Saturday, November 22, 2008

Masjid Azizi: Berlian di Tanjungpura

Kubah

Jatuh cinta itu sudah dirasakan sejak pandangan pertama. Begitulah yang penulis rasakan ketika pertama kali melihat mesjid ini beberapa tahun lalu. Sayang kesempatan untuk mengunjunginya lagi baru terlaksanakan September lalu.

Namanya Masjid Azizi, terletak di Tanjungpura, sebuah kota kecamatan kecil yang belum melupakan kemelayuannya. Masih banyak rumah tradisional berbahan kayu dengan tangga yang berdiri dengan eloknya di kota ini. Walau tentu saja modernitas adalah sesuatu yang tak dapat di tolak. Rumah-rumah berarsitektur Melayu ini pun mesti bersaing dengan rumah modern yang angkuh.

Syahdan, Azizi dan Tanjungpura merupakan milik Kesultanan Langkat. Mesjid dibangun pada masa pemerintahan Sultan Abdul Aziz Djalil Rachmat Syah (1897-1927) dan diresmikan pada 12 Rabiulawal 1320 Hijriah atau tepatnya 13 Juni 1902. Kini nama kerajaan pendirinya diabadikan dalam nama sebuah kabupaten, Kabupaten Langkat.

Tak banyak memang yang tahu kerajaan ini. Pamornya kalah oleh Kerajaan Deli dengan Istana Maimoon-nya yang memang berlokasi di Kota Medan. Padahal Kesultanan Langkat cukup makmur dengan perkebunan karet dan cadangan minyak di Pangkalan Brandan. Kesultanan ini runtuh bersamaan dengan meletusnya Revolusi Sosial tahun 1946. Pada saat itu banyak keluarga kesultanan Langkat yang terbunuh. Namun kejayaan mereka tak hilang ditelan waktu. Mesjid Azizi masih menyimpan kenangan akan kerajaan ini.

Kenangan tersebut terlihat pada pemakaman istimewa yang berada dalam bangunan berpagar dan terbuat dari bahan seperti marmer putih. Itulah makam keluarga kesultanan. Di sampingnya terdapat pemakaman dengan nisan bermacam ragam dan berjumlah ratusan. Diantaranya tampak kuburan Amir Hamzah, penyair Indonesia dari angkatan Pujangga Baru, dengan salah satu karya terkenalnya: Nyanyi Sunyi.

Arsitektur Mesjid Azizi merupakan perpaduan corak Timur Tengah dan India. Ada lebih dari sembilan kubah kecil yang terdapat bagian atap. Ciri khas Timur Tengah dan India tersebut dikombinasikan dengan corak Melayu, Persia dan China.

Keanekaragaman itu tercermin dari ornamen-ornamen mozaik dan pualam bernuansa Timur Tengah. Sementara pengaruh Cina bisa dilihat dari menara yang menjulang di pelataran mesjid. Hal serupa juga ditemukan pada bagian pintu dengan ukir-ukiran khas Cina mirip yang terdapat di kelenteng. Bangunan utama Masjid Azizi merupakan perpaduan arsitektur bercorak Timur Tengah dan India yang megah dengan banyaknya kubah. Ada lebih dari sembilan kubah kecil yang terdapat pada atapnya.


Azizi adalah mesjid yang kaya. Bukan karena biaya pembangunannya mencapai angka 200.000 ringgit. Kekayaannya tampak dari arsitektur dengan banyak ciri dan tradisi. Kekayaan ciri itulah yang menjadikan Azizi indah dipandang. Mesjid ini bahkan lebih indah dari istana sang sultan sendiri. Tak salah jika Azizi dianggap Berlian dari Tanjungpura. (nisya)

Saturday, May 17, 2008

May Day

Sebuah peradaban besar dunia seringkali ditandai dengan adanya suatu bangunan adikarya yang menjadi masterpiece. Banyak orang menyebutnya sebagai keajaiban dunia atau wonders. Tapi seringkali wonders tersebut identik dengan raja, penguasa, dan dinasti pembuatnya. Dan melupakan jutaan buruh yang membangunnya: Yang rata-rata berusia hanya hingga 30 tahun, atau mungkin bekerja sepanjang hari dan malam tanpa upah, dengan status budak.

Mesir Kuno memiliki Piramid. Salah satunya merupakan piramid agung di Giza, yang dibangun sekitar 5000 tahun yang lalu. Konon piramid ini bisa terlihat dari bulan. Selain memiliki fisik mengagumkan, piramid Giza juga membuat kagum para ahli arkeologi karena akurasi ordinasinya yang mengacu pada rasi bintang Orion. Juga karena kerumitan bentuk ruang di dalamnya, dengan banyak ruang rahasia dan diindikasi penuh harta karun. Walau demikian, Piramid tetap identik dengan Pharaoh (Firaun), dan terlupakan pula jasa jutaan buruh yang membangunnya selama tiga dasawarsa.

China memiliki Tembok Besar yang membentang sepanjang 6.700 kilometer. Tembok yang katanya bisa dilihat dari bulan tersebut dibangun sebagai pertahanan terhadap musuh yang datang dari utara. Tembok ini dibangun oleh beberapa dinasti dari sekitar abad 5 SM hingga abad ke 16. Tapi yang dikenang adalah Kaisar Qin Shihuang sebagai pemrakarsa dalam pembangunan tembok secara masif pada 220 SM. Maka terlupakanlah jasa 2 hingga 3 juta buruh yang mati dalam pembangunannya.

Hal ini mencetuskan pertanyaan menarik: Ketika peran buruh sering terlupakan, apakah peradaban merupakan manifestasi ego penguasa? Apakah peradaban adalah wujud dari megalomaniak seorang raja yang ingin memperlihatkan kebesarannya? Atau mungkin sekedar membuat bangunan indah untuk mendiang istrinya?

Namun kemudian sejarah mencatat bahwa para buruh melakukan perlawanan ketika peran mereka terlupakan. Para buruh menolak untuk bekerja selama 19 – 20 jam perhari dengan upah yang sangat minim.

Kemudian pada tanggal 1 Mei 1886 sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat mengadakan demo besar-besaran selama empat hari di Chicago. Demo itu kemudian berujung pada penangkapan dan penembakan terhadap para aktifis buruh, yang kemudian dikenal sebagai insiden Haymarket. Untuk memperingati insiden Haymarket, para buruh kemudian menjadikan 1 Mei sebagai Hari Buruh International, yang lebih populer disebut May Day.

Mungkin May Day merupakan sebuah momentum yang mengingatkan manusia. Bahwa peradaban (yang dibangun dari cipta, rasa, dan karsa manusia) idealnya menghargai setiap lapisan masyarakat. Peradaban bukanlah manifestasi individualisme sekelompok manusia untuk mengeksploitasi manusia yang lain. Walau sejarah pernah mencatat bahwa eksploitasi dan ekspansi pernah menjadi bagian dari peradaban di masa lalu, bukan sebuah dosa untuk berharap terciptanya peradaban masa depan yang lebih baik. (BG)

Monday, April 14, 2008

Memaknai Kecantikan Tuhan

Pengantar

Aroma feminin begitu terasa setiap memasuki bulan April, terutama di pertengahan. Mengapa? Mungkin karena sejarah kelahiran satu nama, yang kelak dianggap berjasa bagi pergerakan kaum perempuan Indonesia: Kartini.

Kartini adalah sosok yang resah pada masanya. Status sosial dan penderitaan bangsanya akibat dijajah, membuatnya tidak merasa nyaman. Namun, hal yang paling membuatnya resah adalah statusnya sebagai perempuan. Bukan karena ia menyesal karena dilahirkan sebagai perempuan. Tetapi, lebih karena ia merasa sulit untuk menyatakan pendapat, juga mewujudkan impiannya untuk melanjutkan pendidikan, hanya karena ia perempuan.

Menjadi perempuan. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Secara primordial, manusia juga mengakui itu. Bahkan, manusia merasa takjub dengan peran yang dijalankan perempuan: sebagai rahim kehidupan, yang melahirkan sebuah generasi. Sebuah ketakjuban yang membuat mereka menggambarkan salah satu bentuk Tuhan dalam figur perempuan, yang dikenal dengan nama Mother Goddess.

Bagaimana pun juga, secara alamiah, perempuan memiliki peran besar dalam kehidupan: Sebagai seorang ibu, yang melahirkan dan membesarkan calon penerus negeri. Kesadaran itulah yang menjadikan kami mengangkatnya dalam tema Tinulad edisi April.


Tuhan itu Cantik

“If God had a name, what would it be and would you call it to His face…”
(Joan Osborne dalam One Of Us)

Perbincangan tentang Tuhan adalah hal yang sulit. Hal ini tidak hanya disebabkan akan melibatkan masalah teologi semata. Ketika melakukan perbincangan tentang Tuhan, kita akan terlibat dalam dimensi yang jauh lebih luas dan mendalam: Pada sebuah pencarian manusia yang sangat panjang, sebuah pencarian akan hakikat.

Perkenalan manusia terhadap dunia ‘di luar’ mereka telah terekam dalam bukti-bukti arkeologi sejak masa Paleolitik, atau sekitar 20.000 – 30.000 tahun yang lalu. Hal tersebut ditandai dengan adanya berbagai peninggalan yang menyiratkan adanya kepercayaan terhadap kekuatan Sang Segala Maha. Peninggalan tersebut antara lain berupa punden berundak, lukisan gua (rock art), dan kubur batu beserta bekal kubur yang menyertainya.

Dari peninggalan-peninggalan tersebut, para ahli dari berbagai ilmu sosial-budaya kemudian mengetahui beberapa konsep kepercayaan yang dimiliki manusia sejak masa prasejarah: Antara lain adalah adanya konsep “hidup sesudah mati (life after death)”, “dunia lain”, dan kepercayaan supranatural lainnya. Namun, bisa jadi hal paling menarik untuk diperhatikan adalah sebuah konsep manusia akan Tuhan. Juga tentang bagaimana mereka berusaha untuk menggambarkan kepercayaan mereka yang abstrak akan Tuhan, ke dalam sebuah bentuk konkret.

Bagaimanakah bentuk Tuhan? Pertanyaan itulah yang berusaha dijawab manusia sejak ribuan tahun silam, namun tetap relevan hingga sekarang. Manusia kemudian berusaha untuk mendefinisikan realitas tertinggi tersebut ke dalam berbagai macam bentuk dan figur. Tentu saja, beberapa penggambaran bentuk Tuhan didefinisikan sejauh nalar yang dimiliki manusia. Sehingga, sering kali terdapat penggambaran Tuhan secara antropomorfis, dengan bentuk layaknya manusia.

Di setiap kebudayaan, penggambaran Tuhan secara antropomorfis merupakan hal yang sering ditemui. Seperti misalnya penggambaran Tuhan yang termanifestasi dalam bentuk arca-arca persembahan. Tuhan digambarkan memiliki bentuk dan indera layaknya manusia. Bahkan, dalam kebudayaan yang tidak memanifestasikan Tuhan dalam bentuk arca persembahan, seperti Islam misalnya, penggambaran Tuhan secara antropomorfis tetap ditemukan. Seperti misalnya konsep kerinduan untuk menatap wajah Tuhan, wajah yang mampu ‘ditangkap’ nalar manusia merupakan wajah seperti layaknya yang dimiliki manusia.

Lalu bagaimana dengan Tuhan dalam figur perempuan? Hal ini sempat menjadi kontroversi ketika dalam film Dogma (1999), Tuhan digambarkan adalah seorang perempuan, yang diperankan oleh Alanis Morisette. Padahal, sejak ribuan tahun sebelumnya penggambaran Tuhan dalam figur perempuan sering ditemui dalam berbagai kebudayaan di dunia. Sebuah konsep yang dikenal dengan nama Mother Goddess, bukti bahwa manusia juga memiliki konsep Tuhan dalam figur perempuan. Sebuah konsep yang juga hadir sebagai bagian dari penggambaran antropomorfis manusia akan Tuhan.

Perempuan Sebagai Rahim Kehidupan

Mother Goddess (Dewi Ibu) merupakan identifikasi umum untuk penggambaran Tuhan dalam figur perempuan. Umumnya, Mother Goddess juga sering disebut dengan Mother Earth, yang sering dikaitkan sebagai dewi kesuburan. Konsep penggambaran Tuhan yang dikaitkan dengan kesuburan ini merupakan konsep yang telah dikenal manusia sejak masa Paleolitik, bahkan ditemukan di beberapa belahan dunia.

Temuan arkeologi yang paling terkenal yang menggambarkan Mother Goddess adalah “Venus of Willendorf”. Arca ini ditemukan di Willendorf, Austria, dan berasal dari masa Paleolitik, sekitar tahun 30.000 – 20.000 SM. Bentuknya menyerupai seorang perempuan, yang terlihat dari payudara dan perut yang menonjol seperti sedang hamil. Bentuknya menyerupai seorang perempuan dengan payudara dan perut yang menonjol seperti sedang hamil. Karena bentuknya itulah figur ini sering diidentifikasi sebagai dewi kesuburan. Karena seperti yang kita ketahui perempuan juga merupakan seorang ibu, sebagai makhluk yang melahirkan.

Selain “Venus of Willendorf”, terdapat pula temuan-temuan figur perempuan dari masa prasejarah yang juga diidentifikasi sebagai Mother Goddess. Antara lain figur-figur yang ditemukan di Lespugue dan Lausell, Prancis; dan tepian sungai Nil, Mesir. Bentuknya hampir sama dengan yang ditemukan di Willendorf, sehingga juga dikaitkan dengan kesuburan. Namun tidak semua temuan dengan bentuk tersebut memiliki arti dan makna yang sama. Bisa jadi figur-figur tadi tidak memiliki makna ketuhanan dan diidentifikasi sebagai dewi kesuburan, melainkan hanya sebagai hiasan atau mainan.

Pada masa selanjutnya, konsep-konsep ketuhanan dalam bentuk perempuan tetap banyak yang dikaitkan dengan kelahiran dan kesuburan. Konsep yang kemungkinan telah dikenal sejak masa prasejarah ini, semakin bervariasi dikenal di banyak belahan dunia.

Kebudayaan Yunani mengenal Gaea, sebagai Ibu Bumi yang kelak melahirkan dewa-dewi dan kehidupan di bumi; Kebudayaan Babylonia dan Asyria mengenal Ishtar sebagai dewi kesuburan; Amaterasu dipercaya sebagai dewi matahari yang melahirkan keluarga kaisar yang berkuasa di Jepang. Selain itu, masih banyak lagi penggambaran figur perempuan yang dikaitkan dengan dewi yang berkaitan dengan kesuburan dan kelahiran. Hal itu memperlihatkan bahwa konsep Tuhan sebagai pencipta sering pula dikaitkan dengan perempuan yang merupakan rahim dari awal kehidupan manusia.

The Power-Within

Pada awalnya, memang figur dewi perempuan sering diidentikkan dengan dewi yang berkaitan dengan kelahiran dan kesuburan. Akan tetapi, pada pada perkembangan berikutnya banyak ditemukan dewi perempuan yang dilengkapi dengan atribut lain selain kesuburan dan kelahiran. Umumnya, figur-figur dewi perempuan di berbagai kebudayaan memiliki atribut yang memiliki sifat feminin sebagaimana layaknya perempuan: Seperti dewi cinta, dewi kecantikan, dan dewi kesenian.

Selain itu, figur-figur dewi perempuan juga sering digambarkan sebagai sosok yang memiliki kekuatan. Seperti misalnya Athena, dewi kebijaksanaan yang dikenal di kebudayaan Romawi. Walau sebagai dewi kebijaksanaan, figurnya lebih menyerupai dewi perang. Hal ini terlihat dari penggambaran Athena: dengan baju perang, lengkap dengan perisainya. Namun bukan berarti Athena merupakan sosok yang identik dengan kekerasan. Athena dikenal juga sebagai dewi kedamaian dan dewi keadilan. Oleh masyarakat Yunani, Athena dianggap sebagai pelindung kehidupan yang beradab (civilized life).

Kebudayaan Hindu mengenal Durga sebagai figur perempuan yang dilengkapi dengan atribut kekuatan. Sosok Durga digambarkan bertangan banyak, dengan beraneka macam senjata di genggaman. Masing-masing senjata merupakan pemberian setiap dewa dalam pertarungan Durga melawan Mahisasura, yang berwujud kerbau. Hal itu dilakukan para dewa karena mereka tidak sanggup mengalahkan Mahisasura, dan hanya Durga yang mampu mengalahkannya. Durga merupakan aspek krodha (dahsyat; menakutkan) dari istri (sakti) Siva. Adapun aspek santa (tenang) dari sakti Siva lebih dikenal dengan nama Parvati atau Uma.

Selain Athena dan Durga, masih banyak figur perempuan yang juga memiliki atribut kekuatan. Seperti misalnya Freya (dewi perang sekaligus dewi cinta yang dipercaya oleh bangsa Viking di Eropa Utara) dan Ishtar (dewi perang dan cinta bangsa Babylonia dan Assyria). Hal itu seolah-olah menepis kesan perempuan sebagai sosok yang lemah. Menariknya, justru kekuatan itu semakin bersinergi dengan kelembutan dan kebijaksanaan, yang merupakan sifat feminin dan secara alamiah dimiliki perempuan.

Konsep Keseimbangan

Melihat begitu banyaknya unsur feminin pada sejarah manusia dalam usahanya menggambarkan Tuhan, banyak yang bertanya-tanya: Mengapa sekarang terdapat kecenderungan aspek ketuhanan yang patriarki, yang didominasi oleh figur laki-laki. Walaupun mungkin pada kenyataannya Tuhan bukanlah laki-laki atau perempuan.

Namun sebenarnya, terdapat pula konsep keseimbangan dalam hal ketuhanan yang berusaha dijelaskan oleh beberapa kebudayaan. Misalnya seperti konsep sakti dalam kebudayaan Hindu. Sakti adalah energi atau kekuatan yang dimiliki setiap dewa, yang juga dianggap sebagai penggerak para dewa. Ada juga yang mengatakan bahwa sakti adalah energi feminin, sehingga dalam penggambarannya sakti itu berwujud istri. Sebuah wujud yang merupakan pendamping para dewa dalam menjalankan ‘tugasnya’ untuk menciptakan dan melangsungkan alam semesta.

Selalu ada perempuan hebat di balik lelaki hebat. Mungkin itulah makna dari konsep sakti. Karena itu Wisnu ditemani Laksmi, Brahma ditemani Sarasvati, dan Siva ditemani Parvati dalam menjalankan ‘tugasnya’.

Konsep keseimbangan juga terdapat pada kebudayaan yang tidak memanifestasikan Tuhan dalam wujud konkret, dalam hal ini adalah kebudayaan Islam. Walau tidak memiliki wujud konkret, namun konsep keseimbangan gender dalam hal ketuhanan yang dikenal Islam terdapat pada sifat-sifat Tuhan yang terdapat di nama-namaNya (Asmaul Husna). Mengutip Ibnu Arabi, Sachiko Murata (1992), seorang ahli di bidang perbandingan agama, dalam buku Tao Of Islam melihat bahwa ada sifat feminin di nama-nama seperti Al Quddus (suci), dan Ar Rahiim (penyayang); juga sifat maskulin di nama-nama seperti Al Aziz (perkasa) dan Al Jabbar (penguasa).

Sebuah Harmoni

Walau demikian banyak aspek ketuhanan yang berusaha untuk dimanifestasikan oleh beberapa kebudayaan dalam figur perempuan, tidak berarti merendahkan sifat maskulin dari ketuhanan. Begitu pula sebaliknya, ketika aspek ketuhanan itu lebih banyak dimanifestasikan dalam figur laki-laki, tidak menjadikan sifat feminin dari ketuhanan menjadi direndahkan. Justru sebenarnya manusia berusaha memperlihatkan bahwa ada sifat maskulin dan sifat feminin dalam aspek ketuhanan. Sebuah konsep keseimbangan yang telah disampaikan sejak masa Paleolitik, bahkan mungkin hingga masa Posmodernisme seperti sekarang.

E. O. James (1950), seorang ahli di bidang sejarah dan filsafat agama, dalam buku The Concept Of Deity mengatakan bahwa keseimbangan gender dalam aspek ketuhanan disimbolkan bagaikan langit dan bumi. Langit (sky-god) merupakan simbol Tuhan yang disembah dan berkuasa. Sedangkan, Bumi (earth-mother) merupakan simbol Tuhan yang memelihara dan menjaga.

Pendapat sama juga pernah dikemukakan Rumi, yang pernah dikutip Erich Fromm (1956) dalam buku The Art of Loving. Bahwa dalam pandangan orang-orang bijak, langit adalah laki-laki dan bumi adalah perempuan. Bumi memupuk apa yang telah dijatuhkan oleh langit. Jika bumi kekurangan panas, maka langit mengirimkan panas kepadanya. Jika bumi kehilangan kesegaran dan kelembaban, langit segera memulihkannya. Langit memayungi bumi layaknya seorang suami yang menafkahi istrinya; dan Bumi pun sibuk dengan urusan rumah tangga: ia melahirkan dan menyusui segala yang telah ia lahirkan.

Indah sekali, bukan?! Walaupun banyak cara yang dilakukan manusia dalam menggambarkan Tuhan, bagaimana pun juga Tuhan adalah sebuah keseimbangan dan kesempurnaan. Sebuah harmoni yang menjadikan dunia terus berputar, hingga Ia berkehendak untuk menghentikannya suatu saat (Bayu Galih/Rusyanti/Khairun Nisa, April 2008).

Sunday, March 30, 2008

Arkeolog dalam Fiksi

Dunia arkeologi yang dalam kehidupan nyata sering dianggap memiliki madesu (alias Masa Depan Suram) ternyata bisa disulap menjadi seksi dan mendebarkan di tangan para penulis. Sebutlah beberapa judul yang mengangkat tema penelitian masa lalu ini seperti: Indiana Jones, National Treasure, sampai Jurassic Park, mereka laris ditonton oleh jutaan umat manusia di seluruh dunia. Thanks to Holywood, masyarakat bisa memiliki pandangan baru terhadap profesi suram ini. Jadi, bagaimana kalau kita sedikit berkenalan dengan sebagian dari arkeolog fiktif tersebut?

Indiana Jones

Indiana Jones merupakan tokoh fiksi yang paling “bertanggung jawab” atas persepsi masyarakat modern tentang arkeologi: Perburuan harta karun. Harap maklum, mengingat film garapan Spielberg yang diproduseri Goerge Lucas ini begitu sukses mendulang penonton (dan dollar) dalam periode 80-an. Walau begitu, Dr. Jones tetap berburu harta karun dalam bingkai ilmu pengetahuan. Tentu saja, mengingat statusnya sebagai seorang profesor di bidang arkeologi.

Bernama lengkap Dr. Henry Walden Jones Jr., tetapi lebih memilih untuk dipanggil Indiana yang merupakan nama anjing peliharaannya sejak kecil, daripada panggilan yang diberikan sang ayah: Junior. Telah melakukan berbagai petualangan sejak kecil selagi mengikuti tugas dinas sang ayah yang juga seorang arkeolog.

Nurani seorang arkeolognya sudah muncul sejak masa sekolah. Dalam The Last Crusade, diceritakan bagaimana pandu muda ini berusaha menyelamatkan Salib Coronado dari tangan pemburu harta karun, untuk ditempatkan di museum. Dengan tali cambuk dan topinya yang khas, Indi merupakan ikon seorang petualang sejati. Namun ia tetap digambarkan punya kelemahan: fobia terhadap ular.

Indiana Jones pertama kali muncul dalam trilogi petualangannya yang terkenal: Raiders of The Lost Ark, Indiana Jones and the Temple of the Doom, dan Indiana Jones and The Last Crusade. Dalam ketiga film tersebut, peran Indi begitu lekat dengan nama Harisson Ford. Menyusul kesuksesan film, muncul pula serial televisinya, The Young Indiana Jones Chronicles pada tahun 1992 hingga 1996. Adapun peran tersebut dimainkan tiga orang berbeda: Sean Patrick Flanery (Indi usia 17 tahun), George Hall (93 tahun), dan Corey Carrier (10 tahun).

Lara Croft

Terlahir dari keluarga bangsawan, putri dari Lord Henshingly Croft, Lara merupakan seorang antiquarian yang selalu terlibat berbagai petualangan seru. Apalagi kalau bukan berburu harta karun. Walau demikian, hal itu tidak menjadikan Lara menjadi karakter yang liar. Ia tetap memiliki karakter yang kuat sebagai seorang bangsawan.

Perkenalan Lara terhadap alam bebas dan berbagai petualangan dimulai sejak masa sekolahnya di Gordonstoun. Di sanalah ia menemukan cintanya pada alam bebas, pada pegunungan di Skotlandia. Kemudian berlanjut saat ia melanjutkan kuliah di Swiss, terutama saat ia mulai kenal dengan berbagai extreme sports. Dan, persahabatannya dengan alam jua yang membuat ia bertahan ketika pesawat yang ditumpanginya jatuh di Himalaya.

Di rumah besarnya di Surrey, Inggris, Lara merasa terkungkung dalam lingkungan aristokrasi. Hanya petualangan yang membuat Lara merasa ‘hidup’. Saat itu juga dia sadar bahwa rumahnya cukup luas untuk menampung berbagai artefak. Itulah yang membuat Lara memulai petualangannya sebagai seorang Tomb Raider.

Tomb Raider merupakan video game laris yang membesarkan nama Lara Croft. Jagoan hasil rekaan Toby Gard ini menjadi ratu dunia game sejak debutnya pada 1996. Kini hasil rekaan itu telah muncul dalam film, dan telah melekat dengan nama Angelina Jolie.

Taichi Hiraga-Keaton

Taichi Hiraga-Keaton merupakan seorang arkeolog yang lahir dari ayah seorang ahli zoology dari Jepang dan ibu seorang bangsawan Inggris. Sejak perceraian orangtuanya, Keaton mengikuti sang ibu dan menjadi warga negara Inggris. Beranjak dewasa, Keaton melanjutkan kuliahnya di jurusan Arkeologi, Oxford University.

Lulus dari Oxford, Keaton kemudian memulai karir militernya di SAS, sebuah pasukan khusus Inggris. Berbekal kemampuan militernya di SAS, juga kemampuan analisis dan pengetahuannya sebagai seorang arkeolog, Keaton kemudian bekerja sebagai penyelidik asuransi di Lloyd’s of London. Namun ia juga masih menjadi pengajar arkeologi di berbagai universitas. Sebagai seorang arkeolog, ia punya impian: ekskavasi di tepi sungai Danube dan membuktikan teori kalau kebudayaan Eropa berawal dari tepi sungai Danube.

Master Keaton merupakan manga (komik Jepang) hasil rekaan Hokusei Katsushika dengan ilustrasi Naoki Urasawa yang berkisah tentang petualang Keaton sebagai penyelidik asuransi. Dibuat pada 1988 hingga 1994, Master Keaton menuai sukses dan menginspirasi anak-anak Jepang untuk mendalami Arkeologi. Kesuksesan itu membuat Keaton juga muncul dalam format DVD dalam bahasa Inggris untuk pasar Amerika Serikat.

Adapun yang membuat Keaton berbeda dengan Lara atau Indi adalah sosoknya yang lebih humanis. Keaton digambarkan sebagai manusia biasa, yang bercerai dengan istrinya dan terpaksa meninggalkan putrinya di Jepang demi pekerjaan yang memaksa ia berkeliling dunia. Walau cerita tidak sedahsyat Tomb Raider, Master Keaton merupakan kisah yang kaya dengan pengetahuan budaya.

Dengan latar dan kepribadian yang berbeda, para arkeolog fiktif di atas berhasil mengubah pandangan orang mengenai profesi yang mereka wakili. Walau perlu juga diingat apa yang ada di dunia nyata mungkin tak semendebarkan yang terangkai dalam fiksi. Namun bagi para penggilanya, pekerjaan yang paling membosankan sekalipun bisa jadi jauh lebih memicu adrenalin ketimbang bungee jumping di ketinggian Niagara. Akankah Indonesia memiliki detektif masa lalunya sendiri? Kita lihat saja... (Tim redaksi Tinulad)

Archaeology: The Unfinished “Work”

Apa yang ada di kepala kita ketika mendengar kata “arkeologi"? Jawabannya berbeda-beda. Arkeologi adalah: fosil, dinosaurus, penggalian, Indiana Jones, peneliti, dan ilmuwan. Kutipan dibawah ini mungkin cukup mewakili paradigma yang sering kali direpresentasikan oleh masyarakat populer dewasa ini.

“Archaeology is partly the discovery of the treasures of the past, partly the meticulous work of the Scientific analyst, partly the exercise of the creative imagination..”
(Bahn, 1996:11)

Dengan kemajuan teknologi yang pesat dewasa ini, pernyataan diatas dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk visual yang mengagumkan oleh tangan-tangan creationist. Yup! Lihatlah perburuan harta karun yang menegangkan di situs Angkor Wat oleh jagoan perempuan bernama Lara Croft dengan latar belakang dunia arkeologi. Penelitian untuk memecahkan serangkaian teka-teki rumit dalam bentuk novel detektif karya Agatha Christie yang terinspirasi oleh suaminya yang juga arkeolog. Simak juga film fiksi karya Steven Spielberg yang fenomenal, sebuah karya imajinasi kreatif di luar batas nalar: Jurassic Park. Inilah bungkusan arkeologi dalam dunia konsumsi di era nanoteknologi. Disadari atau tidak, karya-karya ini cukup mempopulerkan dunia arkeologi kepada masyarakat umum, terutama bagi para pelajar yang ingin meneruskan studinya ke tingkat yang lebih tinggi.

Di Indonesia sendiri "arkeologi" bukanlah hal yang populer. Gaungnya tidak selaris "ekonomi". Secara institusional hanya ada 4 universitas yang menggodok calon-calon arkeolog. Keempat universitas ini adalah UI, UGM, UDAYANA, dan UNHAS. Di UI sendiri animonya masih cukup bagus. Rata-rata daya tampung untuk tiap tahunnya sekitar 20-40 kursi. Menurut Irmawati Johan, Sekjur Arkeologi-UI, motif para mahasiswa baru terhadap arkeologi bervariasi dari mulai kesadaran penuh menggapai cita-cita, terinspirasi berbagai film dan buku, hingga yang merasa terjebak dan pada akhirnya tertawan akan nama besar UI. Namun ada pula mahasiswa yang benar-benar menemukan dirinya setelah ia mengenal ilmu ini secara lebih mendalam.

Calon-calon arkeolog muda ini tentunya akan menghadapi berbagai tantangan yang besar ketika mereka pada akhirnya harus berhadapan dengan realita yang ada di luar. Jangan terlalu berharap akan menemukan petualangan spektakuler seperti yang digambarkan dalam layar lebar atau sedramatis novel, karena yang terlihat dibalik layar belum tentu sama dengan kenyataannya.

Tergusurnya situs-situs arkeologi baik yang sekarang terjadi dan dimasa yang akan datang merupakan konsekuensi logis dari pertumbuhan ekonomi dan penguasaan kapital. oleh karena itu perjuangan kita seringkali akan berbenturan dengan penguasa dan kepentingan kelompok tertentu. Selain itu, jumlah situs-situs yang pastinya meningkat tiap 50 tahunnya, memerlukan penanganan yang menyeluruh dan menuntut peningkatan kompetensi tiap individunya dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin cepat.

Untuk menghadapi tantangan ini dalam metode pengajarannya, jurusan arkeologi UI menerapkan sistem PBL (Problem Based Learning) yang berorientasi pada mahasiswa sebagai objek (Student Centered). Sistem ini menuntut mahasiswanya untuk berpartisipasi aktif dan kritis. Sedangkan dosen sendiri lebih bersifat fasilitator. Pada penerapannya, memang masih banyak ditemukan adanya kekurangan terutama pada masalah fasilitas yang menunjang perkuliahan. Walau begitu pengajar menginginkan agar mahasiswanya mampu bersaing dengan dunia luar untuk memajukan arkeologi di Indonesia. Keterbatasan hendaknya tidak dijadikan hambatan untuk terus maju. Tidak ada cara lain bagi kita selain giat belajar dan berusaha meraih segala peluang yang ada dengan penuh tanggung jawab.

Sebagai ilmu yang tidak terlalu populer di Indonesia, bidang karir untuk dunia inipun tidak banyak, ditambah lagi dengan jumlah angkatan pencari kerja yang berjumlah 40 juta lebih, menjadikan persaingan semakin sulit. Banyak ahli-ahli budaya yang berkarir di bidang lain dan sebaliknya. Peluang sebenarnya tetap ada. Banyak Balai-balai arkeologi, Suaka purbakala maupun museum-museum yang tersebar di seluruh Indonesia. Yang diperlukan sekarang adalah keberanian untuk out of Java dan pembenahan manajemen sumber daya budaya kearah yang lebih baik. The right man in the right place nampaknya sulit di terapkan di Indonesia.

Tapi di balik segala masalah yang pelik ini, gemerlapnya layar hiburan yang membius para treasures seeker, menumpuknya angkatan pencari kerja, angkuhnya tembok-tembok penguasa dan budak kapital penjual aset-aset bangsa.... Lebih dari sekedar produk konsumsi, Arkeologi mengusung nilai yang lebih penting lagi yaitu sebuah proyek idealis yang menuntut tanggung jawab bersama demi kemanusiaan dan identitas bangsa yang mau tidak mau harus diteruskan kepada generasi penerus dan pelurus bangsa yang tidak hanya “mentok” pada batasan-batasan karir semata. Seperti halnya yang dinyatakan oleh Calne:

“Keselamatan kita, sebagai hewan sosial, tergantung pada kemampuan kita berbicara dan mengerti, dan keampuhan kebudayaan moderen berasal dari terciptanya tulisan barang lima ribu tahun yang lalu. Semua peradaban besar di dunia ini sekarang dibangun diatas dasar manfaat tulisan dan bacaan. Dan jauh sebelum itu... apa yang kita tahu mengenai sejarah pratulis adalah berkat arkeologi...”
(Calne, 2005: 38&84)

Untuk menjawab tantangan ini, dewasa ini banyak sekali komunitas-komunitas pencinta budaya di Indonesia dengan berbagai visi dan misi. Selain sebagai sarana berkreasi, dan mengintelektualisasikan diri,...komunitas ini mampu memperlihatkan eksistensinya ditengah arus globalisasi ekonomi yang semakin gencar. Lihatlah kreatifitas kelompok yang terkenal dengan Dagadu atau Joger-nya. Dengan tetap mengusung tema pelestarian budaya, kelompok-kelompok ini mampu menghasilkan keuntungan dan nama besar, sekaligus membuka peluang kerja.

Indonesia adalah negeri yang kaya. Negeri ini menyimpan banyak potensi baik propinsi, suku-bangsa, bahasa, adat-istiadat, macam kuliner, dan lain-lain yang tersebar di 276.000 pulau dengan kandungan potensi arkeologi yang belum tergali. Itu merupakan aset yang sangat berharga. Siapa lagi yang akan memberdayakannya selain kita sebagai generasi penerus bangsa?

Jadi sebenarnya, Archaeology is a dynamically expanding subject. Calne mengingatkan kita bahwa, lebih dari romantisme akan kenangan masa lalu, arkeologi merupakan dasar dari terbentuknya peradaban moderen sekarang ini. Arkeologi memberi kita “harta karun” agar belajar dari sejarah untuk masa depan yang lebih baik.

Peluang karir yang sesuai mungkin terbatas di dunia nyata, tapi tidak dalam imajinasi

Lihatlah biografi JFK, Sukarno, Bill Gates, Sayyid Quthb. Mereka semua adalah pengkhayal. Imajinasi merupakan tulang punggung penyangga kreativitas dan sebagian dari potensi ledakan kepahlawanan (Annis Matta) kita. Kecintaan kita pada Arkeologi dapat ditransformasikan dalam berbagai bentuk dan kreasi. Jadilah aktif, kritis dan kompeten. Teruslah berkarya dan ingat:

“Everything that You Can Imagine Is Real”
(Albert Einstein)

(Rusyanti)