Monday, February 18, 2008

Laksamana Cheng Ho

Cheng Ho merupakan sebuah sosok yang memiliki banyak sekali nama. Beberapa ada yang menyebutnya Zheng He, Sam Po Kong, Sam Po Toa Lang, Sam Po Thay Jien, Sam Po Thay Kam, dan sebuah nama lagi disebutkan dalam sebuah berita Ming Shi (Sejarah dinasti Ming), bahwa “Zheng He berasal dari Propinsi Yunnan, dikenal sebagai Kasim San Bao”. Tokoh ini kurang diperhatikan pada masa feodal Cina di masa lalu karena dia adalah seorang kasim, dan kasim tidak dihargai di Cina pada masa itu.

Cheng Ho berasal dari suku Hui yang anggota sukunya banyak yang memeluk Islam, termasuk ayah dan kakeknya. Beberapa ahli ada yang menyatakan keluarga ini sebagai keturunan Nabi Muhammad, tetapi tak sedikit pula yang menentang. Cheng Ho hidup sejak 1371-1433 M, dan selama masa hidupnya dia sudah memimpin armada pelayaran selama 28 tahun dengan 7 kali pelayaran berturut-turut untuk mengunjungi banyak negara, baik di Asia maupun Afrika.

Dalam tujuh pelayarannya tersebut, dia mampir ke Sumatera sebanyak 7 kali dan ke Jawa sebanyak 6 kali karena dia tidak singgah ke pulau ini pada pelayarannya yang ke-enam. Akan tetapi di Jawa ada sebuah bangunan yang dibuat untuk mengenang Cheng Ho, yaitu Klenteng Sam Po Kong di Semarang.

Menurut cerita, pada pertengahan abad 15 Cheng Ho berlabuh di Simongan, Semarang, karena pembantunya, Wang Jing-hong, sakit. Untuk menjaga kesehatannya Cheng Ho memerintahkan Wang beserta 10 awak kapal menetap sementara di Semarang, sementara ia dan awak lain meneruskan perjalanan. Dengan segera Wang menjadi betah dan memutuskan menetap.

Keputusannya ini membawa banyak perubahan bagi daerah tersebut. Karena kemudian, ia dan 10 awak lain bercocok tanam, membuat rumah, menikah dengan wanita setempat, dan berdagang dengan menggunakan satu kapal yang ditinggalkan Cheng Ho, serta menyebarkan agama Islam. Lama kelamaan daerah tersebut menjadi ramai dan berkembang pesat. Untuk mengenang jasa Cheng Ho ia membuatkan sebuah patung yang kemudian dipuja oleh masyarakat setempat setiap tanggal 1 dan 15 bulan Imlek. Selanjutnya dibangun juga sebuah klenteng di tempat tersebut yang dikenal dengan nama Klenteng Sam Po Kong.

Setelah Cheng Ho meninggal, banyak orang yang berselisih paham mengenai letak makamnya. Sebagian mengatakan berada di Semarang, sebagian lain yakin makam tersebut ada di Gun Ming, Yunan. Sementara keturunannya sendiri berpendapat makam moyang mereka tersebut terletak di Nanjing.

Akan tetapi, kebanyakan masyarakat berpendapat bahwa Cheng Ho cukup berjasa bagi dunia. Karena selain menyebarkan Islam, dia juga memperbanyak pengetahuan mengenai laut Pasifik dan Hindia, membuat 24 peta navigasi, menghalau bajak laut yang dapat menghambat perdagangan, dan membuka jalan untuk pertukaran kebudayaan. (nisa)

Dikutip dari Sam Po Kong dan Indonesia karya Kong Yuan Zhi)

Tuesday, February 12, 2008

Witing Tresno

Prakata

Februari. Bulan kedua dalam penanggalan surya ini sering dianggap sebagai bulan penuh cinta. Love is in the air. Setidaknya demikianlah anggapan sebagian besar masyarakat dunia, terinspirasi dari kebudayaan Romawi yang merupakan salah satu kebudayaan besar dunia.

Akan tetapi tulisan ini tidak akan membahas perayaan yang hanya dalam satu hari dapat membuat dunia bernuansa merah jambu. Alasannya? Bukan karena adanya pro – kontra perayaan Valentine’s Day yang sering dilandasi alasan ideologi, juga teologi. Tetapi karena ada hal menarik lain yang merupakan substansi dari perayaan itu, yang tentunya bersifat sangat universal: Cinta.

Bicara cinta, tentu saja akan terbayang sesuatu yang mellow-jello atau bahkan roman-picisan. Seperti halnya yang ditulis Plato dalam Symposium tentang soulmate: dua jiwa yang dipisah, kemudian apabila dipertemukan akan terasa… sempurna. Ironisnya, kisah Plato tersebut terinspirasi ocehan Aristophane ketika sedang mabuk.

Tetapi cinta tidak selalu bersifat melankolis dan romantis. Erich Fromm, seorang filsuf, bahkan menganggap cinta dapat membebaskan manusia dari keterasingan. Selama manusia menjadikan cinta sebagai suatu yang produktif: memiliki perlindungan, tanggung jawab, penghormatan, dan pengetahuan.

Pusing? Memang lebih menyenangkan apabila tidak membicarakan cinta secara filosofis. Sepertinya banyak yang sepakat apabila cinta lebih menyenangkan apabila diceritakan. Apalagi Indonesia juga memiliki banyak sumber cerita menarik tentang cinta, terutama yang bersumber dari masyarakat Jawa Kuna.

Bukan berarti terpengaruh Orde Baru apabila kami membicarakan kisah cinta yang banyak bersumber dari Jawa. Tidak dapat disangkal lagi, masyarakat Jawa Kuna merupakan masyarakat yang produktif dalam menghasilkan kisah roman.

Tidak hanya dalam bentuk tradisi lisan, bahkan kisah-kisah tersebut tercatat dengan baik dalam bentuk tulisan. Tidak hanya itu, kisah-kisah tersebut juga divisualisasi dengan jelas dalam bentuk relief cerita. Walaupun mendapat pengaruh dari kebudayaan India, namun cerita-cerita tersebut telah digubah sesuai dengan kebudayaan mereka sendiri (local genius).


Untaian "Petulangan" Cinta Arjuna

Adapun tokoh yang populer dalam hal percintaan, bahkan hingga sekarang, adalah Arjuna. Salah satu tokoh Pandawa ini dikenal karena ketampanan fisiknya. Konon Arjuna memiliki setengah dari seluruh ketampanan dunia yang diberi oleh para dewa, sementara setengah yang lain dibagikan kepada seluruh pria di dunia. Namun bagaimanakah sebab-musabab Arjuna dikenal sebagai sosok yang mencari cinta?

Banyak naskah yang bercerita tentang ‘petualangan cinta’ Arjuna, antara lain Adiparwa, Subadhrawiwaha (pernikahan Subadhra), dan Arjunawiwaha (pernikahan Arjuna). Dalam salah satu fragmen cerita yang digubah dari Mahabharata, dikisahkan tentang sayembara yang diadakan raja Drupada, dan diikuti para Pandawa. Singkat cerita, para Pandawa berhasil menang, dan berhak mendapatkan putri raja, Drupadi, sebagai istri para Pandawa.

Para Pandawa membuat aturan mengenai saat-saat mereka menemani Drupadi, antara lain tidak mendekat saat salah satu dari mereka sedang bersama Drupadi. Namun, saat Yudhistira sedang bersama Drupadi, secara tidak sengaja Arjuna mendekati mereka berdua. Untuk menghindari perselisihan, Arjuna mengalah, memilih mengembara selama dua belas tahun, kemudian berikrar kepada Yudhistira (kakak tertua para Pandawa) tidak akan bercinta selama kurun waktu tersebut.

Kemudian dalam pengembaraannya Arjuna bertemu dengan Ulupuy, putri raja naga Korawya. Ulupuy-lah yang mematahkan ikrar Arjuna, dengan mengatakan bahwa ikrar itu hanya berlaku untuk Drupadi. Arjuna kemudian luluh, mengikuti Ulupuy ke dunia bawah, kemudian menikahinya.

Mungkin Ulupuy pula yang menjadi pintu bagi ‘petualangan cinta’ Arjuna. Karena kemudian Arjuna meninggalkannya dan kembali mengembara. Dalam pengembaraan berikutnya, tercatat nama Citragandha, Subadhra, Suprabha, dan Tilottama sebagai bagian dari ‘petualangan cinta’ Arjuna.

Citragandha merupakan putri raja Citradahana, yang membolehkan Arjuna menikahi putrinya selama Arjuna berjanji akan memberinya cucu laki-laki. Buah pernikahan Arjuna dengan Citragandha adalah Wabruwahana. Kemudian setelah memberikan cucu laki-laki kepada raja Citradhana, Arjuna kembali mengembara.

Pengembaraan berikutnya mempertemukannya dengan Krsna, juga Subadhra, adiknya Krsna. Konon Subadhra memiliki setengah dari seluruh kecantikan yang ada dunia, yang setengahnya ada pada perempuan seluruh dunia. Ketika melihat Subadhra pertama kali, Arjuna jatuh hati kepadanya. Namun Krisna menyarankan Arjuna untuk melarikan Subadhra. Karena kesaktiannya, Arjuna tidak dapat ditangkap. Kemudian Arjuna pun dinikahkan dengan Subadhra, juga atas usul Krsna kepada keluarganya, dengan pertimbangan kesaktian dan status Arjuna sebagai Pandawa.

Sedangkan Suprabha dan Tilottama adalah dua dari tujuh bidadari yang dinikahi oleh Arjuna, yang terdapat dalam naskah Arjunawiwaha. Kitab yang digubah Mpu Kanwa pada masa pemerintahan Erlangga ini bercerita tentang usaha Arjuna untuk membunuh Niwatakawaca, seorang raksasa (daitya) yang berusaha menyerang dan menghancurkan surga, kerajaan Indra. Sebagai rasa terima kasih, Indra pun menikahkan Arjuna dengan tujuh bidadari, termasuk Suprabha dan Tilottama. Namun, tidak jelas kronologi kisah ini dalam ‘petualangan cinta’ Arjuna: apakah sebelum, sesudah, atau ketika ia menikah dengan Subadhra?


Kesetiaan Rama - Sita

Hmm… Tentu tidak semua kisah cinta seperti halnya Arjuna. Banyak juga, kok, kisah cinta dari masa Jawa Kuna yang menceritakan tentang kesetiaan. Mau bukti?! Kisah-kisah berikut adalah beberapa contohnya.

Tentu nama Rama – Sita tidak terdengar asing lagi. Kisah yang digubah oleh Valmiki ini kembali ditulis oleh penyair Jawa Kuna yang diperkirakan berasal dari zaman Kediri abad ke-11 atau ke-12. Mungkin bisa dibilang kalau kisah ini merupakan cinta segitiga dengan tokoh-tokoh yang paling dikenal di masyarakat Indonesia: Rama, Sita, dan Rawana.

Konon Rawana jatuh hati kepada Sita, yang ternyata sangat mencintai Rama. Rawana pun kemudian menculik Sita ke kerajaannya di Alengka. Rawana juga melakukan segala hal yang dapat menyenangkan hati Sita. Bahkan Alengka pun dipenuhi ribuan bulan bulat tiap malam, sebagai persembahan cinta Rawana kepada Sita. Namun Sita tetap sangat merindukan Rama.

Begitu pula dengan Rama, yang melewatkan musim hujan di gunung Malyawan dalam kedukaan yang dalam. Dalam pupuh ketujuh kitab Ramayana, kerinduan itu dituliskan dengan sangat puitis: “musim yang menimbulkan rasa rindu akan kekasih”. Kerinduan yang ironis, karena kemudian menyebabkan terbakarnya Alengka akibat serangan Rama yang dibantu adiknya, Laksmana, serta pasukan kera pimpinan Hanuman. Sita pun terlepas dari cengkraman Rawana, setelah Rama berhasil menewaskannya.

Akan tetapi ‘scene’ klasik layaknya love story lain, dimulai pada bagian berikutnya. Rama merasa mereka sudah tidak bisa hidup sebagai suami-istri lagi karena Sita sudah begitu lama hidup dengan Rahwana dan pengikutnya, yang notabene adalah musuh mereka. Sita yang terluka hatinya mencoba membuktikan kesuciannya dengan membakar dirinya sendiri dalam api. Agni, sang dewa api membantunya karena pada saat Sita menerjunkan diri api langsung berubah menjaid bunga teratai emas. Hal ini melenyapkan kecurigaan Rama dan akhirnya mereka bersatu kembali dan kembali ke Ayodhya sebagai raja dan permaisuri.

Pengorbanan Kama - Ratih

Beda lagi dengan Kama – Ratih. Kisah yang tertulis dalam Smaradahana (api asmara) gubahan Mpu Dharmaja pada paruh abad terakhir kerajaan Kadiri ini, bercerita tentang kesetiaan yang berakhir sangat dramatis.

Kisah berawal dengan ancaman yang melanda kahyangan oleh raksasa bernama Nilarudraka. Tak ada seorang pun dewa yang mampu mengalahkannya, kecuali seorang putra dari benih Siwa. Namun, saat itu Siwa sedang bertapa dan sama sekali tak bisa diganggu.

Para dewa kemudian mengadakan pertemuan, yang dipimpin oleh dewa Indra. Kemudian, atas usul Wrhaspati, seorang penasehat, para dewa sepakat untuk mengutus dewa cinta, Kama, untuk mengobarkan hati Siwa dengan asmara dan kerinduan terhadap Uma, permaisurinya.

Kama pun bersedia menerima tugas dari para dewa, dan berangkat menuju tempat Siwa sedang bertapa. Kama kemudian melepaskan beberapa panah berbentuk bunga, untuk membangkitkan kerinduan dewa tertinggi tersebut terhadap Uma. Berhasil. Siwa pun terbangun dari tapanya karena merindukan Uma. Kelak, lahir Ganesha sebagai buah cinta Siwa – Uma, yang akan mengalahkan Nilarudraka.

Akan tetapi, Siwa sangat marah setelah mengetahui tapanya diganggu oleh sang dewa asmara. Siwa lalu membakar Kama dengan mata ke-tiganya (trinetra) hingga menjadi abu. Mengetahui musibah yang menimpa Kama, Indra dan dewa yang lain kemudian datang untuk menjelaskan kejadian sebenarnya. Mereka lalu meminta Siwa untuk menghidupkan Kama kembali. Karena, tanpa Kama tidak akan ada cinta, dan akan banyak hal buruk di dunia tanpa adanya cinta. Siwa sependapat, tetapi hanya akan menghadirkan suksma (sukma) Kama, dan tidak dalam bentuk fisik.

Mengetahui kabar yang menimpa suaminya, Ratih merasa sangat sedih. Tanpa Kama, ia hanya merasakan hidup bagai “menceburkan diri ke dalam api”. Wrahaspati kemudian menjelaskan bahwa mereka berdua masih dapat saling bertemu, walau hanya dalam bentuk suksma.

Di perabuan Kama, Ratih menegaskan kesetiaannya yang tak akan goyah. Api di perabuan Kama kemudian kembali menyala tinggi, seolah mengajak Ratih untuk menemani Kama. Setelah memurnikan pikirannya melalui yoga, Ratih kemudian menceburkan diri ke dalam api. Mengorbankan bentuk fisiknya untuk menyatukan kembali suksma mereka berdua.

Bentuk fisik Kama dan Ratih pun bersatu menjadi abu. Dan, hingga kapan pun suksma mereka juga akan terus bersatu. Kama akan menjelma pada hati setiap lak-laki. Sedangkan Ratih akan menjelma pada hati setiap perempuan.

Hmm… It sounds so deep…

Love is (Not) Blind

Banyak orang mengatakan kalau cinta itu buta. Jatuh cinta pun sering membuat manusia lupa segalanya, kecuali orang yang dikasihinya. Lihatlah Rawana, berjuta bulan bulat selalu dipersembahkan kepada Sita tiap malam. Sedangkan tak sedegup pun hati Sita bergetar kepada Rawana, karena rindunya yang teramat dalam kepada Rama. Sia-sia? Hanya Rawana yang mampu menjawabnya.

Namun, tidak selamanya cinta membuat manusia itu buta. Beberapa kisah cinta masyarakat Jawa Kuna mengajarkan bahwa cinta tidak hanya tentang mengagungkan rasa cinta itu sendiri. Ya, cinta tidak hanya tentang rasa, tetapi juga pengorbanan dan dharma. Dan, tentu saja hal itu membutuhkan kesadaran hati dan pikiran. Seperti salah satu kisah yang terdapat dalam Tantri Kamandaka berikut.

Alkisah, terdapat seorang raja yang bernama Aridarma (Angling Darma? –ed.), yang mencegah seorang putri naga dari perbuatan tidak senonoh. Atas perbuatannya itu, oleh raja naga Aridarma diberikan kemampuan bicara bahasa binatang. Akan tetapi, syaratnya adalah Aridarma harus merahasiakan kemampuannya itu, atau ia akan mati. Aridarma pun menyanggupinya.

Suatu ketika, saat sedang bermesraan dengan permaisurinya, Aridarma mendengar ucapan seekor cicak betina: “Aduhai, ingin sekali aku diperlakukan mesra seperti yang didapatkan Dewi Mayawati. Tidak seperti aku yang ditinggal suami dalam sepi.”

Mendengar itu, Aridarma hanya tersenyum. Ketika melihat suaminya tersenyum, Mayawati penasaran. Kemudian ia bertanya kepada suaminya. Akan tetapi, Aridarma diam, tidak menjawab rasa penasaran Mayawati. Ditikam sejuta penasaran, Dewi Mayawati terus mendesak, namun Aridarma tetap diam, karena ia akan mati, sesuai syarat yang diberikan raja naga.

Hingga kemudian, penasaran Dewi Mayawati berubah menjadi emosi. Ia lalu berkata “Baiklah, kalau begitu hamba lebih baik mati.”

Aridarma menjawab, “Baiklah kalau demikian. Buatkan tempat pembakaran. Kalau aku ceritakan, itu hanya akan membuatku mati. Nanti akan aku ceritakan di tempat kita akan terbakar bersama-sama. Sehingga matilah kita bersama-sama.”

Para pengawal kemudian mempersiapkan tempat pembakaran. Ketika di atas panggung, Aridarma mendengar obrolan sepasang kambing.

Kambing betina berkata, “Mas, ambilkan aku janur kuning dekat tempat pembakaran itu, dong.”

Tapi kemudian kambing jantan menjawab. “Pikirmu apa? Tidakkah kau melihat tempat itu dipenuhi para penjaga yang membawa senjata? Apa kamu mau aku disemblih?”

Kambing betina kemudian merengek, “Kalau kamu tidak mengabulkan, lebih baik aku mati saja.”

Sambil marah-marah, sang jantan lalu menjawab. “Kalau mau mati, mati saja! Tidak mau aku seperti raja bodoh itu. Hanya untuk memenuhi keinginan sang istri, dia memilih mati. Beda dengan aku, mau cinta, mau tidak cinta juga terserah…!”

Setelah mendengar ucapan kambing jantan, Aridarma pun tersadar, lalu turun dari panggung tempat pembakaran. Ia memutuskan untuk tidak secepat itu meluluskan permintaan permaisurinya tercinta. Bagaimanapun juga, Aridarma adalah raja, dan dharma seorang raja adalah kepada rakyatnya, bukan hanya kepada istri.

Namun, Mayawati tetap menerjunkan dirinya ke dalam api. Begitu pula dengan kambing betina.

All We Need is Love

Ckkk… ckkk… ckkk… Dahsyat juga, ya, apa yang telah ditulis masyarakat Jawa Kuna. Ternyata, cinta merupakan sumber inspirasi yang dapat dijadikan pelajaran dalam kehidupan. Datangnya cinta memang dapat menghasilkan berjuta akibat. Mulai dari rivalitas yang menyebabkan peperangan; hingga tentang perjuangan dan pengorbanan.

Betapa pun cinta dapat membuat manusia menjadi buta, namun seperti yang diajarkan naskah-naskah Jawa Kuna: bukan cinta yang hendaknya diagungkan. Tetapi dharma kepada cinta-lah yang harus diperjuangkan. Seperti yang dikatakan Erich Fromm (1947), yang dibutuhkan manusia adalah cinta yang produktif: memiliki perlindungan, tanggung jawab, penghormatan, dan pengetahuan. (Bayu Galih/Khairun Nisa, Februari 2008)




Tuesday, January 29, 2008

Tahun Baru di Dunia

Baru dua bulan berada di 2008, Indonesia sudah disambangi tiga tahun baru berbeda yang berhasil memperbanyak jumlah hari libur nasional. Yang pertama, tentu saja tahun baru 2008 yang jatuh pada 1 Januari lalu. Penetapan tanggal 1 Januari sebagai tahun baru sebenarnya sudah sejak masa Romawi Kuno. Awalnya mereka menetapkan 1 Maret sebagai tahun baru namun kemudian beralih pada 1 Januari. Pada abad pertengahan, ada banyak negara di Eropa yang menetapkan 25 Maret (Hari Kenaikan Tuhan) sebagai tahun baru hingga tahun 1600 ketika mereka beralih pada Kalender Gregorian yang menetapkan 1 Januari sebagai tahun baru.

Hanya berselang beberapa hari, giliran jatuh pada Tahun Baru Muharram 1429 H. Ummat Islam menggunakan Kalender Hijriyah yang dinamakan demikian karena tahun pertamanya (622 M) adalah tahun ketika Nabi Muhammad hijrah dari Makkah ke Madinah. Namun tahun Hijriyah baru mulai didiskusikan setelah Nabi Muhammad wafat. Ada yang mengusulkan agar patokan yang digunakan adalah tahun kelahiran nabi, namun ada juga yang mengusulkan diambilnya tahun ketika nabi wafat. Akhirnya pada 638 M, khalifah Umar bin Khatab menetapkan awal patokan penanggalan Islam adalah tahun dimana hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah, dan tanggal 1 Muharam tahun 1 Hijriyah bertepatan dengan 16 Juli 622.

Tahun baru ketiga adalah tahun baru Imlek yang jatuh pada bulan ini. Kalender Imlek sudah dikembangkan jauh sebelum Masehi, tepatnya pada millenium ketiga sebelum masehi, dan konon ditemukan oleh penguasa legendaris pertama, Huáng Dì. Saat tahun baru, ada beberapa tradisi yang sudah turun-temurun dilakukan oleh masyarakat Tionghoa di antaranya, membakar petasan, saling mengunjungi dan memberi hormat serta yang paling populer yaitu angpao. Makanan khas Imlek adalah kue keranjang, yang menurut mitosnya diperuntukkan bagi dewa dapur. Tahun baru Imlek ditentukan berdasarkan perhitungan lunar (peredaran bulan) yang dikombinasikan dengan perhitungan solar (peredaran matahari) dan pergantian musim dari musim dingin ke musim semi. Tahun pertama Imlek diambil dari tahun kelahiran Khong Hu Cu atau Kong Fu Tse pada 551 SM.

Tentu saja, selain tiga tahun baru yang disebutkan diatas, ada banyak tahun baru lain yang dirayakan di seluruh dunia. Umat Sikh merayakan tahun baru berdasarkan Kalender Nanakshahi setiap 14 Maret. Kalender Nanakshasi sebenarnya adalah kalender solar yang diadopsi oleh Shiromani Gurdwara Prabhandak Committee dan didesain oleh Pal Singh Purewal untuk menggantikan kalender Hindu.

Masyarakat Tamil, baik yang berada di India maupun di belahan dunia lainnya, merayakan tahun baru yang jatuh di sekitar tanggal 14 April. Di tahun 2008, petinggi Tamil Nadu memutuskan tahun baru Tamil akan bertepatan dengan dimulainya bulan Suravam dan diadakannya Festival Pongal.

Jepang merayakan tahun baru dan pergantian shio (Eto) secara bersamaan pada tanggal 1 Januari. Dahulu, kalender Jepang didasarkan pada kalender Tionghoa, sehingga mereka merayakan tahun baru di awal musim semi, bersamaan dengan Tahun baru Imlek, Tahun baru Korea, dan Tahun baru Vietnam, namun pada 1873 pemerintah Jepang mulai menggunakan kalender Gregorian sehingga tahun baru ikut dirayakan tanggal 1 Januari. Hari-hari di awal tahun baru ditandai dengan Hatsumode berupa kunjungan pertama ke kuil agama Shinto dan Buddha. Makanan khas tahun baru disebut Osechi, salah satunya adalah sup zoni dari kuah dashi yang berisi mochi dan sayur-sayuran. Penutupan perayaan tahun baru ditandai dengan memakan bubur nanakusa yang dimasak dengan 7 jenis sayuran dan rumput.

Masyarakat Ethiopia merayakan tahun baru yang disebut Enkutatash dan jatuh setiap tanggal 11 atau 12 September. Tahun baru akan selalu jatuh di tanggal ini pada tahun 1900 hingga 2099, namun akan jatuh di tanggal yang berbeda pada abad yang lain.

Tahun baru sebagai sebuah perayaan ketika merayakan berakhirnya masa satu tahun dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya memang hanya akan terjadi di suatu kebudayaan yang memiliki kalender tahunan. Dengan begitu banyaknya populasi di dunia, masing-masing dengan kebudayaan yang berbeda-beda, maka tidak mengherankan jika ada banyak tahun baru yang dirayakan. Namun ada satu kesamaan, semuanya dirayakan dengan penuh keriangan, karena tahun baru adalah saat dimana banyak harapan baru mulai disemai dan tumbuh. (dari berbagai sumber)

Pulanglah Dia Si Arca Hilang

Beberapa orang mungkin menganggap topik ini usang, tapi sengaja kami angkat kembali demi membuktikan tak semua manusia yang hidup di Indonesia memiliki sifat latah yang sudah membudaya. Untuk mengetahui seberapa latahnya bangsa ini, mungkin kita bisa memundurkan ingatan beberapa tahun ke belakang, saat maraknya berita soal penemuan 'hobbit' yang dengan bangganya diumumkan Australia kepada dunia internasional. Seketika Indonesia kebakaran jenggot, lalu berubah marah dan gusar, sebab penemuan penting di tanah air malah diumumkan seenaknya oleh Mike Morwood dan Peter Brown dalam sebuah konferensi pers di Sydney, Australia, tanpa kehadiran peneliti Indonesia.

Malang benar nasib Indonesia. Punya lahan yang kaya artefak dan situs penting, punya peneliti sendiri yang mampu meneliti artefak-artefak tersebut, namun tak punya dana hingga terpaksa bekerja sama dengan negara lain, penyokong yang kemudian mengambil alih penelitian tersebut. Tapi hanya segitu saja, setelah media dan beberapa kelompok masyarakat puas merasa panik dan marah akan kasus tersebut, maka semuanya terlupakan.

Kasus dengan negara tetangga juga tak jauh berbeda. Ketika Malaysia sang 'saudara serumpun' menggunakan lagu Rasa Sayange untuk website kebudayaan mereka, serentak seluruh rakyat Indonesia marah, terutama karena setelah Rasa Sayange, ada pencurian beruntun lainnya. Internet dijadikan media ketika banyak orang menumpahkan kemarahan mereka di beberapa forum bebas maupun blog, bahkan hacker asal Indonesia sempat membajak situs tersebut. Tapi setelah itu apa?

Kembali pada kasus pencurian benda-benda purbakala di Museum Radya Pustaka yang berhasil terkuak, lingkaran setan yang sama juga kembali terulang. Pembahasan ramai dimana-mana, mengenai Hasjim, Krueger, lemahnya mental dan pengawasan para pegawai museum, sampai ketakcakapan pemerintah. Namun seiring dengan berjalannya waktu maka berita mengenai Hasjim, atau Museum Radya Pustaka-pun makin jarang ditemui.

Dimulai dari terkuaknya keberadaan arca-arca palsu di Museum Radya Pustaka tahun 2007 kemarin. Untunglah dua petugas Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah berhasil mengendus ketidakberesan pada arca yang tersimpan di ruang belakang Radya Pustaka, September lalu. Kecurigaan itu muncul sebab arca Agastya di museum tersebut memiliki perbedaan yang sangat mencolok jika dibandingkan dengan wujud di dalam foto dokumen BP3 yang diambil pada 2001. Ternyata tak hanya satu arca yang palsu, Agastya memiliki empat 'teman' lain yang juga bernasib sama, yaitu Durga Mahisasura Mardini, Durga Mahisasura Mardini II, Siwa, dan Mahakala.

Terkuaknya kasus lima arca tersebut mendorong penyelidikan lebih lanjut, hingga BP3 Jawa Tengah mengumumkan ada enam benda koleksi lain yang telah hilang dan dipalsukan, yaitu dua arca perunggu, sebuah kap lampu perunggu, dua buah keramik yang salah satunya berasal dari Dinasti Ming, dan sebuah tempat buah-buahan hadiah dari Napoleon Bonaparte kepada Pakubowono X.

Jumlah tersebut memang bukanlah kerugian yang sedikit, namun tanpa bermaksud mendukung pencurian yang melanggar hukum tersebut, terpikirkan oleh kami, benarkah arca-arca tersebut dalam keadaan yang lebih baik jika berada di tangan museum dan pemerintah? Kalau beberapa museum yang sudah kami kunjungi seperti Museum Nasional dan Fatahillah, bisa dijadikan patokan bagi kualitas museum-museum di Indonesia, maka bisa dipastikan museum adalah tempat yang mengerikan bagi benda-benda bersejarah tersebut. Pasti sudah banyak yang tahu betapa arca-arca di museum dalam kondisi yang aus dan berjamur, terlihat seperti tak dirawat sama sekali. Alasannya? Klise: kurang dana dan kurang orang.

Jika demikian, mungkin saja akan lebih baik arca-arca tersebut dicuri dan dibeli oleh kolektor pribadi yang mampu merawat mereka dengan lebih baik. Pencurian benda bersejarah yang dilindungi hukum memang salah, namun menelantarkan benda tersebut adalah tindakan yang sama salahnya.

Mungkin suatu ketika, saat museum kita sudah mampu memperlakukan museum kita benda-benda koleksi mereka dengan lebih 'manusiawi', maka mungkin itulah saat paling pantas bagi orang Indonesia untuk mengutuk pencurian dan pejualan ilegal benda-benda cagar budaya milik negara.

Tuesday, October 23, 2007

Lebaran dan Ragam Budaya Indonesia

Di negeri kami, Indonesia, Lebaran merupakan suatu keunikan. Lihat saja dari penggunaan Ketupat sebagai atribut utama perayaan. Sebuah simbol yang memperlihatkan keanekaragaman budaya. Sehingga Lebaran kami pun tidak harus identik dengan unta dan pohon kurma.

Biasanya setelah Sholat Ied, seluruh keluarga berkumpul untuk tradisi sungkeman, tanda bakti anak kepada orang tua. Ayah berpakaian batik dan Ibu berpakaian kebaya, jenis-jenis pakaian tradisional negeri kami, yang kini diklaim Malaysia. Selain itu beberapa dari kami juga menggunakan baju koko, perpaduan tradisi Cina dan Nusantara, tapi kami tidak pernah mengklaim baju koko berasal dari Indonesia.

Setelah keluarga inti saling bermaafan, kami kedatangan keluarga besar. Paklik Heru yang baru menikah dengan gadis Palembang datang paling awal. Bibi baru kami terlihat cantik dengan kain songket yang dikenakan. Kata Bibi, songket itu pun direncanakan akan dipatenkan oleh Malaysia.

Setelah paman datang, Bulik Rina dan Paman Fauzan tiba sekitar setengah jam kemudian. Setelah Ibu mempersiapkan hidangan untuk disantap beramai-ramai. Ada Opor Ayam dan Rendang yang menemani Ketupat. Paman Fauzan kemudian bersungut-sungut kesal ketika bercerita kalau Rendang, makanan Padang, dipatenkan juga oleh Malaysia.

Ayah lalu berusaha menenangkan. Beliau juga bercerita kalau lagu kebangsaan Malaysia, Negaraku juga diduga merupakan jiplakan lagu Terang Bulan yang sering dinyanyikan kakek. Jadi menurut Ayah seharusnya Pemerintah Indonesia lebih peduli akan hak cipta. Tapi lagu Rasa Sayange sekarang juga diklaim Malaysia.

Begitulah biasanya Lebaran di negeri kami Indonesia, kaya akan ragam budaya. Mungkin disebabkan juga metode dakwah Sunan Kalijaga yang intensif melakukan pendekatan kepada masyarakat melalui Budaya. Bahkan Sunan Kalijaga pun memodifikasi wayang, yang menurut J. L. A. Brandes merupakan kesenian asli Indonesia selain Batik, dalam metode dakwahnya. Tapi bahkan sekarang wayang juga diklaim Malaysia.

Begitulah negeri kami Indonesia. Kaya ragam budaya, tapi miskin kesadaran budaya. Semoga anak-anak kami tidak menjadi seperti pendahulunya. (Oktober, 2007)