Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

Saturday, November 22, 2008

Jejak Crusoe di Tanah Sunda

Cast away..going at it alone..
Cast away..now im on my own..
Trouble bound lost and found cast away….(Green Day)

Sebagai sebuah tema dalam karya sastra, ‘cast away’ telah dipopulerkan oleh seorang penulis Inggris; Daniel Defoe (1660-1731) melalui karyanya yang fenomenal: Robinson Crusoe. Tapi tahukah Anda, saking terkenalnya novel ini sehingga data sejarah literature masa Kolonial di Indonesia sempat mengabadikan kisahnya dalam bahasa Sunda dan dibaca oleh kalangan elit pada masa itu?

Secara ringkas buku tersebut menceritakan tentang kecerdasan strategi dan pertahanan Crusoe untuk hidup dalam pulau tersebut selama 26 tahun. Dalam cerita tersebut juga dimunculkan seorang tokoh yang disebut sebagai “Friday”--yang selanjutnya menjadi frase “man Friday” yang berarti ‘trusted servant’ atau ‘pelayan setia’. Setelah 28 tahun keduanya kemudian berhasil ke luar dari pulau tersebut dan berlayar menuju Inggris.

Penjelajah Daisuke Tkahashi lebih dari satu dasawarsa meyakini bahwa Alexander Selkirk, seorang kelasi Skotlandia, yang mungkin mengilhami Robinson Crusoe. Selkirk terdampar dan bertahan hidup di sebuah pulau, jauh dari pantai Cile pada 1704. Tepatnya di dekat teluk Cumberland. Selkirk kemudian diperkirakan membangun dua pondok kayu ditutupi lalang dan dilapisi kulit kambing (Kompas, 25 September 2005).

Lalu bagaimana Robinson Crusoe bisa tercetak dalam bahasa Sunda?

Adalah Kartawinata (1846-1906), seorang anak dari (hoofd) panghulu Moehamad Moesa (pengarang Panjiwoeloeng, 1871), yang terlibat dalam berbagai penerjemahan pada masa itu. Bersama saudara dan anak-anak Sunda lain, dia belajar bahasa Belanda di Garut. Adiknya, Lasminingrat juga seorang penulis yang hidup sezaman dengan Kartini dan juga turut berkontribusi dalam pendidikan gadis-gadis Sunda pada masa itu (Moriyama: 2005).

Kartawinata bersama K. F. Holle menerjemahkan berbagai novel eropa (Kapten Bonteku, Robinson Crusoe, Kapitein Marion, dll), buku pertanian, buku pelajaran, kamus-bersama P. Blusse, serta publikasi-publikasi pemerintah. Dia kemujdian ditunjuk sebagai asisten penerjemah untuk bahasa Sunda pada Februari 1874 dan kemudian diangkat menjadi pegawai penerjemah resmi. Karena jasanya yang berharga bagi Kolonial, pemerintah Batavia kemudian menghadiahinya dengan medali perak.

Sebelumnya, diketahui bahwa bahasa Sunda diakui secara formal keberadaannya oleh pemerintah Kolonial pada abad ke-19 dan disadari pentingnya oleh para penguasa Bumi putera (Bupati dan jajaran di bawahnya) yang kemudian penggunaannya diperluas bukan hanya sebagai alat komunikasi social secara lisan seperti pada aad sebelumnya (17 dan 18) melainkan juga sebagai objek penelitian ilmu bahasa, bahasa pengantar, dan mata pelajaran di sekolah, dan media karya tulis.

Lalu apa yang menarik dari karya terjemahan Kartawinata?

Menurut Moriyama, bukan hanya uraian rinci mengenai kebiasaan dan pemikiran Barat yang membuat terjemahan Kartawinata terkesan modern. Yang juga membangkitkan minat dan mengejutkan para pembaca Bumiputra adalah adanya objek-objek dan orang-orang asing yang ada pada buku-buku itu yang dilukis dengan sangat hidup dan realistis dalam gambar sketsa, kontras dengan naskah-naskah Bali dan Jawa dan Sunda yang menurut Ekadjati (1996:101-128) hanya sedikit mengandung ilustrasi dan gambar.

Kombinasi antara tulisan dan gambar tentunya dirasakan sebagai sesuatu yang sangat baru oleh para pembaca Sunda; sekarang mereka dapat membaca cerita sambil mengembangkan imajinasi mereka tentang peristiwa-peristiwa yang dikisahkan. Boleh dibilang, para pembaca dipaksa untuk membaca dan melihat, suatu cara baru untuk memahami dunia ini yang merupakan kunci penting menuju modernisasi (Moriyama, 2005: 249-250).

MODERNISASI. Itulah benang merah yang hendak dirajut dalam rangkaian kata demi kata, dalam transliterasi maupun transkripsi oleh para pendahulu kita- yang pada akhirnya membawa pada sebuah babak baru: pembentukan Commissie voor de Inlandsch School-en Volkslectuur (Komisi untuk buku-buku sekolah Bumiputera dan buku-buku bacaan populer) pada 1908-sebuah angka tahun yang berharga bagi tonggak sejarah kebangkitan Nasional! (Rusyanti)

Saturday, May 17, 2008

May Day

Sebuah peradaban besar dunia seringkali ditandai dengan adanya suatu bangunan adikarya yang menjadi masterpiece. Banyak orang menyebutnya sebagai keajaiban dunia atau wonders. Tapi seringkali wonders tersebut identik dengan raja, penguasa, dan dinasti pembuatnya. Dan melupakan jutaan buruh yang membangunnya: Yang rata-rata berusia hanya hingga 30 tahun, atau mungkin bekerja sepanjang hari dan malam tanpa upah, dengan status budak.

Mesir Kuno memiliki Piramid. Salah satunya merupakan piramid agung di Giza, yang dibangun sekitar 5000 tahun yang lalu. Konon piramid ini bisa terlihat dari bulan. Selain memiliki fisik mengagumkan, piramid Giza juga membuat kagum para ahli arkeologi karena akurasi ordinasinya yang mengacu pada rasi bintang Orion. Juga karena kerumitan bentuk ruang di dalamnya, dengan banyak ruang rahasia dan diindikasi penuh harta karun. Walau demikian, Piramid tetap identik dengan Pharaoh (Firaun), dan terlupakan pula jasa jutaan buruh yang membangunnya selama tiga dasawarsa.

China memiliki Tembok Besar yang membentang sepanjang 6.700 kilometer. Tembok yang katanya bisa dilihat dari bulan tersebut dibangun sebagai pertahanan terhadap musuh yang datang dari utara. Tembok ini dibangun oleh beberapa dinasti dari sekitar abad 5 SM hingga abad ke 16. Tapi yang dikenang adalah Kaisar Qin Shihuang sebagai pemrakarsa dalam pembangunan tembok secara masif pada 220 SM. Maka terlupakanlah jasa 2 hingga 3 juta buruh yang mati dalam pembangunannya.

Hal ini mencetuskan pertanyaan menarik: Ketika peran buruh sering terlupakan, apakah peradaban merupakan manifestasi ego penguasa? Apakah peradaban adalah wujud dari megalomaniak seorang raja yang ingin memperlihatkan kebesarannya? Atau mungkin sekedar membuat bangunan indah untuk mendiang istrinya?

Namun kemudian sejarah mencatat bahwa para buruh melakukan perlawanan ketika peran mereka terlupakan. Para buruh menolak untuk bekerja selama 19 – 20 jam perhari dengan upah yang sangat minim.

Kemudian pada tanggal 1 Mei 1886 sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat mengadakan demo besar-besaran selama empat hari di Chicago. Demo itu kemudian berujung pada penangkapan dan penembakan terhadap para aktifis buruh, yang kemudian dikenal sebagai insiden Haymarket. Untuk memperingati insiden Haymarket, para buruh kemudian menjadikan 1 Mei sebagai Hari Buruh International, yang lebih populer disebut May Day.

Mungkin May Day merupakan sebuah momentum yang mengingatkan manusia. Bahwa peradaban (yang dibangun dari cipta, rasa, dan karsa manusia) idealnya menghargai setiap lapisan masyarakat. Peradaban bukanlah manifestasi individualisme sekelompok manusia untuk mengeksploitasi manusia yang lain. Walau sejarah pernah mencatat bahwa eksploitasi dan ekspansi pernah menjadi bagian dari peradaban di masa lalu, bukan sebuah dosa untuk berharap terciptanya peradaban masa depan yang lebih baik. (BG)

Sunday, March 30, 2008

Arkeolog dalam Fiksi

Dunia arkeologi yang dalam kehidupan nyata sering dianggap memiliki madesu (alias Masa Depan Suram) ternyata bisa disulap menjadi seksi dan mendebarkan di tangan para penulis. Sebutlah beberapa judul yang mengangkat tema penelitian masa lalu ini seperti: Indiana Jones, National Treasure, sampai Jurassic Park, mereka laris ditonton oleh jutaan umat manusia di seluruh dunia. Thanks to Holywood, masyarakat bisa memiliki pandangan baru terhadap profesi suram ini. Jadi, bagaimana kalau kita sedikit berkenalan dengan sebagian dari arkeolog fiktif tersebut?

Indiana Jones

Indiana Jones merupakan tokoh fiksi yang paling “bertanggung jawab” atas persepsi masyarakat modern tentang arkeologi: Perburuan harta karun. Harap maklum, mengingat film garapan Spielberg yang diproduseri Goerge Lucas ini begitu sukses mendulang penonton (dan dollar) dalam periode 80-an. Walau begitu, Dr. Jones tetap berburu harta karun dalam bingkai ilmu pengetahuan. Tentu saja, mengingat statusnya sebagai seorang profesor di bidang arkeologi.

Bernama lengkap Dr. Henry Walden Jones Jr., tetapi lebih memilih untuk dipanggil Indiana yang merupakan nama anjing peliharaannya sejak kecil, daripada panggilan yang diberikan sang ayah: Junior. Telah melakukan berbagai petualangan sejak kecil selagi mengikuti tugas dinas sang ayah yang juga seorang arkeolog.

Nurani seorang arkeolognya sudah muncul sejak masa sekolah. Dalam The Last Crusade, diceritakan bagaimana pandu muda ini berusaha menyelamatkan Salib Coronado dari tangan pemburu harta karun, untuk ditempatkan di museum. Dengan tali cambuk dan topinya yang khas, Indi merupakan ikon seorang petualang sejati. Namun ia tetap digambarkan punya kelemahan: fobia terhadap ular.

Indiana Jones pertama kali muncul dalam trilogi petualangannya yang terkenal: Raiders of The Lost Ark, Indiana Jones and the Temple of the Doom, dan Indiana Jones and The Last Crusade. Dalam ketiga film tersebut, peran Indi begitu lekat dengan nama Harisson Ford. Menyusul kesuksesan film, muncul pula serial televisinya, The Young Indiana Jones Chronicles pada tahun 1992 hingga 1996. Adapun peran tersebut dimainkan tiga orang berbeda: Sean Patrick Flanery (Indi usia 17 tahun), George Hall (93 tahun), dan Corey Carrier (10 tahun).

Lara Croft

Terlahir dari keluarga bangsawan, putri dari Lord Henshingly Croft, Lara merupakan seorang antiquarian yang selalu terlibat berbagai petualangan seru. Apalagi kalau bukan berburu harta karun. Walau demikian, hal itu tidak menjadikan Lara menjadi karakter yang liar. Ia tetap memiliki karakter yang kuat sebagai seorang bangsawan.

Perkenalan Lara terhadap alam bebas dan berbagai petualangan dimulai sejak masa sekolahnya di Gordonstoun. Di sanalah ia menemukan cintanya pada alam bebas, pada pegunungan di Skotlandia. Kemudian berlanjut saat ia melanjutkan kuliah di Swiss, terutama saat ia mulai kenal dengan berbagai extreme sports. Dan, persahabatannya dengan alam jua yang membuat ia bertahan ketika pesawat yang ditumpanginya jatuh di Himalaya.

Di rumah besarnya di Surrey, Inggris, Lara merasa terkungkung dalam lingkungan aristokrasi. Hanya petualangan yang membuat Lara merasa ‘hidup’. Saat itu juga dia sadar bahwa rumahnya cukup luas untuk menampung berbagai artefak. Itulah yang membuat Lara memulai petualangannya sebagai seorang Tomb Raider.

Tomb Raider merupakan video game laris yang membesarkan nama Lara Croft. Jagoan hasil rekaan Toby Gard ini menjadi ratu dunia game sejak debutnya pada 1996. Kini hasil rekaan itu telah muncul dalam film, dan telah melekat dengan nama Angelina Jolie.

Taichi Hiraga-Keaton

Taichi Hiraga-Keaton merupakan seorang arkeolog yang lahir dari ayah seorang ahli zoology dari Jepang dan ibu seorang bangsawan Inggris. Sejak perceraian orangtuanya, Keaton mengikuti sang ibu dan menjadi warga negara Inggris. Beranjak dewasa, Keaton melanjutkan kuliahnya di jurusan Arkeologi, Oxford University.

Lulus dari Oxford, Keaton kemudian memulai karir militernya di SAS, sebuah pasukan khusus Inggris. Berbekal kemampuan militernya di SAS, juga kemampuan analisis dan pengetahuannya sebagai seorang arkeolog, Keaton kemudian bekerja sebagai penyelidik asuransi di Lloyd’s of London. Namun ia juga masih menjadi pengajar arkeologi di berbagai universitas. Sebagai seorang arkeolog, ia punya impian: ekskavasi di tepi sungai Danube dan membuktikan teori kalau kebudayaan Eropa berawal dari tepi sungai Danube.

Master Keaton merupakan manga (komik Jepang) hasil rekaan Hokusei Katsushika dengan ilustrasi Naoki Urasawa yang berkisah tentang petualang Keaton sebagai penyelidik asuransi. Dibuat pada 1988 hingga 1994, Master Keaton menuai sukses dan menginspirasi anak-anak Jepang untuk mendalami Arkeologi. Kesuksesan itu membuat Keaton juga muncul dalam format DVD dalam bahasa Inggris untuk pasar Amerika Serikat.

Adapun yang membuat Keaton berbeda dengan Lara atau Indi adalah sosoknya yang lebih humanis. Keaton digambarkan sebagai manusia biasa, yang bercerai dengan istrinya dan terpaksa meninggalkan putrinya di Jepang demi pekerjaan yang memaksa ia berkeliling dunia. Walau cerita tidak sedahsyat Tomb Raider, Master Keaton merupakan kisah yang kaya dengan pengetahuan budaya.

Dengan latar dan kepribadian yang berbeda, para arkeolog fiktif di atas berhasil mengubah pandangan orang mengenai profesi yang mereka wakili. Walau perlu juga diingat apa yang ada di dunia nyata mungkin tak semendebarkan yang terangkai dalam fiksi. Namun bagi para penggilanya, pekerjaan yang paling membosankan sekalipun bisa jadi jauh lebih memicu adrenalin ketimbang bungee jumping di ketinggian Niagara. Akankah Indonesia memiliki detektif masa lalunya sendiri? Kita lihat saja... (Tim redaksi Tinulad)

Archaeology: The Unfinished “Work”

Apa yang ada di kepala kita ketika mendengar kata “arkeologi"? Jawabannya berbeda-beda. Arkeologi adalah: fosil, dinosaurus, penggalian, Indiana Jones, peneliti, dan ilmuwan. Kutipan dibawah ini mungkin cukup mewakili paradigma yang sering kali direpresentasikan oleh masyarakat populer dewasa ini.

“Archaeology is partly the discovery of the treasures of the past, partly the meticulous work of the Scientific analyst, partly the exercise of the creative imagination..”
(Bahn, 1996:11)

Dengan kemajuan teknologi yang pesat dewasa ini, pernyataan diatas dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk visual yang mengagumkan oleh tangan-tangan creationist. Yup! Lihatlah perburuan harta karun yang menegangkan di situs Angkor Wat oleh jagoan perempuan bernama Lara Croft dengan latar belakang dunia arkeologi. Penelitian untuk memecahkan serangkaian teka-teki rumit dalam bentuk novel detektif karya Agatha Christie yang terinspirasi oleh suaminya yang juga arkeolog. Simak juga film fiksi karya Steven Spielberg yang fenomenal, sebuah karya imajinasi kreatif di luar batas nalar: Jurassic Park. Inilah bungkusan arkeologi dalam dunia konsumsi di era nanoteknologi. Disadari atau tidak, karya-karya ini cukup mempopulerkan dunia arkeologi kepada masyarakat umum, terutama bagi para pelajar yang ingin meneruskan studinya ke tingkat yang lebih tinggi.

Di Indonesia sendiri "arkeologi" bukanlah hal yang populer. Gaungnya tidak selaris "ekonomi". Secara institusional hanya ada 4 universitas yang menggodok calon-calon arkeolog. Keempat universitas ini adalah UI, UGM, UDAYANA, dan UNHAS. Di UI sendiri animonya masih cukup bagus. Rata-rata daya tampung untuk tiap tahunnya sekitar 20-40 kursi. Menurut Irmawati Johan, Sekjur Arkeologi-UI, motif para mahasiswa baru terhadap arkeologi bervariasi dari mulai kesadaran penuh menggapai cita-cita, terinspirasi berbagai film dan buku, hingga yang merasa terjebak dan pada akhirnya tertawan akan nama besar UI. Namun ada pula mahasiswa yang benar-benar menemukan dirinya setelah ia mengenal ilmu ini secara lebih mendalam.

Calon-calon arkeolog muda ini tentunya akan menghadapi berbagai tantangan yang besar ketika mereka pada akhirnya harus berhadapan dengan realita yang ada di luar. Jangan terlalu berharap akan menemukan petualangan spektakuler seperti yang digambarkan dalam layar lebar atau sedramatis novel, karena yang terlihat dibalik layar belum tentu sama dengan kenyataannya.

Tergusurnya situs-situs arkeologi baik yang sekarang terjadi dan dimasa yang akan datang merupakan konsekuensi logis dari pertumbuhan ekonomi dan penguasaan kapital. oleh karena itu perjuangan kita seringkali akan berbenturan dengan penguasa dan kepentingan kelompok tertentu. Selain itu, jumlah situs-situs yang pastinya meningkat tiap 50 tahunnya, memerlukan penanganan yang menyeluruh dan menuntut peningkatan kompetensi tiap individunya dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin cepat.

Untuk menghadapi tantangan ini dalam metode pengajarannya, jurusan arkeologi UI menerapkan sistem PBL (Problem Based Learning) yang berorientasi pada mahasiswa sebagai objek (Student Centered). Sistem ini menuntut mahasiswanya untuk berpartisipasi aktif dan kritis. Sedangkan dosen sendiri lebih bersifat fasilitator. Pada penerapannya, memang masih banyak ditemukan adanya kekurangan terutama pada masalah fasilitas yang menunjang perkuliahan. Walau begitu pengajar menginginkan agar mahasiswanya mampu bersaing dengan dunia luar untuk memajukan arkeologi di Indonesia. Keterbatasan hendaknya tidak dijadikan hambatan untuk terus maju. Tidak ada cara lain bagi kita selain giat belajar dan berusaha meraih segala peluang yang ada dengan penuh tanggung jawab.

Sebagai ilmu yang tidak terlalu populer di Indonesia, bidang karir untuk dunia inipun tidak banyak, ditambah lagi dengan jumlah angkatan pencari kerja yang berjumlah 40 juta lebih, menjadikan persaingan semakin sulit. Banyak ahli-ahli budaya yang berkarir di bidang lain dan sebaliknya. Peluang sebenarnya tetap ada. Banyak Balai-balai arkeologi, Suaka purbakala maupun museum-museum yang tersebar di seluruh Indonesia. Yang diperlukan sekarang adalah keberanian untuk out of Java dan pembenahan manajemen sumber daya budaya kearah yang lebih baik. The right man in the right place nampaknya sulit di terapkan di Indonesia.

Tapi di balik segala masalah yang pelik ini, gemerlapnya layar hiburan yang membius para treasures seeker, menumpuknya angkatan pencari kerja, angkuhnya tembok-tembok penguasa dan budak kapital penjual aset-aset bangsa.... Lebih dari sekedar produk konsumsi, Arkeologi mengusung nilai yang lebih penting lagi yaitu sebuah proyek idealis yang menuntut tanggung jawab bersama demi kemanusiaan dan identitas bangsa yang mau tidak mau harus diteruskan kepada generasi penerus dan pelurus bangsa yang tidak hanya “mentok” pada batasan-batasan karir semata. Seperti halnya yang dinyatakan oleh Calne:

“Keselamatan kita, sebagai hewan sosial, tergantung pada kemampuan kita berbicara dan mengerti, dan keampuhan kebudayaan moderen berasal dari terciptanya tulisan barang lima ribu tahun yang lalu. Semua peradaban besar di dunia ini sekarang dibangun diatas dasar manfaat tulisan dan bacaan. Dan jauh sebelum itu... apa yang kita tahu mengenai sejarah pratulis adalah berkat arkeologi...”
(Calne, 2005: 38&84)

Untuk menjawab tantangan ini, dewasa ini banyak sekali komunitas-komunitas pencinta budaya di Indonesia dengan berbagai visi dan misi. Selain sebagai sarana berkreasi, dan mengintelektualisasikan diri,...komunitas ini mampu memperlihatkan eksistensinya ditengah arus globalisasi ekonomi yang semakin gencar. Lihatlah kreatifitas kelompok yang terkenal dengan Dagadu atau Joger-nya. Dengan tetap mengusung tema pelestarian budaya, kelompok-kelompok ini mampu menghasilkan keuntungan dan nama besar, sekaligus membuka peluang kerja.

Indonesia adalah negeri yang kaya. Negeri ini menyimpan banyak potensi baik propinsi, suku-bangsa, bahasa, adat-istiadat, macam kuliner, dan lain-lain yang tersebar di 276.000 pulau dengan kandungan potensi arkeologi yang belum tergali. Itu merupakan aset yang sangat berharga. Siapa lagi yang akan memberdayakannya selain kita sebagai generasi penerus bangsa?

Jadi sebenarnya, Archaeology is a dynamically expanding subject. Calne mengingatkan kita bahwa, lebih dari romantisme akan kenangan masa lalu, arkeologi merupakan dasar dari terbentuknya peradaban moderen sekarang ini. Arkeologi memberi kita “harta karun” agar belajar dari sejarah untuk masa depan yang lebih baik.

Peluang karir yang sesuai mungkin terbatas di dunia nyata, tapi tidak dalam imajinasi

Lihatlah biografi JFK, Sukarno, Bill Gates, Sayyid Quthb. Mereka semua adalah pengkhayal. Imajinasi merupakan tulang punggung penyangga kreativitas dan sebagian dari potensi ledakan kepahlawanan (Annis Matta) kita. Kecintaan kita pada Arkeologi dapat ditransformasikan dalam berbagai bentuk dan kreasi. Jadilah aktif, kritis dan kompeten. Teruslah berkarya dan ingat:

“Everything that You Can Imagine Is Real”
(Albert Einstein)

(Rusyanti)

Tuesday, January 29, 2008

Tahun Baru di Dunia

Baru dua bulan berada di 2008, Indonesia sudah disambangi tiga tahun baru berbeda yang berhasil memperbanyak jumlah hari libur nasional. Yang pertama, tentu saja tahun baru 2008 yang jatuh pada 1 Januari lalu. Penetapan tanggal 1 Januari sebagai tahun baru sebenarnya sudah sejak masa Romawi Kuno. Awalnya mereka menetapkan 1 Maret sebagai tahun baru namun kemudian beralih pada 1 Januari. Pada abad pertengahan, ada banyak negara di Eropa yang menetapkan 25 Maret (Hari Kenaikan Tuhan) sebagai tahun baru hingga tahun 1600 ketika mereka beralih pada Kalender Gregorian yang menetapkan 1 Januari sebagai tahun baru.

Hanya berselang beberapa hari, giliran jatuh pada Tahun Baru Muharram 1429 H. Ummat Islam menggunakan Kalender Hijriyah yang dinamakan demikian karena tahun pertamanya (622 M) adalah tahun ketika Nabi Muhammad hijrah dari Makkah ke Madinah. Namun tahun Hijriyah baru mulai didiskusikan setelah Nabi Muhammad wafat. Ada yang mengusulkan agar patokan yang digunakan adalah tahun kelahiran nabi, namun ada juga yang mengusulkan diambilnya tahun ketika nabi wafat. Akhirnya pada 638 M, khalifah Umar bin Khatab menetapkan awal patokan penanggalan Islam adalah tahun dimana hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah, dan tanggal 1 Muharam tahun 1 Hijriyah bertepatan dengan 16 Juli 622.

Tahun baru ketiga adalah tahun baru Imlek yang jatuh pada bulan ini. Kalender Imlek sudah dikembangkan jauh sebelum Masehi, tepatnya pada millenium ketiga sebelum masehi, dan konon ditemukan oleh penguasa legendaris pertama, Huáng Dì. Saat tahun baru, ada beberapa tradisi yang sudah turun-temurun dilakukan oleh masyarakat Tionghoa di antaranya, membakar petasan, saling mengunjungi dan memberi hormat serta yang paling populer yaitu angpao. Makanan khas Imlek adalah kue keranjang, yang menurut mitosnya diperuntukkan bagi dewa dapur. Tahun baru Imlek ditentukan berdasarkan perhitungan lunar (peredaran bulan) yang dikombinasikan dengan perhitungan solar (peredaran matahari) dan pergantian musim dari musim dingin ke musim semi. Tahun pertama Imlek diambil dari tahun kelahiran Khong Hu Cu atau Kong Fu Tse pada 551 SM.

Tentu saja, selain tiga tahun baru yang disebutkan diatas, ada banyak tahun baru lain yang dirayakan di seluruh dunia. Umat Sikh merayakan tahun baru berdasarkan Kalender Nanakshahi setiap 14 Maret. Kalender Nanakshasi sebenarnya adalah kalender solar yang diadopsi oleh Shiromani Gurdwara Prabhandak Committee dan didesain oleh Pal Singh Purewal untuk menggantikan kalender Hindu.

Masyarakat Tamil, baik yang berada di India maupun di belahan dunia lainnya, merayakan tahun baru yang jatuh di sekitar tanggal 14 April. Di tahun 2008, petinggi Tamil Nadu memutuskan tahun baru Tamil akan bertepatan dengan dimulainya bulan Suravam dan diadakannya Festival Pongal.

Jepang merayakan tahun baru dan pergantian shio (Eto) secara bersamaan pada tanggal 1 Januari. Dahulu, kalender Jepang didasarkan pada kalender Tionghoa, sehingga mereka merayakan tahun baru di awal musim semi, bersamaan dengan Tahun baru Imlek, Tahun baru Korea, dan Tahun baru Vietnam, namun pada 1873 pemerintah Jepang mulai menggunakan kalender Gregorian sehingga tahun baru ikut dirayakan tanggal 1 Januari. Hari-hari di awal tahun baru ditandai dengan Hatsumode berupa kunjungan pertama ke kuil agama Shinto dan Buddha. Makanan khas tahun baru disebut Osechi, salah satunya adalah sup zoni dari kuah dashi yang berisi mochi dan sayur-sayuran. Penutupan perayaan tahun baru ditandai dengan memakan bubur nanakusa yang dimasak dengan 7 jenis sayuran dan rumput.

Masyarakat Ethiopia merayakan tahun baru yang disebut Enkutatash dan jatuh setiap tanggal 11 atau 12 September. Tahun baru akan selalu jatuh di tanggal ini pada tahun 1900 hingga 2099, namun akan jatuh di tanggal yang berbeda pada abad yang lain.

Tahun baru sebagai sebuah perayaan ketika merayakan berakhirnya masa satu tahun dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya memang hanya akan terjadi di suatu kebudayaan yang memiliki kalender tahunan. Dengan begitu banyaknya populasi di dunia, masing-masing dengan kebudayaan yang berbeda-beda, maka tidak mengherankan jika ada banyak tahun baru yang dirayakan. Namun ada satu kesamaan, semuanya dirayakan dengan penuh keriangan, karena tahun baru adalah saat dimana banyak harapan baru mulai disemai dan tumbuh. (dari berbagai sumber)

Pulanglah Dia Si Arca Hilang

Beberapa orang mungkin menganggap topik ini usang, tapi sengaja kami angkat kembali demi membuktikan tak semua manusia yang hidup di Indonesia memiliki sifat latah yang sudah membudaya. Untuk mengetahui seberapa latahnya bangsa ini, mungkin kita bisa memundurkan ingatan beberapa tahun ke belakang, saat maraknya berita soal penemuan 'hobbit' yang dengan bangganya diumumkan Australia kepada dunia internasional. Seketika Indonesia kebakaran jenggot, lalu berubah marah dan gusar, sebab penemuan penting di tanah air malah diumumkan seenaknya oleh Mike Morwood dan Peter Brown dalam sebuah konferensi pers di Sydney, Australia, tanpa kehadiran peneliti Indonesia.

Malang benar nasib Indonesia. Punya lahan yang kaya artefak dan situs penting, punya peneliti sendiri yang mampu meneliti artefak-artefak tersebut, namun tak punya dana hingga terpaksa bekerja sama dengan negara lain, penyokong yang kemudian mengambil alih penelitian tersebut. Tapi hanya segitu saja, setelah media dan beberapa kelompok masyarakat puas merasa panik dan marah akan kasus tersebut, maka semuanya terlupakan.

Kasus dengan negara tetangga juga tak jauh berbeda. Ketika Malaysia sang 'saudara serumpun' menggunakan lagu Rasa Sayange untuk website kebudayaan mereka, serentak seluruh rakyat Indonesia marah, terutama karena setelah Rasa Sayange, ada pencurian beruntun lainnya. Internet dijadikan media ketika banyak orang menumpahkan kemarahan mereka di beberapa forum bebas maupun blog, bahkan hacker asal Indonesia sempat membajak situs tersebut. Tapi setelah itu apa?

Kembali pada kasus pencurian benda-benda purbakala di Museum Radya Pustaka yang berhasil terkuak, lingkaran setan yang sama juga kembali terulang. Pembahasan ramai dimana-mana, mengenai Hasjim, Krueger, lemahnya mental dan pengawasan para pegawai museum, sampai ketakcakapan pemerintah. Namun seiring dengan berjalannya waktu maka berita mengenai Hasjim, atau Museum Radya Pustaka-pun makin jarang ditemui.

Dimulai dari terkuaknya keberadaan arca-arca palsu di Museum Radya Pustaka tahun 2007 kemarin. Untunglah dua petugas Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah berhasil mengendus ketidakberesan pada arca yang tersimpan di ruang belakang Radya Pustaka, September lalu. Kecurigaan itu muncul sebab arca Agastya di museum tersebut memiliki perbedaan yang sangat mencolok jika dibandingkan dengan wujud di dalam foto dokumen BP3 yang diambil pada 2001. Ternyata tak hanya satu arca yang palsu, Agastya memiliki empat 'teman' lain yang juga bernasib sama, yaitu Durga Mahisasura Mardini, Durga Mahisasura Mardini II, Siwa, dan Mahakala.

Terkuaknya kasus lima arca tersebut mendorong penyelidikan lebih lanjut, hingga BP3 Jawa Tengah mengumumkan ada enam benda koleksi lain yang telah hilang dan dipalsukan, yaitu dua arca perunggu, sebuah kap lampu perunggu, dua buah keramik yang salah satunya berasal dari Dinasti Ming, dan sebuah tempat buah-buahan hadiah dari Napoleon Bonaparte kepada Pakubowono X.

Jumlah tersebut memang bukanlah kerugian yang sedikit, namun tanpa bermaksud mendukung pencurian yang melanggar hukum tersebut, terpikirkan oleh kami, benarkah arca-arca tersebut dalam keadaan yang lebih baik jika berada di tangan museum dan pemerintah? Kalau beberapa museum yang sudah kami kunjungi seperti Museum Nasional dan Fatahillah, bisa dijadikan patokan bagi kualitas museum-museum di Indonesia, maka bisa dipastikan museum adalah tempat yang mengerikan bagi benda-benda bersejarah tersebut. Pasti sudah banyak yang tahu betapa arca-arca di museum dalam kondisi yang aus dan berjamur, terlihat seperti tak dirawat sama sekali. Alasannya? Klise: kurang dana dan kurang orang.

Jika demikian, mungkin saja akan lebih baik arca-arca tersebut dicuri dan dibeli oleh kolektor pribadi yang mampu merawat mereka dengan lebih baik. Pencurian benda bersejarah yang dilindungi hukum memang salah, namun menelantarkan benda tersebut adalah tindakan yang sama salahnya.

Mungkin suatu ketika, saat museum kita sudah mampu memperlakukan museum kita benda-benda koleksi mereka dengan lebih 'manusiawi', maka mungkin itulah saat paling pantas bagi orang Indonesia untuk mengutuk pencurian dan pejualan ilegal benda-benda cagar budaya milik negara.

Tuesday, October 23, 2007

Lebaran dan Ragam Budaya Indonesia

Di negeri kami, Indonesia, Lebaran merupakan suatu keunikan. Lihat saja dari penggunaan Ketupat sebagai atribut utama perayaan. Sebuah simbol yang memperlihatkan keanekaragaman budaya. Sehingga Lebaran kami pun tidak harus identik dengan unta dan pohon kurma.

Biasanya setelah Sholat Ied, seluruh keluarga berkumpul untuk tradisi sungkeman, tanda bakti anak kepada orang tua. Ayah berpakaian batik dan Ibu berpakaian kebaya, jenis-jenis pakaian tradisional negeri kami, yang kini diklaim Malaysia. Selain itu beberapa dari kami juga menggunakan baju koko, perpaduan tradisi Cina dan Nusantara, tapi kami tidak pernah mengklaim baju koko berasal dari Indonesia.

Setelah keluarga inti saling bermaafan, kami kedatangan keluarga besar. Paklik Heru yang baru menikah dengan gadis Palembang datang paling awal. Bibi baru kami terlihat cantik dengan kain songket yang dikenakan. Kata Bibi, songket itu pun direncanakan akan dipatenkan oleh Malaysia.

Setelah paman datang, Bulik Rina dan Paman Fauzan tiba sekitar setengah jam kemudian. Setelah Ibu mempersiapkan hidangan untuk disantap beramai-ramai. Ada Opor Ayam dan Rendang yang menemani Ketupat. Paman Fauzan kemudian bersungut-sungut kesal ketika bercerita kalau Rendang, makanan Padang, dipatenkan juga oleh Malaysia.

Ayah lalu berusaha menenangkan. Beliau juga bercerita kalau lagu kebangsaan Malaysia, Negaraku juga diduga merupakan jiplakan lagu Terang Bulan yang sering dinyanyikan kakek. Jadi menurut Ayah seharusnya Pemerintah Indonesia lebih peduli akan hak cipta. Tapi lagu Rasa Sayange sekarang juga diklaim Malaysia.

Begitulah biasanya Lebaran di negeri kami Indonesia, kaya akan ragam budaya. Mungkin disebabkan juga metode dakwah Sunan Kalijaga yang intensif melakukan pendekatan kepada masyarakat melalui Budaya. Bahkan Sunan Kalijaga pun memodifikasi wayang, yang menurut J. L. A. Brandes merupakan kesenian asli Indonesia selain Batik, dalam metode dakwahnya. Tapi bahkan sekarang wayang juga diklaim Malaysia.

Begitulah negeri kami Indonesia. Kaya ragam budaya, tapi miskin kesadaran budaya. Semoga anak-anak kami tidak menjadi seperti pendahulunya. (Oktober, 2007)

Thursday, September 27, 2007

Tradisi Kuliner Nusantara

Tradisi. Kamus Besar Bahasa Indonesia memperkenalkannya sebagai adat kebiasaan turun temurun yang masih dijalankan dalam masyarakat. Umumnya berkaitan dengan hal-hal yang religius. Tapi tradisi tidak selamanya identik dengan ritual yang khusyuk. Tradisi juga bisa dalam bentuk segala macam kelezatan, lho!

Ini terlihat dalam tradisi aneka ragam makanan khas Nusantara. Tidak sekedar untuk mengisi perut atau mencari kelezatan semata. Tradisi kuliner khas Nusantara ternyata kaya dengan arti dan makna. Berkenaan dengan tradisi Ramadhan, beberapa daerah di Indonesia memiliki tradisi kulinernya sendiri, baik dalam menyambut atau menjadi hidangan nikmat saat berbuka.

Munggahan misalnya. Tradisi yang terkadang juga dilafalkan sebagai Punggahan ini dikenal oleh masyarakat Jawa Barat dan Jawa Tengah bagian selatan. Disebut demikian karena mereka menganggap orang yang berpuasa itu munggah atau meningkat perasaannya. Biasanya dipersiapkan sajian dengan tujuh jenis lauk-pauk seperti sambal goreng, bakmi, gudangan (urap), tempe, daging/ayam goreng, telur, dan acar. Lauk yang memiliki cita rasa beragam ini dimaksudkan untuk melambangkan manusia yang mempunyai karakter dan kesenangan yang berbeda-beda. Walau aslinya berasal dari pulau Jawa, namun seiring dengan meluasnya populasi orang Jawa di daerah lain masyarakat luar Jawa juga mengenal tradisi ini.

Khusus Yogyakarta dan Solo, Ramadhan disambut dengan sajian ‘tiga serangkai’ yang terdiri dari ketan putih, kolak, dan apem. Ketan, yang kecil-kecil ukurannya namun menjadi satu dan saling melekat, melambangkan banyaknya orang yang menjalankan puasa dan menjadi satu. Ketan juga mengandung makna mengirim doa dan pengharapan agar arwah leluhur mendapat tempat yang baik di sisi Tuhan. Sedangkan putih melambangkan niat suci untuk memasuki bulan puasa, serta sudah bersatunya pikiran dan jiwa untuk menjalankan perintahNya.

Adapun apem yang berbentuk bulat seperti payung melambangkan kebulatan tekad untuk memohon perlindungan kepada Tuhan dan permohonan maaf bagi arwah leluhur kepada Tuhan. Kata apem juga berasal dari bahasa Arab, afwun, yang artinya permintaan maaf atau ampunan.

Sementara kolak berasal dari bahasa Arab, qola. Artinya, pernyataan atau ucapan syukur akan datangnya Ramadhan dan ibadah puasa yang akan dijalankan. Selain itu, juga sebagai pernyataan ikhlas menerima tugas agama ini.

Hmm... Ternyata selama ini hidangan yang kita santap saat berbuka mempunyai maknanya. Semoga saja makna itu tidak menghilang secepat kita menyantapnya. Ada yang tahu makna makanan tradisional lain? *dari berbagai sumber* (September, 2007)

Thursday, September 6, 2007

Sejarah di Balik Nama?

Shakspeare, seorang sastrawan Inggris, pernah mengatakan: "What's in a name?" Tentu jawabnya bisa bermacam-macam. Walau bunga Mawar tetaplah wangi walau tidak tidak bernama Mawar. Jauh sebelumnya di jazirah Arabia, seorang Muhammad pernah mengatakan bahwa nama adalah doa, ada pengharapan ketika orang tua menamakan bayinya.

Tapi kita tidak bicara tentang nama yang melekat pada manusia. Lebih menarik apabila mengetahui latar belakang nama suatu wilayah. Ada proses panjang yang terjadi di sana: Baik itu proses sejarah, maupun latar belakang budaya yang melatarbelakangi pembentukan nama. Suatu proses yang tidak jarang membuat kening manusia berkernyit: Heran, takjub, atau bahkan merinding. Hingga tidak jarang sebuah nama terjadi bukan karena sebuah pengharapan, tapi lebih ke takdir. (It's a little bit debatable, isn't it?)

Seperti misalnya nama Kampung Pecah Kulit, di Jakarta Utara. Dinamakan "Pecah Kulit" karena adanya eksekusi oleh Pemerintah Hindia Belanda terhadap seorang londo yang bernama Pieter Erbeveld. Kesalahan Pieter adalah mendukung perjuangan inlander melawan VOC (Untuk jelasnya baca Adolf Heuken, Historical Sites of Jakarta). Eksekusi berjalan parah. Kedua kaki dan kedua tangan Pieter diikat di kuda, kemudian kuda-kuda tersebut berlari kencang ke empat penjuru mata angin. Maka pecahlah badan, juga kulit, Pieter. Tak hanya itu, kepalanya juga digantung untuk dijadikan monumen peringatan bagi para inlander. Sejak itu, wilayah itu dinamakan Kampung Pecah Kulit. Nama yang diambil dari pecahnya kulit Pieter Erbeveld. Oh... Seraaamm...

Ada lagi, nih. Selama ini, orang mengetahui nama Betawi berasal dari lidah penduduk pribumi yang kesulitan menyebut Batavia. Tapi ada sejarah nama lain dari Betawi, walau tidak familiar dan marjinal. Konon, tentara Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung yang mengepung Batavia saat itu kehabisan amunisi. Tak hilang akal, Sultan Agung kemudian meminta prajurit-prajuritnya mengumpulkan kotoran, alias tahi, untuk dijadikan amunisi. Setelah terkumpul banyak, tahi-tahi itu lalu dilemparkan ke dalam kota Batavia. Tentu saja "semerbak harumnya" tahi tersebut menyebar ke penjuru kota. Hingga orang-orang berteriak, "Mambu tai, Mambu tai," yang kemudian terdengar seperti Betawi.

Yah, setidaknya itulah yang diceritakan almarhum Ajatrohaedi, seorang ahli sejarah nama, yang juga guru kami tercinta. Sejarah nama itu sendiri dikenal di dunia akademisi dengan nama ilmu Toponimi. Suatu bidang ilmu yang oleh Mang Ajat dinamakan ke bahasa Indonesia: Widyaloka. Sayang, ilmu ini belum begitu berkembang di sejarah-budaya Indonesia.

Oh iya, sekedar info. Tahukah Anda kalau ternyata nama Margonda Raya, yang terbentang sedemikian panjangnya di Depok, diambil dari nama pahlawan legendaris Depok: Margonda. (Agustus, 2007)

Sunday, August 12, 2007

Sejumlah Tanya tentang Keajaiban Dunia

Sebenarnya sangat sulit untuk mendefinisikan keajaiban dunia. Apakah keajaiban dunia merupakan hasil kreasi alam, yang saking indahnya membuat manusia melihatnya sebagai keajaiban? Ataukah hasil ‘sentuhan’ manusia dari mahakarya sebuah peradaban?

Tanpa bermaksud menafikan kebesaran alam dan pencipta-Nya, lebih menarik apabila kita melihat keajaiban dunia sebagai hasil peradaban. Terutama lagi setelah organisasi bernama The New Open World Corporation menyatakan tujuh keajaiban dunia baru (The New Seven Wonders of the World), yang mencakup Chichen Itza di Meksiko, Patung Kristus Penebus di Brazil, Tembok Besar Cina, Machu Pichu di Peru, reruntuhan kota Petra di Yordania, Colloseum di Italia, Taj Mahal di India, dan Piramida Giza di Mesir. Menarik, karena ternyata tujuh keajaiban dunia baru yang dicetuskan 7 Juli 2007 ini menuai banyak kontroversi.

Adalah UNESCO yang menjadikan The New Seven Wonders of the World menjadi sebuah kontroversi. Sebagai sebuah lembaga resmi PBB yang juga bertanggung jawab akan pelestarian Benda Cagar Budaya Dunia (world heritage), UNESCO menolak dikaitkan dengan kampanye tujuh keajaiban dunia baru tersebut. Sebuah sikap yang kami anggap tepat, karena sebagai sebuah lembaga yang bertanggung jawab terhadap world heritage, UNESCO tidak dapat memprioritaskan tugasnya hanya kepada tujuh wonders baru, serta melupakan world heritage lain. Tentu saja termasuk yang ada di Indonesia, seperti Borobudur, Prambanan, dan Sangiran.

Kontroversi lain adalah kriteria new wonders yang tidak jelas. Akan terasa aneh untuk membandingkan Patung Kristus Penebus di Brazil, yang baru berusia 78 tahun dan dibuat dengan teknologi modern, dengan Tembok Besar Cina, yang didirikan antara 220 – 200 SM dan menjadi bangunan terpanjang dalam sejarah manusia walau dengan teknologi yang sederhana. Baik itu batas waktu atau teknologi yang digunakan sebagai kriteria, masih rancu untuk menyebut sesuatu sebagai wonder.

Mari kita kembali lebih jauh ke belakang, menengok sejarah awal munculnya tujuh keajaiban dunia. Mengapa harus tujuh? Sebab sang pencetus awal, Antipater Sidon, membuat tujuh daftar dalam sebuah puisi sekitar abad 140 SM. "Aku telah melihat tembok Babilonia yang agung yang di atasnya terbentang jalanan untuk kereta-kereta perang, dan patung Zeus di Alfeus, dan taman-taman gantung, dan Kolosus Matahari, dan karya besar yang membangun piramida-piramida tinggi, serta kuburan yang besar dari Mausolus; namun ketika aku melihat rumah Artemis yang menjulang ke awan-awan, yang lain itu semuanya kehilangan keindahannya, dan aku berkata, 'Tengoklah, selain Olympus, Matahari tidak pernah lagi melihat apapun yang sedemikian agung.” (Antipater, Greek Anthology IX.58).

Jadi dari sanalah tujuh keajaiban dunia berasal. Semata-mata berasal dari pendapat pribadi seorang Sidon, yang kemudian dikembangkan lebih jauh. Sekarang masyarakat mengenal banyak jenis tujuh keajaiban dunia. Pertama sebagaimana tertera dalam daftar Antipater Sidon. Satu-satunya keajaiban dunia kuno yang masih ada hingga sekarang adalah Piramid Giza. Colossus of Rhodes adalah keajaiban dunia kuno yang berumur paling pendek, hanya bertahan selama 56 tahun sebelum hancur oleh gempa bumi, sementara keberadaan Taman Gantung Babilonia, masih diperdebatkan keberadaannya.

Setelah peradaban kuno runtuh, ingatan akan keajaiban dunia kuno yang hancur perlahan menghilang. Kelompok cendekiawan meninjau ulang dan menulis kembali daftar keajaiban dunia yang dikenal sebagai tujuh keajaiban dunia pertengahan yaitu Katakombe Kom el Shoqafa, Colosseum, Tembok besar China, Hagia Sophia, Menara miring Pisa, Menara porselen Nanjing (Nanjing, Tiongkok), dan Stonehenge (Skotlandia, Britania Raya). Setelah keajaiban pertengahan, banyak orang sudah menyusun daftar Keajaiban Dunia Modern, antara lain Terowongan Channel (Britania Raya dan Perancis), Menara CN (Toronto, Kanada), Empire State Building (New York, Amerika Serikat), Jembatan Golden Gate (San Francisco, AS), Dam Itaipu (Brazil dan Paraguay), Delta Works (Belanda), dan Terusan Panama (Panama).

Tentu saja Indonesia juga memiliki wonders, misalnya Borobudur sebagai salah satu mahakarya arsitektur pada masanya. Namun sayangnya, orang sering menyebut Borobudur sebagai forgotten wonders. Keajaiban yang terlupakan, seperti halnya Angkor Wat di Kamboja.

Akan sangat bijak apabila kita tidak membatasi wonders of the world menjadi hanya tujuh. Karena ketika kita bicara wonders, tentu saja kita juga bicara kemajuan peradaban, hingga melahirkan mahakarya, baik kemegahan arsitektural ataupun keindahan estetis. Setiap peradaban, juga setiap zaman, tentu akan menghasilkan wonders-nya masing-masing. Dengan membatasinya dalam sejumlah angka prioritas hanya akan melupakan yang lain, dan ini menjadi ancaman bagi pelestariannya. (komunitas paduraksa, Juli 2007; dari berbagai sumber)