1992), seorang ahli di bidang perbandingan agama, dalam buku Tao Of Islam melihat bahwa ada sifat feminin di nama-nama seperti Al Quddus (suci), dan Ar Rahiim (penyayang); juga sifat maskulin di nama-nama seperti Al Aziz (perkasa) dan Al Jabbar (penguasa).

Sebuah Harmoni

Walau demikian banyak aspek ketuhanan yang berusaha untuk dimanifestasikan oleh beberapa kebudayaan dalam figur perempuan, tidak berarti merendahkan sifat maskulin dari ketuhanan. Begitu pula sebaliknya, ketika aspek ketuhanan itu lebih banyak dimanifestasikan dalam figur laki-laki, tidak menjadikan sifat feminin dari ketuhanan menjadi direndahkan. Justru sebenarnya manusia berusaha memperlihatkan bahwa ada sifat maskulin dan sifat feminin dalam aspek ketuhanan. Sebuah konsep keseimbangan yang telah disampaikan sejak masa Paleolitik, bahkan mungkin hingga masa Posmodernisme seperti sekarang.

E. O. James (1950), seorang ahli di bidang sejarah dan filsafat agama, dalam buku The Concept Of Deity mengatakan bahwa keseimbangan gender dalam aspek ketuhanan disimbolkan bagaikan langit dan bumi. Langit (sky-god) merupakan simbol Tuhan yang disembah dan berkuasa. Sedangkan, Bumi (earth-mother) merupakan simbol Tuhan yang memelihara dan menjaga.

Pendapat sama juga pernah dikemukakan Rumi, yang pernah dikutip Erich Fromm (1956) dalam buku The Art of Loving. Bahwa dalam pandangan orang-orang bijak, langit adalah laki-laki dan bumi adalah perempuan. Bumi memupuk apa yang telah dijatuhkan oleh langit. Jika bumi kekurangan panas, maka langit mengirimkan panas kepadanya. Jika bumi kehilangan kesegaran dan kelembaban, langit segera memulihkannya. Langit memayungi bumi layaknya seorang suami yang menafkahi istrinya; dan Bumi pun sibuk dengan urusan rumah tangga: ia melahirkan dan menyusui segala yang telah ia lahirkan.

Indah sekali, bukan?! Walaupun banyak cara yang dilakukan manusia dalam menggambarkan Tuhan, bagaimana pun juga Tuhan adalah sebuah keseimbangan dan kesempurnaan. Sebuah harmoni yang menjadikan dunia terus berputar, hingga Ia berkehendak untuk menghentikannya suatu saat (Bayu Galih/Rusyanti/Khairun Nisa, April 2008).