<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3706042246538351987</id><updated>2012-02-16T14:54:39.404+07:00</updated><category term='arkeolog'/><category term='literatur'/><category term='situs'/><category term='arsitektur candi'/><category term='ilmu masa lampau'/><category term='sekolah'/><category term='pendidikan'/><category term='kitab'/><category term='artikel'/><category term='tokoh'/><category term='Witting Tresno'/><category term='Mother Goddes'/><category term='bali kuno'/><category term='arsitektur'/><category term='cantik'/><category term='opini'/><category term='event'/><category term='pembuatan candi'/><category term='arkeologi'/><category term='jawa kuno'/><category term='budaya'/><title type='text'>Tinulad</title><subtitle type='html'>Kumpulan artikel mengenai budaya dan arkeologi. Berada di bawah asuhan Komunitas Paduraksa.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tinulad.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tinulad.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>tinulad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05711931021252337849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>20</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3706042246538351987.post-5434960814537563521</id><published>2010-05-10T16:15:00.003+07:00</published><updated>2010-05-10T16:28:30.104+07:00</updated><title type='text'>Menelusuri Awal Penjajahan di Indonesia: Pendekatan "Legal-Method Intention"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.helmink.com/voc1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 250px;" src="http://www.helmink.com/voc1.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Apa itu "Penjajahan"?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ed.III Depdiknas Balai Pustaka hal.51 tahun 2005 "Penjajahan" mengandung arti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. jajah: menjajah berarti keluar-masuk suatu daerah (negeri, dsb)&lt;br /&gt;2. menguasai dan memerintah suatu negeri. Belanda menjajah kita lebih kurang 350 tahun lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan menurut The World Book of Encyclopedia vol.14/92 hlm. 384 adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Occupancy is a legal-method by which a person or nation acquires title to something that no-one else own"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To gain title to a thing by occupancy a person or nation must take possession of the thing with the intention of keeping it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pertanyaan yang muncul adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dimaksud dengan "legal-method intention"? Kapan hal tersebut mulai tercatat dalam sejarah Indonesia? Benarkah Indonesia dijajah sejak 350 tahun yang lalu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak diragukan, bahwa sejak proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945 hingga tahun 2010 ini, maka Indonesia telah merdeka selama 64 tahun lebih beberapa bulan. Tetapi jika kita berbicara tentang kapan awal terjadinya “praktek” penjajahan di negeri kita maka akan ada beberapa data sejarah yang menarik untuk ditelisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KBBI (juga beberapa buku pedoman sejarah di sekolah) memberikan kisaran angka 350 tahun atau 3,5 abad sebagai masa berlangsungnya “praktek” penjajahan yang terjadi di Indonesia. Dari mana asumsi tersebut berasal? Jika kita tarik mundur,angka yang berkaitan dengan 350 tahun adalah dimulai dari tahun 1595 atau abad ke 16 (Hitung: 1945 ke 1595 = 350).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa 1595? Tahun 1595 adalah masa ketika Cornelis de Houtman bertolak dari Belanda menuju Indonesia dan tiba di Banten kurang lebih setahun setelahnya. Menurut M.C Ricklefs, pada bulan Juni 1596 Kapal-kapal De Houtman tiba di Banten di situ orang-orang Belanda  langsung terlibat konflik, baik dengan orang-orang Portugis, maupun dengan orang-orang pribumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan pula De Houtman melakukan banyak penghinaan dan menyebabakan kerugian yang besar di setiap pelabuhan yang dikunjunginya. Tahun 1597 sisa-sisa ekspedisi itu kembali ke Belanda dengan membawa cukup banyak rempah-rempah. Mulailah kemudian dikenal sebagai zaman pelayaran 'liar' atau tidak 'teratur' (wilde vaart) yang ditandai dengan banyaknya perusahaan-perusaan ekspedisi belanda yang saling bersaing dan memiliki keinginan kuat (intention) terhadap rempah-rempah yang ada di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan Maret 1602, Perseroan yang saling bersaing tersebut membentuk Perserikatan Maskapai Hindia Timur (VOC). Kepentingan yang bersaing itu diwakili oleh sistem majelis (kamer) untuk enam wilayah di negeri Belanda. Setiap majelis memilki sejumlah direktur yang semuanya berjumlah 17 orang yang disebut dengan Heeren XVII.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ricklefs menambahkan bahwa personel VOC di Asia tidaklah selalu bermutu tinggi. Meskipun VOC merupakan organisasi milik Belanda tetapi sebagian personelnya bukanlah orang Belanda. Para petualang, gelandangan, penjahat, dan orang-orang yang bernasib jelak dari seluruh Eropa-lah yang mengucapkan sumpah setia. Ketidak berdayaan, ketidakjujuran, nepotisme dan alkoholisme tersebar luas di kalanagn VOC. Terjadi banyak kekejaman yang menurut pikiran modern sangat menjijikkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan 'pengorganisasianya' maka kita dapat menyebut 1602 sebagai awal dari "legal-method intention". Mengapa? karena VOC mempunyai struktur/rancangan/metode yang secara legal diberikan oleh Parlemen Belanda yang salah satunya dikenal dengan hak Octroii sebagai cara untuk 'menguasai' Indonesia. Melalui hak tersebut, kongsi dagang yang diberi semacam hak 'tatanegara' dari pemerintah Belanda untuk mengatur pemerintahan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak octroii terkenal dengan undang-undang yang merugikan rakyat; diantaranya melakukan monopoli, melakukan peperangan, membangun benteng-benteng, mengadakan perjanjian-perjanjian dan kewajiban contingenten; yaitu rakyat dipaksa menanam komoditas yang laku di pasar dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban inilah yang kemudian memancing kemarahan rakyat sehingga terjadi berbagai perlawanan. Perlawanan-perlawanan tersebut semakin memperjelas bahwa 'praktek' (baca: penjajahan) telah terjadi karena mereka bersinggungan dengan rakyat sebagai landowners.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, asumsi bahwa Indonesia telah dijajah selama 350 tahun, secara de-jure,  sudah mulai terjadi pada tahun 1595. Namun secara de-facto, "legal-method intention" terjadi pada tahun 1602.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tentu saja definisi ini merupakan pendekatan untuk mengetahui awal penjajahan Belanda di Indonesia. Karena sebagian ahli sejarah tetap berpendapat, Belanda tidak menjajah Indonesia selama 350 tahun. Karena hingga awal abad 20 pun masih tetap terjadi perlawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti misalnya yang terjadi di Bali. Setelah peristiwa Puputan Klungkung dan "menyerahnya" Raja Bangli Dewa Gde Tangkeban, baru pada 2 Oktober 1908, Bali dapat seluruhnya dikuasai Belanda. Hal yang sama terjadi di Aceh, dikabarkan Belanda baru dapat menguasai Aceh pada tahun 1908. (Rusyanti)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3706042246538351987-5434960814537563521?l=tinulad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tinulad.blogspot.com/feeds/5434960814537563521/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3706042246538351987&amp;postID=5434960814537563521' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/5434960814537563521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/5434960814537563521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tinulad.blogspot.com/2010/05/menelusuri-awal-penjajahan-di-indonesia.html' title='Menelusuri Awal Penjajahan di Indonesia: Pendekatan &quot;Legal-Method Intention&quot;'/><author><name>tinulad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05711931021252337849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3706042246538351987.post-1360740707494816100</id><published>2010-03-22T15:54:00.004+07:00</published><updated>2010-03-22T16:06:01.411+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pembuatan candi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='arsitektur candi'/><title type='text'>Bagaimana Cara Membuat Candi?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.borobudur.tv/Image/Prambanan_layout.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 145px; height: 149px;" src="http://www.borobudur.tv/Image/Prambanan_layout.gif" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Manusia masa kini hanya tahu wujud candi setelah jadi, itupun kebanyakan dalam keadaan tak lagi sempurna. Sebagian orang hanya mengagumi keindahan, kemegahannya, atau—mungkin—kekunoannya, hingga tak sempat terbersit untuk memikirkan bagaimana candi-candi itu dibuat. &lt;p&gt;Padahal, candi juga mengalami proses pembangunan, sama seperti bangunan zaman sekarang. Hanya saja, pada masa itu belum ada semen dan alat-alat bangunan modern lainnya. Lalu bagaimana para nenek moyang membangun bangunan suci ini?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Membuat candi, sudah tentu, tak semudah membuat gedung mutakhir. Ada banyak hal-hal penting dan sakral yang harus dilakukan sebelumnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pertama, &lt;em&gt;Yajamana&lt;/em&gt; (orang yang berniat membangun candi) harus menghubungi Maha Brahmana dengan para pekerjanya yang disebut &lt;em&gt;Silpin&lt;/em&gt;. Mereka akan mencari tempat yang kira-kira pas untuk candi. Biasanya tempat yang paling digemari adalah lahan di dekat air.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lebih bagus lagi jika lokasinya di dekat pertemuan dua sungai (tempuran). Ada juga beberapa lahan terlarang untuk lokasi candi yang harus dihindari. Misalnya tanah bekas pembakaran mayat, tanah berpasir, tanah berbatu, dan tanah rawa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah ditemukan, maka mulailah tahap pemeriksaan tanah. Tahap pertama adalah &lt;em&gt;Bhupariksa&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Bhupariksa&lt;/em&gt; bisa dilakukan lewat dua cara, cara magis atau cara biasa. Jika lewat cara biasa, maka yang pertama diperiksa adalah kepadatan tanahnya. Caranya bermacam-macam. Cara yang pertama, tanah digali lalu diisi air dan dibiarkan selama 24 jam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Esok harinya tanah itu diperiksa. Jika air terserap habis atau hanya tersisa sedikit artinya tanahnya tidak bagus karena terlalu gembur. Jika air berkurangnya cuma sedikit, artinya juga sama. Tanah yang paling baik jika air hanya tersisa setengah. Selain lewat cara ini, cara lain untuk memeriksa kepadatan tanah adalah dengan menggali lalu diurug lagi. Lahan tak akan dianggap baik jika setelah diurug tanahnya terlalu sedikit atau berlebihan, jadi harus sama rata.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lalu masuklah tahap kedua. Di tahap ini yang diuji adalah kandungan gas tanah. Caranya? Pada malam hari diletakkan &lt;em&gt;clupak&lt;/em&gt; (pelita dari tanah liat) di atas tanah yang dimaksud. Jika setelah dinyalakan apinya langsung padam, artinya tanah banyak mengandung gas beracun. Jika api menyala tapi mengarah ke selatan, tanah tak dianggap baik karena selatan adalah arah dewa kematian (dewa Yama). Yang paling baik jika api menyala tegak lurus.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tahap ketiga menguji kesuburan tanah. Tanah diairi, dicangkul, dibajak, lalu ditaburi benih. Jika benih berhasil tumbuh dalam waktu 1-2 hari maka tanah ini adalah tanah brahmana (kualitas nomor wahid). Jika benih berhasil tumbuh dalam waktu 3-4 hari disebut tanah ksatria (masih lumayan walau tak sebaik jenis brahmana). Jika tumbuh dalam waktu 5-6 hari di sebut tanah waisya. Kalau menemukan tanah jenis ini, terserah masih mau digunakan atau dibuang. Dan terakhir, jika tumbuhnya lebih dari 7 hari maka disebut tanah sudra. Tanah sudra tidak disarankan untuk digunakan dalam pembangunan bangunan suci.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tes dilanjutkan dengan menguji warna dan bau tanah. Tanah Brahmana biasanya berwarna seperti mutiara dan berbau harum sementara tanah ksatria berwarna merah dan berbau darah. Tanah waisya berwarna kuning keemasan, dan tanah sudra berwarna gelap atau kelabu.&lt;br /&gt;Akhirnya &lt;em&gt;Bhupariksa&lt;/em&gt; selesai.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saatnya membangun candi! Lahan yang dipilih dibatasi dengan benang putih berbentuk persegi dengan garis diagonal yang juga ditandai dengan benang. Maka didapatlah titik tengah yang disebut Brahmasthana. Artinya ‘tempat bersemayamnya Dewa Brahma.’ Nah, setelah itu dibuatlah kotak-kotak atau grid. Sistem pengkotakan ini disebut &lt;em&gt;Vastupurusa Mandala&lt;/em&gt;, dimana masing-masing kotak terdiri dari satu nama dewa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Titik tengah tempat bersemayamnya Dewa Brahma tadi digali 1×1 meter lalu didasarnya diletakkan peripih (&lt;em&gt;Garbhapatra&lt;/em&gt;). Peripih tersebut berisi benda-benda perlambang panca maha bhuta (lima unsur alam), yaitu akasa, tanah, air, api, dan angin. Simbol-simbol yang digunakan bisa berupa biji, benang, kertas emas (biasanya bertuliskan mantra atau nama dewa), cermin perunggu, dan tulang hewan&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Untuk unsur api biasanya diwakilkan oleh abu. Karena itulah ahli-ahli Belanda zaman dulu mengidentikkan candi dengan makam. Kelak pendapat ini ditentang R. Soekmono, tapi sayangnya sampai sekarang beberapa tulisan mengenai candi masih menggunakan pendapat lama orang-orang bule ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kembali lagi ke &lt;em&gt;Brahmasthana&lt;/em&gt;. Diatas titik tengah inilah biasanya dibangun candi induk. Namun ada banyak candi di Indonesia yang tidak menerapkan aturan ini, misalnya Candi Prambanan yang titik tengahnya berada di dekat tangga.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lalu bagaimana proses pembangunan candi itu sendiri? Kurang lebih sama dengan pembangunan gedung modern. Bahan-bahan dikumpulkan, batu-batunya (atau bata) disusun, lalu dibuat berbagai macam hiasan yang membuat candi jadi kelihatan lebih oke.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tapi ada teknik penyusunan batu maupun bata yang khas dari candi. Untuk candi berbahan bata tekniknya lebih sederhana. Bata digosokkan satu sama lain sampai tercipta bubuk yang dapat berperan seperti semen lalu diperciki dengan air.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dijamin kuat, bahkan mungkin jauh lebih kuat dari semen modern. Buktinya setelah ratusan tahunpun bangunan-bangunan ini masih bertahan. Tapi candi yang menggunakan batu lebih rumit karena batu-batu tersebut disambung-sambung satu sama lain. Ada banyak teknik sambungan batu yang kita kenal, salah satunya teknik sambungan batu langsung.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Caranya? Di salah satu permukaan sebuah batu dibuat sebuah tonjolan, dan di batu lain di buat semacam ‘lembah’ yang cocok dengan batu satunya lagi. Jadi mirip seperti puzzle yang dicocok-cocokkan satu sama lain. Ada juga sambungan batu pengunci. Dengan teknik ini, batu-batu dikaitkan lewat bantuan batu pengunci di tengah-tengah kedua batu itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rumit memang. Makanya harus pikir-pikir lagi jika ingin mencorat-coret candi dengan berbagai macam aksi vandalisme dan perusakan. Semenit bagi kita untuk merusak, namun butuh seratus tahun bagi para nenek moyang untuk membangun. Ironis! (Khairun Nisa/berbagai sumber. Sumber gambar: &lt;a href="http://www.borobudur.tv/Image/Prambanan_layout.gif"&gt;borobudur.tv&lt;/a&gt;)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3706042246538351987-1360740707494816100?l=tinulad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tinulad.blogspot.com/feeds/1360740707494816100/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3706042246538351987&amp;postID=1360740707494816100' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/1360740707494816100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/1360740707494816100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tinulad.blogspot.com/2010/03/bagaimana-cara-membuat-candi.html' title='Bagaimana Cara Membuat Candi?'/><author><name>tinulad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05711931021252337849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3706042246538351987.post-1975811686568774596</id><published>2009-02-02T15:51:00.003+07:00</published><updated>2009-02-02T16:00:26.806+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jawa kuno'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bali kuno'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kitab'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cantik'/><title type='text'>Cantik versi Kitab Jawa/Bali Kuno</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.7junipers.com/images/sea/java-prajnaparamita.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 161px; height: 252px;" src="http://www.7junipers.com/images/sea/java-prajnaparamita.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Susahnya menjadi wanita terletak pada keharusan untuk tampak cantik. Walau tak ada peraturan tertulis, wanita yang tidak tampil cantik seolah telah melakukan dosa terbesar abad ini. Ada konstruksi umum tentang cantik: Tinggi, langsing, dan berkulit putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang paling menyiksa adalah keharusan bertubuh langsing. Banyak cara aneh, bahkan tidak masuk akal, ditempuh banyak wanita demi memperoleh yang satu ini. Mulai dari olah raga yang normal hingga bulimia. Padahal di masa lalu, dunia sangat memuja wanita gemuk. Lihat saja Monalisa yang dilukis Leonardo da Vinci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya Monalisa, lukisan-lukisan wanita lainnya dari Eropa di masa lalu dipenuhi oleh tokoh dengan tubuh berisi. Bukan cuma Eropa tentu saja. Cina dan India juga pernah memuja wanita bertubuh gemuk. Negara-negara Arab, termasuk Mesir, bahkan masih melakukannya hingga sekarang. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Standar kecantikan macam apakah yang dimiliki nenek moyang kita di masa lalu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahuinya, kita harus mengorek kitab-kitab sejenis Kamasutra. Eits, jangan hanya berpikir ngeres ketika membicarakan kitab ini. Selain informasi yang bersifat seksual, kitab-kitab ini juga memuat keterangan tentang wanita yang baik untuk dijadikan istri, termasuk ciri fisik. Ada beberapa kitab-kitab karya pujangga kuno Indonesia yang memuat keterangan mengenai wanita. Diantaranya adalah Aji Asmaragama, Katurangganing Wanita, Niti Mani, dan Serat Centini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab Katurangganing Wanita memaparkan tipe wanita baik yang disebut Estri Kencana dan Retna Kencana. Wanita tipe Estri Kencana memiliki tubuh besar, kulit hitam, rambut lemas, dan sifat lemah lembut. Sementara tipe Retna Kencana memiliki kulit kuning, rambut sedikit kaku berwarna kemerahan dengan bagian ujung yang lebat dan halus, serta kaki kecil. Wanita tipe ini memiliki sifat jujur dan setia. Tipe wanita yang sebaliknya adalah Tipe Raksesa dan Durgasari. Wanita Tipe Raksesa memiliki kulit kemerahan, rambut lemas, dan dada besar. Wanita tipe ini dapat membuat suaminya lekas mati. Wanita Tipe Durgasari memiliki leher panjang dan roman muka yang kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya kitab tentang wanita. Kitab Pararaton yang notabene berisi kisah Ken Arok, juga menyebutkan tipe wanita paling baik (adimukyaning istri) yang disebut stri nariswari. Wanita ini memiliki tanda-tanda murub rahasyanipun (menyala rahasianya). Contoh wanita tipe ini adalah Ken Dedes. Bukan rahasia lagi bahwa Ken Dedes adalah wanita pujaan. Tak hanya cantik, siapapun yang menikahinya akan menjadi raja dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Ken Dedes, contoh wanita cantik di zaman dahulu adalah Sri Tanjung. Sri Tanjung merupakan tokoh cerita yang dituduh berkhianat dan dibunuh oleh suaminya, Sidapaksa. Ra Nini yang menyelamatkan Sri Tanjung dari maut menggambarkannya sebagai wanita cantik dengan pantat yang bentuknya seperti limas yang baik. Betisnya bagaikan bunga pudak yang indah. Dan telapak kakinya seperti gamparan (alas kaki) gading.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bali kuno, tipe wanita cantik disebut adeg nyempaka. Wanita jenis ini digambarkan menyerupai bunga cempaka. Apalagi jika wanita tersebut memiliki sujen pipi (lesung pipi). Wanita tipe ini digambarkan akan memberi kesenangan pada suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ, jelas terlihat standar kecantikan zaman dahulu di Indonesia, khususnya di Jawa, berbeda dengan standar kecantikan masa sekarang. Tubuh kurus bukanlah suatu keharusan. Demikian juga kulit putih dan tubuh tinggi semampai. Melihat perubahan standar tersebut, bukan tidak mungkin suatu saat nanti wanita yang dianggap cantik adalah wanita berkulit gelap dengan tubuh gemuk dan pendek. Kita tunggu saja. (Nisa)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3706042246538351987-1975811686568774596?l=tinulad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tinulad.blogspot.com/feeds/1975811686568774596/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3706042246538351987&amp;postID=1975811686568774596' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/1975811686568774596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/1975811686568774596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tinulad.blogspot.com/2009/02/cantik-versi-kitab-jawabali-kuno.html' title='Cantik versi Kitab Jawa/Bali Kuno'/><author><name>tinulad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05711931021252337849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3706042246538351987.post-6659560504881292438</id><published>2009-02-02T14:09:00.002+07:00</published><updated>2010-03-22T16:01:55.175+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='arkeologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='arkeolog'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ilmu masa lampau'/><title type='text'>Arkeologi: Kerja Tak Kunjung Selesai</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Apa yang ada di kepala kita ketika mendengar kata “arkeologi"? Jawabannya berbeda-beda. Arkeologi adalah: fosil, dinosaurus, penggalian, Indiana Jones, peneliti, dan ilmuwan. Kutipan dibawah ini mungkin cukup mewakili paradigma yang sering kali direpresentasikan oleh masyarakat populer dewasa ini.&lt;/p&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;“Archaeology is partly the discovery of the treasures of the past, partly the meticulous work of the Scientific analyst, partly the exercise of the creative imagination..”&lt;br /&gt;(Bahn, 1996:11)&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p align="justify"&gt;Dengan kemajuan teknologi yang pesat dewasa ini, pernyataan diatas dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk visual yang mengagumkan oleh tangan-tangan &lt;i&gt;creationist&lt;/i&gt;. Yup! Lihatlah perburuan harta karun yang menegangkan di situs Angkor Wat oleh jagoan perempuan bernama Lara Croft dengan latar belakang dunia arkeologi. Penelitian untuk memecahkan serangkaian teka-teki rumit dalam bentuk novel detektif karya Agatha Christie yang terinspirasi oleh suaminya yang juga arkeolog. Simak juga film fiksi karya Steven Spielberg yang fenomenal, sebuah karya imajinasi kreatif di luar batas nalar: Jurassic Park. Inilah bungkusan arkeologi dalam dunia konsumsi di era nanoteknologi. Disadari atau tidak, karya-karya ini cukup mempopulerkan dunia arkeologi kepada masyarakat umum, terutama bagi para pelajar yang ingin meneruskan studinya ke tingkat yang lebih tinggi.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="mceTemp"&gt;&lt;dl id="" class="wp-caption alignright" style="width: 249px;"&gt;&lt;dt class="wp-caption-dt"&gt;&lt;img src="http://www.archaeology.org/interactive/main.gif" mce_src="http://www.archaeology.org/interactive/main.gif" alt="www.archaeology.org" width="239" height="208" /&gt;&lt;/dt&gt;&lt;dd class="wp-caption-dd"&gt;www.archaeology.org&lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Di Indonesia sendiri "arkeologi" bukanlah hal yang populer. Gaungnya tidak selaris "ekonomi". Secara institusional hanya ada 4 universitas yang menggodok calon-calon arkeolog. Keempat universitas ini adalah UI, UGM, UDAYANA, dan UNHAS. Di UI sendiri animonya masih cukup bagus. Rata-rata daya tampung untuk tiap tahunnya sekitar 20-40 kursi. Menurut Irmawati Johan, Sekjur Arkeologi-UI, motif para mahasiswa baru terhadap arkeologi bervariasi dari mulai kesadaran penuh menggapai cita-cita, terinspirasi berbagai film dan buku, hingga yang merasa terjebak dan pada akhirnya tertawan akan nama besar UI. Namun ada pula mahasiswa yang benar-benar menemukan dirinya setelah ia mengenal ilmu ini secara lebih mendalam.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Calon-calon arkeolog muda ini tentunya akan menghadapi berbagai tantangan yang besar ketika mereka pada akhirnya harus berhadapan dengan realita yang ada di luar. Jangan terlalu berharap akan menemukan petualangan spektakuler seperti yang digambarkan dalam layar lebar atau sedramatis novel, karena yang terlihat dibalik layar belum tentu sama dengan kenyataannya.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Tergusurnya situs-situs arkeologi baik yang sekarang terjadi dan dimasa yang akan datang merupakan konsekuensi logis dari pertumbuhan ekonomi dan penguasaan kapital. oleh karena itu perjuangan kita seringkali akan berbenturan dengan penguasa dan kepentingan kelompok tertentu. Selain itu, jumlah situs-situs yang pastinya meningkat tiap 50 tahunnya, memerlukan penanganan yang menyeluruh dan menuntut peningkatan kompetensi tiap individunya dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin cepat.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Untuk menghadapi tantangan ini dalam metode pengajarannya, jurusan arkeologi UI menerapkan sistem PBL (Problem Based Learning) yang berorientasi pada mahasiswa sebagai objek (Student Centered). Sistem ini menuntut mahasiswanya untuk berpartisipasi aktif dan kritis. Sedangkan dosen sendiri lebih bersifat fasilitator. Pada penerapannya, memang masih banyak ditemukan adanya kekurangan terutama pada masalah fasilitas yang menunjang perkuliahan. Walau begitu pengajar menginginkan agar mahasiswanya mampu bersaing dengan dunia luar untuk memajukan arkeologi di Indonesia. Keterbatasan hendaknya tidak dijadikan hambatan untuk terus maju. Tidak ada cara lain bagi kita selain giat belajar dan berusaha meraih segala peluang yang ada dengan penuh tanggung jawab.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Sebagai ilmu yang tidak terlalu populer di Indonesia, bidang karir untuk dunia inipun tidak banyak, ditambah lagi dengan jumlah angkatan pencari kerja yang berjumlah 40 juta lebih, menjadikan persaingan semakin sulit. Banyak ahli-ahli budaya yang berkarir di bidang lain dan sebaliknya. Peluang sebenarnya tetap ada. Banyak Balai-balai arkeologi, Suaka purbakala maupun museum-museum yang tersebar di seluruh Indonesia. Yang diperlukan sekarang adalah keberanian untuk &lt;i&gt;out of Java&lt;/i&gt; dan pembenahan manajemen sumber daya budaya kearah yang lebih baik.  &lt;i&gt;The right man in the right place&lt;/i&gt; nampaknya sulit di terapkan di Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Tapi di balik segala masalah yang pelik ini, gemerlapnya layar hiburan yang membius para treasures seeker, menumpuknya angkatan pencari kerja, angkuhnya tembok-tembok penguasa dan budak kapital penjual aset-aset bangsa.... Lebih dari sekedar produk konsumsi, Arkeologi mengusung nilai yang lebih penting lagi yaitu sebuah proyek idealis yang menuntut tanggung jawab bersama demi kemanusiaan dan identitas bangsa yang mau tidak mau harus diteruskan kepada generasi penerus dan pelurus bangsa yang tidak hanya “mentok” pada batasan-batasan karir semata. Seperti halnya yang dinyatakan oleh Calne:&lt;/p&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;“Keselamatan kita, sebagai hewan sosial, tergantung pada kemampuan kita berbicara dan mengerti, dan keampuhan kebudayaan moderen berasal dari terciptanya tulisan barang lima ribu tahun yang lalu. Semua peradaban besar di dunia ini sekarang dibangun diatas dasar manfaat tulisan dan bacaan. Dan jauh sebelum itu... apa yang kita tahu mengenai sejarah pratulis adalah berkat arkeologi...”&lt;br /&gt;(Calne, 2005: 38&amp;amp;84)&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p align="justify"&gt;Untuk menjawab tantangan ini, dewasa ini banyak sekali komunitas-komunitas pencinta budaya di Indonesia dengan berbagai visi dan misi. Selain sebagai sarana berkreasi, dan mengintelektualisasikan diri,...komunitas ini mampu memperlihatkan eksistensinya ditengah arus globalisasi ekonomi yang semakin gencar. Lihatlah kreatifitas kelompok yang terkenal dengan Dagadu atau Joger-nya. Dengan tetap mengusung tema pelestarian budaya, kelompok-kelompok ini mampu menghasilkan keuntungan dan nama besar, sekaligus membuka peluang kerja.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Indonesia adalah negeri yang kaya. Negeri ini menyimpan banyak potensi baik propinsi, suku-bangsa, bahasa, adat-istiadat, macam kuliner, dan lain-lain yang tersebar di 276.000 pulau dengan kandungan potensi arkeologi yang belum tergali. Itu merupakan aset yang sangat berharga. Siapa lagi yang akan memberdayakannya selain kita sebagai generasi penerus bangsa?&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Jadi sebenarnya, &lt;i&gt;Archaeology is a dynamically expanding subject&lt;/i&gt;. Calne mengingatkan kita bahwa, lebih dari romantisme akan kenangan masa lalu, arkeologi merupakan dasar dari terbentuknya peradaban moderen sekarang ini. Arkeologi memberi kita “harta karun” agar belajar dari sejarah untuk masa depan yang lebih baik.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Peluang karir yang sesuai mungkin terbatas di dunia nyata, tapi tidak dalam imajinasi&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Lihatlah biografi JFK, Sukarno, Bill Gates, Sayyid Quthb. Mereka semua adalah pengkhayal. Imajinasi merupakan tulang punggung penyangga kreativitas dan sebagian dari potensi ledakan kepahlawanan (Annis Matta) kita. Kecintaan kita pada Arkeologi dapat ditransformasikan dalam berbagai bentuk dan kreasi. Jadilah aktif, kritis dan kompeten. Teruslah berkarya dan ingat:&lt;/p&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;“Everything that You Can Imagine Is Real”&lt;br /&gt;(Albert Einstein)&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;(Rusyanti)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3706042246538351987-6659560504881292438?l=tinulad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tinulad.blogspot.com/feeds/6659560504881292438/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3706042246538351987&amp;postID=6659560504881292438' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/6659560504881292438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/6659560504881292438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tinulad.blogspot.com/2009/02/arkeologi-kerja-tak-kunjung-selesai.html' title='Arkeologi: Kerja Tak Kunjung Selesai'/><author><name>tinulad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05711931021252337849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3706042246538351987.post-1611265755761916857</id><published>2008-12-22T18:47:00.000+07:00</published><updated>2008-12-22T18:48:43.413+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sekolah'/><title type='text'>Sedikit Uraian Sejarah Pendidikan Indonesia</title><content type='html'>&lt;div class="entrytext"&gt;     &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pendahuluan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;“Knowledge is power”&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p align="justify"&gt;Kutipan yang terkenal dari Francis Bacon tersebut jelas mengungkapkan pentingnya pendidikan bagi manusia. Sumber pokok kekuatan manusia adalah pengetahuan. Mengapa? Karena manusia dengan pengetahuannya mampu melakukan olah-cipta sehingga ia mampu bertahan dalam masa yang terus maju dan berkembang.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Dan proses olah-cipta tersebut terlaksana berkat adanya sebuah aktivitas yang dinamakan &lt;strong&gt;PENDIDIKAN&lt;/strong&gt;. &lt;strong&gt;Pendidikan&lt;/strong&gt; menurut KBBI berarti sebuah kegiatan perbaikan tata-laku dan pendewasaan manusia melalui pengetahuan. Bila kita lihat jauh ke belakang, pendidikan yang kita kenal sekarang ini sebenarnya merupakan ”adopsi” dari berbagai model pendidikan di masa lalu.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Informasi mengenai bagaimana model pendidikan di masa prasejarah masih belum dapat terekonstruksi dengan sempurna. Namun bisa diasumsikan ”media pembelajaran” yang ada pada masa itu berkaitan dengan konteks sosial yang sederhana. Terutama berkaitan dengan adaptasi terhadap lingkungan di kelompok sosialnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pendidikan Masa Hindu-Buddha&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Sistem pendidikan pada masa lalu baru dapat terekam dengan baik pada masa Hindu-Buddha. Menurut Agus Aris Munandar dalam tesisnya yang berjudul &lt;em&gt;Kegiatan Keagamaan di Pawitra Gunung Suci di Jawa Timur Abad 14—15(1990)&lt;/em&gt;. Sistem pendidikan Hindu-Buddha dikenal dengan istilah &lt;em&gt;karsyan&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Karsyan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; adalah tempat yang diperuntukan bagi petapa dan untuk orang-orang yang mengundurkan diri dari keramaian dunia dengan tujuan mendekatkan diri dengan dewa tertinggi. Karsyan dibagi menjadi dua bentuk yaitu &lt;em&gt;patapan&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;mandala&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Patapan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; memiliki arti tempat bertapa, tempat dimana seseorang mengasingkan diri untuk sementara waktu hingga ia berhasil dalam menemukan petunjuk atau sesuatu yang ia cita-citakan. Ciri khasnya adalah tidak diperlukannya sebuah bangunan, seperti rumah atau pondokan. Bentuk &lt;em&gt;patapan&lt;/em&gt; dapat sederhana, seperti gua atau ceruk, batu-batu besar, ataupun pada bangunan yang bersifat artificial. Hal ini dikarenakan jumlah&lt;em&gt; Resi&lt;/em&gt;/&lt;em&gt;Rsi&lt;/em&gt; yang bertapa lebih sedikit atau terbatas. &lt;em&gt;Tapa&lt;/em&gt; berarti menahan diri dari segala bentuk hawa nafsu, orang yang bertapa biasanya mendapat bimbingan khusus dari sang guru, dengan demikian bentuk patapan biasanya hanya cukup digunakan oleh seorang saja.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Istilah kedua adalah &lt;em&gt;&lt;strong&gt;mandala&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, atau disebut juga &lt;em&gt;kedewaguruan&lt;/em&gt;. Berbeda dengan &lt;em&gt;patapan&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;mandala&lt;/em&gt; merupakan tempat suci yang menjadi pusat segala kegiatan keagamaan, sebuah kawasan atau kompleks yang diperuntukan untuk para wiku/pendeta, murid, dan mungkin juga pengikutnya. Mereka hidup berkelompok dan membaktikan seluruh hidupnya untuk kepentingan agama dan &lt;em&gt;nagara&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Mandala&lt;/em&gt; tersebut dipimpin oleh &lt;em&gt;dewaguru&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Berdasarkan keterangan yang terdapat pada kropak 632 yang menyebutkan bahwa ” masih berharga nilai kulit musang di tempat sampah daripada rajaputra (penguasa nagara) yang tidak mampu mempertahankan &lt;em&gt;kabuyutan&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;mandala&lt;/em&gt; hingga jatuh ke tangan orang lain” (Atja &amp;amp; Saleh Danasasmita, 1981: 29, 39, Ekadjati, 1995: 67), dapat diketahui bahwa &lt;em&gt;nagara&lt;/em&gt; atau ibu kota atau juga pusat pemerintahan, biasanya dikelilingi oleh &lt;em&gt;mandala&lt;/em&gt;. Dalam hal ini, antara &lt;em&gt;mandala&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;nagara&lt;/em&gt; tentunya mempunyai sifat saling ketergantungan. &lt;em&gt;Nagara&lt;/em&gt; memerlukan &lt;em&gt;mandala&lt;/em&gt; untuk dukungan yang bersifat moral dan spiritual, &lt;em&gt;mandala&lt;/em&gt; dianggap sebagai pusat kesaktian, dan pusat kekuatan gaib.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Dengan demikian masyarakat yang tinggal di &lt;em&gt;mandala&lt;/em&gt; mengemban tugas untuk melakukan tapa. Kemakmuran suatu negara, keamanan masyarakat serta kejayaan raja sangat tergantung dengan sikap raja terhadap kehidupan keagamaan. Oleh karena itu, &lt;em&gt;nagara&lt;/em&gt; perlu memberi perlindungan dan keamanan, serta sebagai pemasok keperluan yang bersifat materiil (fasilitas dan makanan), agar para pendeta/&lt;em&gt;wiku&lt;/em&gt; dan murid dapat dengan tenang mendekatkan diri dengan &lt;em&gt;dewata&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Pendidikan Masa Islam&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Sistem pendidikan yang ada pada masa Hindu-Buddha kemudian berlanjut pada masa Islam. Bisa dikatakan sistem pendidikan pada masa Islam merupakan bentuk akulturasi antara sistem pendidikan &lt;em&gt;patapan&lt;/em&gt; Hindu-Buddha dengan sistem pendidikan Islam yang telah mengenal istilah &lt;em&gt;uzlah&lt;/em&gt; (menyendiri). Akulturasi tersebut tampak pada sistem pendidikan yang mengikuti kaum agamawan Hindu-Buddha, saat guru dan murid berada dalam satu lingkungan permukiman (Schrieke, 1957: 237; Pigeaud, 1962, IV: 484—5; Munandar 1990: 310—311). Pada masa Islam sistem pendidikan itu disebut dengan pesantren atau disebut juga pondok pesantren. Berasal dari kata &lt;em&gt;funduq&lt;/em&gt; (&lt;em&gt;funduq&lt;/em&gt;=Arab atau &lt;em&gt;pandokheyon&lt;/em&gt;=Yunani yang berarti tempat menginap).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Bentuk lainnya adalah, tentang pemilihan lokasi pesantren yang jauh dari keramaian dunia, keberadaannya jauh dari permukiman penduduk, jauh dari ibu kota kerajaan maupun kota-kota besar. Beberapa pesantren dibangun di atas bukit atau lereng gunung Muria, Jawa Tengah. Pesantern Giri yang terletak di atas sebuah bukit yang bernama Giri, dekat Gersik Jawa Timur (Tjandrasasmita, 1984—187). Pemilihan lokasi tersebut telah mencontoh ”gunung keramat” sebagai tempat didirikannya &lt;em&gt;karsyan&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;mandala&lt;/em&gt; yang telah ada pada masa sebelumnya (De Graaf &amp;amp; Pigeaud, 1985: 187).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Seperti halnya &lt;em&gt;mandala&lt;/em&gt;, pada masa Islam istilah tersebut lebih dikenal dengan sebutan ”depok”, istilah tersebut menjadi nama sebuah kawasan yang khas di kota-kota Islam, seperti Yogyakarta, Cirebon dan Banten. Istilah &lt;em&gt;depok&lt;/em&gt; itu sendiri berasal dari kata &lt;em&gt;padepokan&lt;/em&gt; yang berasal dari kata &lt;em&gt;patapan&lt;/em&gt; yang merujuk pada arti yang sama, yaitu “tempat pendidikan. Dengan demikian padepokan atau pesantren adalah sebuah sistem pendidikan yang merupakan kelanjutan sistem pendidikan sebelumnya.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Pendidikan Masa Kolonial&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Pada masa ini, wajah pendidikan Indonesia lebih terlihat sebagai sosok yang memperjuangkan hak pendidikan. Hal ini dikarenakan pada saat itu, sistem pendidikan yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial adalah sistem pendidikan yang bersifat diskriminatif. Artinya hanya orang Belanda dan keturunannya saja yang boleh bersekolah, adapun pribumi yang dapat bersekolah merupakan pribumi yang berasal dari golongan priyayi. Adapun prakteknya sistem pendidikan pada masa kolonial lebih mengadopsi pendidikan ala Eropa.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Namun kemudian mulai timbul kesadaran dalam perjuangan untuk menyediakan pendidikan untuk semua kalangan, termasuk pribumi. Maka hadirlah berbagai institusi pendidikan yang lebih memihak rakyat, seperti misalnya Taman Siswa dan Muhammadiyah.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Pada masa ini sistem Eropa dan tradisional (pesantren) sama-sama berkembang. Bahkan bisa dikatakan, sistem ini mengadopsi sistem pendidikan seperti yang kita kenal sekarang: Mengandalkan sistem pendidikan pada institusi formal macam sekolah dan pesantren.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Pendidikan: Berawal dari Keluarga&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Pendidikan abad 21 diwarnai dengan pengaruh globalisasi. Berbagai sistem pendidikan berlomba-lomba diadopsi, dikembangkan dan disesuaikan. Institusi-institusi pendidikan mulai menjamur. Namun muncul kritik dari beberapa orang seperti Ivan Illich, yang menganggap sistem pendidikan hanya berorientasi untuk menghasilkan tenaga kerja untuk kepentingan industri semata. Pendidikan kehilangan maknanya sebagai sarana pembelajaran.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Kemudian muncul sebuah ide Home Schooling, yaitu pendidikan yang tidak mengandalkan institusi formal, tapi tetap bisa dilakukan di rumah sesuai kurikulum. &lt;em&gt;Home Schooling&lt;/em&gt; adalah pola pendidikan yang dilatarbelakangi adanya ketidakpercayaan terhadap fenomena negatif yang umum terdapat pada institusi formal: adanya &lt;em&gt;bullying&lt;/em&gt;, serta metode yang didaktis dan seragam.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Namun bukan berarti institusi pendidikan formal tidak menyesuaikan diri. Kini, timbul kesadaran bahwa prestasi bukanlah angka-angka yang didapat di ujian, atau merah-birunya rapor. Melainkan adanya kesadaran akan pentingnya sebuah kurikulum berdasarkan kompetensi.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Dari rangkaian sejarah pendidikan yang panjang ini ada satu esensi yang bisa kita ambil yaitu seperti apapun bentuknya, keberhasilan pendidikan pada dasarnya tidak hanya tanggung jawab dari pengelola pendidikan saja tetapi juga menuntut peranan dari orangtua yang tidak kalah pentingnya. Sejarah akan terus berulang: Pendidikan berawal dari keluarga. (Bayu Galih/Rusyanti/Rian Timadar/Khairun Nisa, Mei 2008)&lt;/p&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pustaka:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;p align="justify"&gt;Munandar, Agus Aris. 1990. &lt;em&gt;Kegiatan Keagamaan di Pawitra Gunung Suci di Jawa Timur Abad 14—15&lt;/em&gt;. Tesis Magister Humaniora. Fakultas Sastra Universitas Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Santiko, Hariani.&lt;br /&gt;Santiko, Hariani. 1986. “Mandala (Kedwaguruan) Pada Masyarakat Majapahit,” dalam &lt;em&gt;Pertemuan Ilmiah Arkeologi IV, buku IIb Aspek Sosial Budaya, Cipanas, 3—9 Maret 1986&lt;/em&gt;. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, halaman 304—18.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Ekadjati, Edi S.&lt;br /&gt;1995. &lt;em&gt;Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah)&lt;/em&gt;. Pustaka Jaya. Jakarta.&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;           &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3706042246538351987-1611265755761916857?l=tinulad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tinulad.blogspot.com/feeds/1611265755761916857/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3706042246538351987&amp;postID=1611265755761916857' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/1611265755761916857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/1611265755761916857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tinulad.blogspot.com/2008/12/sedikit-uraian-sejarah-pendidikan.html' title='Sedikit Uraian Sejarah Pendidikan Indonesia'/><author><name>tinulad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05711931021252337849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3706042246538351987.post-2136330526279477368</id><published>2008-11-22T09:40:00.004+07:00</published><updated>2008-12-22T18:50:49.932+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='literatur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Jejak Crusoe di Tanah Sunda</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;Cast away..going at it alone..&lt;br /&gt;Cast away..now im on my own..&lt;br /&gt;Trouble bound lost and found cast away….(Green Day)&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah tema dalam karya sastra, ‘cast away’ telah dipopulerkan oleh seorang penulis Inggris; Daniel Defoe (1660-1731) melalui karyanya yang fenomenal: &lt;em&gt;Robinson Crusoe&lt;/em&gt;. Tapi tahukah Anda, saking terkenalnya novel ini sehingga data sejarah literature masa Kolonial di Indonesia sempat mengabadikan kisahnya dalam bahasa Sunda dan dibaca oleh kalangan elit pada masa itu?&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://images.politico.com/"&gt;&lt;img title="Crusoe &amp;amp; Friday" src="http://images.politico.com/global/robinson_crusoe.jpg" width="154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Secara ringkas buku tersebut menceritakan tentang kecerdasan strategi dan pertahanan Crusoe untuk hidup dalam pulau tersebut selama 26 tahun. Dalam cerita tersebut juga dimunculkan seorang tokoh yang disebut sebagai “Friday”--yang selanjutnya menjadi frase “man Friday” yang berarti  ‘trusted servant’ atau ‘pelayan setia’.  Setelah 28 tahun keduanya kemudian berhasil ke luar dari pulau tersebut dan berlayar menuju Inggris.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Penjelajah Daisuke Tkahashi lebih dari satu dasawarsa meyakini bahwa Alexander Selkirk, seorang kelasi Skotlandia, yang mungkin mengilhami Robinson Crusoe. Selkirk terdampar dan bertahan hidup di sebuah pulau, jauh dari pantai Cile pada 1704. Tepatnya di dekat teluk Cumberland. Selkirk kemudian diperkirakan membangun dua pondok kayu ditutupi lalang dan dilapisi kulit kambing (Kompas, 25 September 2005).&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Lalu bagaimana &lt;em&gt;Robinson Crusoe&lt;/em&gt; bisa tercetak dalam bahasa Sunda?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Adalah Kartawinata (1846-1906), seorang anak dari (&lt;em&gt;hoofd&lt;/em&gt;) panghulu Moehamad Moesa (pengarang Panjiwoeloeng, 1871), yang terlibat dalam berbagai penerjemahan pada masa itu. Bersama saudara dan anak-anak Sunda lain, dia belajar bahasa Belanda di Garut. Adiknya, Lasminingrat juga seorang penulis yang hidup sezaman dengan Kartini dan juga turut berkontribusi dalam pendidikan gadis-gadis Sunda pada masa itu (Moriyama: 2005).&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kartawinata bersama K. F. Holle menerjemahkan berbagai novel eropa (&lt;em&gt;Kapten Bonteku, Robinson Crusoe, Kapitein Marion, &lt;/em&gt;dll), buku pertanian, buku pelajaran, kamus-bersama P. Blusse, serta publikasi-publikasi pemerintah. Dia kemujdian ditunjuk sebagai asisten penerjemah untuk bahasa Sunda pada Februari 1874 dan kemudian diangkat menjadi pegawai penerjemah resmi. Karena jasanya yang berharga bagi Kolonial, pemerintah Batavia kemudian menghadiahinya dengan medali perak.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sebelumnya, diketahui bahwa bahasa Sunda diakui secara formal keberadaannya oleh pemerintah Kolonial pada abad ke-19 dan disadari pentingnya oleh para penguasa Bumi putera (Bupati dan jajaran di bawahnya) yang kemudian penggunaannya diperluas bukan hanya sebagai alat komunikasi social secara lisan seperti pada aad sebelumnya (17 dan 18) melainkan juga sebagai objek penelitian ilmu bahasa, bahasa pengantar, dan mata pelajaran di sekolah, dan media karya tulis.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Lalu apa yang menarik dari karya terjemahan Kartawinata?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Menurut Moriyama, bukan hanya uraian rinci mengenai kebiasaan dan pemikiran Barat yang membuat terjemahan Kartawinata terkesan modern. Yang juga membangkitkan minat dan mengejutkan para pembaca Bumiputra adalah adanya objek-objek dan orang-orang asing yang ada pada buku-buku itu yang dilukis dengan sangat hidup dan realistis dalam gambar sketsa, kontras dengan naskah-naskah Bali dan Jawa dan Sunda yang menurut Ekadjati (1996:101-128) hanya sedikit mengandung ilustrasi dan gambar.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kombinasi antara tulisan dan gambar tentunya dirasakan sebagai sesuatu yang sangat baru oleh para pembaca Sunda; sekarang mereka dapat membaca cerita sambil mengembangkan imajinasi mereka tentang peristiwa-peristiwa yang dikisahkan. Boleh dibilang, para pembaca dipaksa untuk membaca dan melihat, suatu cara baru untuk memahami dunia ini yang merupakan kunci penting menuju modernisasi (Moriyama, 2005: 249-250).&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;MODERNISASI. Itulah benang merah yang hendak dirajut dalam rangkaian kata demi kata, dalam transliterasi maupun transkripsi oleh para pendahulu kita- yang pada akhirnya membawa pada sebuah babak baru:  pembentukan &lt;em&gt;Commissie voor de Inlandsch School-en Volkslectuur&lt;/em&gt; (Komisi untuk buku-buku sekolah Bumiputera dan buku-buku bacaan populer) pada 1908-sebuah angka tahun yang berharga bagi tonggak sejarah kebangkitan Nasional! (Rusyanti)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3706042246538351987-2136330526279477368?l=tinulad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tinulad.blogspot.com/feeds/2136330526279477368/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3706042246538351987&amp;postID=2136330526279477368' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/2136330526279477368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/2136330526279477368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tinulad.blogspot.com/2008/11/jejak-crusoe-di-tanah-sunda.html' title='Jejak Crusoe di Tanah Sunda'/><author><name>tinulad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05711931021252337849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3706042246538351987.post-8487652856027098728</id><published>2008-11-22T09:22:00.002+07:00</published><updated>2008-11-22T09:34:02.730+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='situs'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='arsitektur'/><title type='text'>Berapa Kali Borobudur Dibangun?</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://urban-crib.com"&gt;&lt;img title="Borobudur" src="http://www.urban-crib.com/assets/images/Borobudur_01_H.jpg" width="141"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Siapa yang tidak mengenal Borobudur? Memang tidak mengenal&lt;/span&gt; Borobudur bukan sebuah kejahatan. Namun cukup untuk membuat seseorang dianggap sebagai manusia tak berwawasan luas. Sebab candi megah ini sangat terkenal, tak hanya di Indonesia namun juga di dunia.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Walau demikian terkenal, tak banyak yang tahu kalau Borobudur dibangun dalam beberapa periode. Menurut Jacques Dumarcay, seorang arsitek asal Prancis, candi itu dibangun sebanyak lima kali dalam periode yang berbeda.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pada perode pembangunan yang pertama, pondasi awal Borobudur terbentuk dari dinding kecil yang terdiri dari deretan batu yang merupakan garis batas. Dinding pondasi dilapisi puing-puing  batu sisa. Batu yang digunakan di seluruh bagian candi adalah batu andesit. Setelah dinding pondasi sudah diselesaikan, maka yang selanjutnya dilakukan adalah mengerjakan bagian kaki. Bagian ini merupakan bagian yang terpisah dari pondasi.  Kedua garis pondasi memiliki perbedaan satu sama lain. Proyeksinya adalah 16 cm di sebelah timur laut dan 8 cm di sebelah barat daya.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sisi-sisi candi dibuat menghadap ke arah timur. Penopang candi diletakkan di bagian atas tingkat pertama lapisan puing-puing batu. Sementara kaki-kaki tiang pancang ditanamkan ke dalamnya. Ketika jalan mulai dibuka, penopang tetap diletakkan dalam bangunan sampai pembangunan mencapai galeri pertama. Setelah itu, penopang diambil dan bekas tempatnya diisi oleh balok-balok batu. Setelah meletakkan deretan batu pertama pada tembok untuk galeri kedua, bagian barat dikurangi karena penyusunan batunya tidak rapi.&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href=" media-2.web.britannica.com"&gt;&lt;img src="http://media-2.web.britannica.com/eb-media/23/13123-004-43244F7A.jpg" alt="media-2.web.britannica.com" width="172"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pada galeri ketiga dibangun struktur. Mungkin proporsi dan kerangka tembok hias dan relief telah dibangun seluruhnya sebelum kemudian dirusak. Keberadaan struktur ini diketahui dari dua fakta. Berdasarkan hasil riset geologi, ada wilayah yang sempit dan tersusun rapat di galeri ketiga. Hal ini menunjukkan bahwa bagian tersebut pernah digunakan. Fakta kedua, adalah dibawah tangga utara yang menuju kaki bangunan dan berasal dari periode pembangunan yang kedua, sejumlah besar elemen pahatan, termasuk tembok hias dan puncak tertinggi, telah ditemukan.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pada akhir periode pembangunan awal,  bangunan sudah lengkap. Termasuk bagian kaki candi yang sekarang tersembunyi, dua galeri pertama, dan sebuah struktur utama. Lalu pengerjaan bangunan ditinggal selama lebih kurang 25 tahun.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pada periode pembangunan kedua lapisan puing-puing batu terlepas. Sementara parit besar yang muncul di sisi bukit menyebabkan struktur bagian utara rusak. Periode pembangunan kedua adalah pembaharuan lengkap bangunan, untuk menjaganya tetap sebagai satu kesatuan. Akan tetapi rencana baru yang dibuat untuk galeri tiga dan empat menunjukkan perbedaan dari periode pertama. Tangga yang sudah direkonstruksi pada periode pertama, sekarang menjadi kurang tinggi. Karena itu perlu sekali untuk membuat kembali desain baru, dan membangun kembali lengkungan di pintu masuk.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Untuk memberi kesan kesatuan bagi bangunan, tiang pintu masuk yang baru, diletakkan di dekat relief lama yang sama dengan galeri tiga dan empat. Bagian atas bangunan mulai dikerjakan lagi. Sisi-sisi bukit tempat candi mendompleng, mulai berubah. Termasuk lima tingkat dari tanah yang dimampatkan dan melapisi puing-puing. Struktur bundar dibangun di bagian atas mimbar, lalu pekerjaan sekali lagi dihentikan.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sebelum pembangunan periode ketiga dimulai, semuanya diratakan. Pada periode ini dibangun tiga beranda bundar yang menembus stupa-stupa dan stupa sentral. Pagar langkan galeri pertama dimodifikasi dengan cara membangun relung dibagian atasnya untuk menambah sejumlah arca Buddha. Bagian kaki diperluas, dan disisipkan saluran-saluran air hujan.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pada dua periode terakhir, yaitu periode keempat dan kelima, hanya terjadi perkembangan kecil. Ruang antara relung terbuka di pagar langkan galeri pertama ditutup. Selain itu, pada bagian dalam galeri pertama dipahatkan relief yang baru. Relief-relief ini dihubungkan dengan jalan menuju pintu masuk dan akses baru menuju tangga.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pada periode ini, tanah yang padat mengakibatkan sisi bukit terkikis dan puing-puing menimpa ke sisi barat. Tanah disekitar bangunan menutupi seluruh tingkat pertama bagian kaki. Tangga di sisi bukit menghilang, galeri-galeri akan terisi tanah dan tanaman liar. Lalu pembangunan terhenti, hingga muncullah candi megah sebagaimana yang kita kenal sekarang. (nisa)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3706042246538351987-8487652856027098728?l=tinulad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tinulad.blogspot.com/feeds/8487652856027098728/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3706042246538351987&amp;postID=8487652856027098728' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/8487652856027098728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/8487652856027098728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tinulad.blogspot.com/2008/11/berapa-kali-borobudur-dibangun.html' title='Berapa Kali Borobudur Dibangun?'/><author><name>tinulad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05711931021252337849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3706042246538351987.post-8294121155592209202</id><published>2008-11-22T09:13:00.002+07:00</published><updated>2008-11-22T09:34:54.997+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='situs'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='arsitektur'/><title type='text'>Masjid Azizi: Berlian di Tanjungpura</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://tinulad.files.wordpress.com/2008/10/081005142950001.jpg"&gt;&lt;img class="size-full wp-image-21" title="kubah" src="http://tinulad.wordpress.com/files/2008/10/081005142950001.jpg" alt="Kubah" width="177" height="142" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Jatuh cinta itu sudah dirasakan sejak pandangan pertama. Begitulah yang penulis rasakan ketika pertama kali melihat mesjid ini beberapa tahun lalu. Sayang kesempatan untuk mengunjunginya lagi baru terlaksanakan September lalu.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Namanya Masjid Azizi, terletak di Tanjungpura, sebuah kota kecamatan kecil yang belum melupakan kemelayuannya. Masih banyak rumah tradisional berbahan kayu dengan tangga yang berdiri dengan eloknya di kota ini. Walau tentu saja modernitas adalah sesuatu yang tak dapat di tolak. Rumah-rumah berarsitektur Melayu ini pun mesti bersaing dengan rumah modern yang angkuh.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Syahdan, Azizi dan Tanjungpura merupakan milik Kesultanan Langkat. Mesjid  dibangun pada masa pemerintahan Sultan Abdul Aziz Djalil Rachmat Syah (1897-1927) dan diresmikan pada 12 Rabiulawal 1320 Hijriah atau tepatnya 13 Juni 1902. Kini nama kerajaan pendirinya diabadikan dalam nama sebuah kabupaten, Kabupaten Langkat.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tak banyak memang yang tahu kerajaan ini. Pamornya kalah oleh Kerajaan Deli dengan Istana Maimoon-nya yang memang berlokasi di Kota Medan. Padahal Kesultanan Langkat cukup makmur dengan perkebunan karet dan cadangan minyak di Pangkalan Brandan. Kesultanan ini runtuh bersamaan dengan meletusnya Revolusi Sosial tahun 1946. Pada saat itu banyak keluarga kesultanan Langkat yang terbunuh. Namun kejayaan mereka tak hilang ditelan waktu. Mesjid Azizi masih menyimpan kenangan akan kerajaan ini.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kenangan tersebut terlihat pada pemakaman istimewa yang berada dalam bangunan berpagar dan terbuat dari bahan seperti marmer putih. Itulah makam keluarga kesultanan. Di sampingnya terdapat pemakaman dengan nisan bermacam ragam dan berjumlah ratusan. Diantaranya tampak kuburan Amir Hamzah, penyair Indonesia dari angkatan Pujangga Baru, dengan salah satu karya terkenalnya: &lt;em&gt;Nyanyi Sunyi.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Arsitektur Mesjid Azizi merupakan perpaduan corak Timur Tengah dan India. Ada lebih dari sembilan kubah kecil yang terdapat bagian atap. Ciri khas Timur Tengah dan India tersebut dikombinasikan dengan corak Melayu, Persia dan China.&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://tinulad.files.wordpress.com/2008/10/081005143113001.jpg"&gt;&lt;img class="size-full wp-image-23" title="Paduan Corak Cina dan Timur Tengah" src="http://tinulad.wordpress.com/files/2008/10/081005143113001.jpg" alt="" width="168" height="210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Keanekaragaman itu tercermin dari ornamen-ornamen mozaik dan pualam bernuansa Timur Tengah. Sementara pengaruh Cina bisa dilihat dari menara yang menjulang di pelataran mesjid. Hal serupa juga ditemukan pada bagian pintu dengan ukir-ukiran khas Cina mirip yang terdapat di kelenteng. Bangunan utama Masjid Azizi merupakan perpaduan arsitektur bercorak Timur Tengah dan India yang megah dengan banyaknya kubah. Ada lebih dari sembilan kubah kecil yang terdapat pada atapnya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Azizi adalah mesjid yang kaya. Bukan karena biaya pembangunannya mencapai angka  200.000 ringgit. Kekayaannya tampak dari arsitektur dengan banyak ciri dan tradisi.  Kekayaan ciri itulah yang menjadikan Azizi indah dipandang. Mesjid ini bahkan lebih indah dari istana sang sultan sendiri. Tak salah jika Azizi dianggap Berlian dari Tanjungpura. (nisya)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3706042246538351987-8294121155592209202?l=tinulad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tinulad.blogspot.com/feeds/8294121155592209202/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3706042246538351987&amp;postID=8294121155592209202' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/8294121155592209202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/8294121155592209202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tinulad.blogspot.com/2008/11/masjid-azizi-berlian-di-tanjungpura.html' title='Masjid Azizi: Berlian di Tanjungpura'/><author><name>tinulad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05711931021252337849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3706042246538351987.post-1758876614184005790</id><published>2008-05-17T10:30:00.001+07:00</published><updated>2008-05-17T10:32:16.598+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='event'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>May Day</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Sebuah peradaban besar dunia seringkali ditandai dengan adanya suatu bangunan adikarya yang menjadi &lt;em&gt;masterpiece&lt;/em&gt;. Banyak orang menyebutnya sebagai keajaiban dunia atau &lt;em&gt;wonders&lt;/em&gt;. Tapi seringkali &lt;em&gt;wonders&lt;/em&gt; tersebut identik dengan raja, penguasa, dan dinasti pembuatnya. Dan melupakan jutaan buruh yang membangunnya: Yang rata-rata berusia hanya hingga 30 tahun, atau mungkin bekerja sepanjang hari dan malam tanpa upah, dengan status budak.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Mesir Kuno memiliki Piramid. Salah satunya merupakan piramid agung di Giza, yang dibangun sekitar 5000 tahun yang lalu. Konon piramid ini bisa terlihat dari bulan. Selain memiliki fisik mengagumkan, piramid Giza juga membuat kagum para ahli arkeologi karena akurasi ordinasinya yang mengacu pada rasi bintang Orion. Juga karena kerumitan bentuk ruang di dalamnya, dengan banyak ruang rahasia dan diindikasi penuh harta karun. Walau demikian, Piramid tetap identik dengan &lt;em&gt;Pharaoh&lt;/em&gt; (Firaun), dan terlupakan pula jasa jutaan buruh yang membangunnya selama tiga dasawarsa.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;China memiliki Tembok Besar yang membentang sepanjang 6.700 kilometer. Tembok yang katanya bisa dilihat dari bulan tersebut dibangun sebagai pertahanan terhadap musuh yang datang dari utara. Tembok ini dibangun oleh beberapa dinasti dari sekitar abad 5 SM hingga abad ke 16. Tapi yang dikenang adalah Kaisar Qin Shihuang sebagai pemrakarsa dalam pembangunan tembok secara masif pada 220 SM. Maka terlupakanlah jasa 2 hingga 3 juta buruh yang mati dalam pembangunannya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Hal ini mencetuskan pertanyaan menarik: Ketika peran buruh sering terlupakan, apakah peradaban merupakan manifestasi ego penguasa? Apakah peradaban adalah wujud dari megalomaniak seorang raja yang ingin memperlihatkan kebesarannya? Atau mungkin sekedar membuat bangunan indah untuk mendiang istrinya?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Namun kemudian sejarah mencatat bahwa para buruh melakukan perlawanan ketika peran mereka terlupakan. Para buruh menolak untuk bekerja selama 19 – 20 jam perhari dengan upah yang sangat minim.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kemudian pada tanggal 1 Mei 1886 sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat mengadakan demo besar-besaran selama empat hari di Chicago. Demo itu kemudian berujung pada penangkapan dan penembakan terhadap para aktifis buruh, yang kemudian dikenal sebagai insiden Haymarket. Untuk memperingati insiden Haymarket, para buruh kemudian menjadikan 1 Mei sebagai Hari Buruh International, yang lebih populer disebut &lt;em&gt;&lt;strong&gt;May Day&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Mungkin &lt;em&gt;May Day&lt;/em&gt; merupakan sebuah momentum yang mengingatkan manusia. Bahwa peradaban (yang dibangun dari cipta, rasa, dan karsa manusia) idealnya menghargai setiap lapisan masyarakat. Peradaban bukanlah manifestasi individualisme sekelompok manusia untuk mengeksploitasi manusia yang lain. Walau sejarah pernah mencatat bahwa eksploitasi dan ekspansi pernah menjadi bagian dari peradaban di masa lalu, bukan sebuah dosa untuk berharap terciptanya peradaban masa depan yang lebih baik. (BG)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3706042246538351987-1758876614184005790?l=tinulad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tinulad.blogspot.com/feeds/1758876614184005790/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3706042246538351987&amp;postID=1758876614184005790' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/1758876614184005790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/1758876614184005790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tinulad.blogspot.com/2008/05/may-day.html' title='May Day'/><author><name>tinulad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05711931021252337849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3706042246538351987.post-7091815181913733422</id><published>2008-04-14T19:13:00.005+07:00</published><updated>2008-12-22T18:37:15.810+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mother Goddes'/><title type='text'>Memaknai Kecantikan Tuhan</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;img src="http://i18.photobucket.com/albums/b136/bulatpenuh/tinulad/MG.jpg" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengantar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Aroma feminin begitu terasa setiap memasuki bulan April, terutama di pertengahan. Mengapa? Mungkin karena sejarah kelahiran satu nama, yang kelak dianggap berjasa bagi pergerakan kaum perempuan Indonesia: Kartini.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kartini adalah sosok yang resah pada masanya. Status sosial dan penderitaan bangsanya akibat dijajah, membuatnya tidak merasa nyaman. Namun, hal yang paling membuatnya resah adalah statusnya sebagai perempuan. Bukan karena ia menyesal karena dilahirkan sebagai perempuan. Tetapi, lebih karena ia merasa sulit untuk menyatakan pendapat, juga mewujudkan impiannya untuk melanjutkan pendidikan, hanya karena ia perempuan.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Menjadi perempuan. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Secara primordial, manusia juga mengakui itu. Bahkan, manusia merasa takjub dengan peran yang dijalankan perempuan: sebagai rahim kehidupan, yang melahirkan sebuah generasi. Sebuah ketakjuban yang membuat mereka menggambarkan salah satu bentuk Tuhan dalam figur perempuan, yang dikenal dengan nama Mother Goddess.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Bagaimana pun juga, secara alamiah, perempuan memiliki peran besar dalam kehidupan: Sebagai seorang ibu, yang melahirkan dan membesarkan calon penerus negeri. Kesadaran itulah yang menjadikan kami mengangkatnya dalam tema Tinulad edisi April.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tuhan itu Cantik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;“If God had a name, what would it be and would you call it to His face…”&lt;br /&gt;(Joan Osborne dalam One Of Us)&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p align="justify"&gt;Perbincangan tentang Tuhan adalah hal yang sulit. Hal ini tidak hanya disebabkan akan melibatkan masalah teologi semata. Ketika melakukan perbincangan tentang Tuhan, kita akan terlibat dalam dimensi yang jauh lebih luas dan mendalam: Pada sebuah pencarian manusia yang sangat panjang, sebuah pencarian akan hakikat.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Perkenalan manusia terhadap dunia ‘di luar’ mereka telah terekam dalam bukti-bukti arkeologi sejak masa Paleolitik, atau sekitar 20.000 – 30.000 tahun yang lalu. Hal tersebut ditandai dengan adanya berbagai peninggalan yang menyiratkan adanya kepercayaan terhadap kekuatan Sang Segala Maha. Peninggalan tersebut antara lain berupa punden berundak, lukisan gua (rock art), dan kubur batu beserta bekal kubur yang menyertainya.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Dari peninggalan-peninggalan tersebut, para ahli dari berbagai ilmu sosial-budaya kemudian mengetahui beberapa konsep kepercayaan yang dimiliki manusia sejak masa prasejarah: Antara lain adalah adanya konsep “hidup sesudah mati (life after death)”, “dunia lain”, dan kepercayaan supranatural lainnya. Namun, bisa jadi hal paling menarik untuk diperhatikan adalah sebuah konsep manusia akan Tuhan. Juga tentang bagaimana mereka berusaha untuk menggambarkan kepercayaan mereka yang abstrak akan Tuhan, ke dalam sebuah bentuk konkret.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Bagaimanakah bentuk Tuhan? Pertanyaan itulah yang berusaha dijawab manusia sejak ribuan tahun silam, namun tetap relevan hingga sekarang. Manusia kemudian berusaha untuk mendefinisikan realitas tertinggi tersebut ke dalam berbagai macam bentuk dan figur. Tentu saja, beberapa penggambaran bentuk Tuhan didefinisikan sejauh nalar yang dimiliki manusia. Sehingga, sering kali terdapat penggambaran Tuhan secara antropomorfis, dengan bentuk layaknya manusia.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Di setiap kebudayaan, penggambaran Tuhan secara antropomorfis merupakan hal yang sering ditemui. Seperti misalnya penggambaran Tuhan yang termanifestasi dalam bentuk arca-arca persembahan. Tuhan digambarkan memiliki bentuk dan indera layaknya manusia. Bahkan, dalam kebudayaan yang tidak memanifestasikan Tuhan dalam bentuk arca persembahan, seperti Islam misalnya, penggambaran Tuhan secara antropomorfis tetap ditemukan. Seperti misalnya konsep kerinduan untuk menatap wajah Tuhan, wajah yang mampu ‘ditangkap’ nalar manusia merupakan wajah seperti layaknya yang dimiliki manusia.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Lalu bagaimana dengan Tuhan dalam figur perempuan? Hal ini sempat menjadi kontroversi ketika dalam film Dogma (1999), Tuhan digambarkan adalah seorang perempuan, yang diperankan oleh Alanis Morisette. Padahal, sejak ribuan tahun sebelumnya penggambaran Tuhan dalam figur perempuan sering ditemui dalam berbagai kebudayaan di dunia. Sebuah konsep yang dikenal dengan nama Mother Goddess, bukti bahwa manusia juga memiliki konsep Tuhan dalam figur perempuan. Sebuah konsep yang juga hadir sebagai bagian dari penggambaran antropomorfis manusia akan Tuhan.&lt;/p&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perempuan Sebagai Rahim Kehidupan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;p align="justify"&gt;Mother Goddess (Dewi Ibu) merupakan identifikasi umum untuk penggambaran Tuhan dalam figur perempuan. Umumnya, Mother Goddess juga sering disebut dengan Mother Earth, yang sering dikaitkan sebagai dewi kesuburan. Konsep penggambaran Tuhan yang dikaitkan dengan kesuburan ini merupakan konsep yang telah dikenal manusia sejak masa Paleolitik, bahkan ditemukan di beberapa belahan dunia.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Temuan arkeologi yang paling terkenal yang menggambarkan Mother Goddess adalah “Venus of Willendorf”. Arca ini ditemukan di Willendorf, Austria, dan berasal dari masa Paleolitik, sekitar tahun 30.000 – 20.000 SM. Bentuknya menyerupai seorang perempuan, yang terlihat dari payudara dan perut yang menonjol seperti sedang hamil. Bentuknya menyerupai seorang perempuan dengan payudara dan perut yang menonjol seperti sedang hamil. Karena bentuknya itulah figur ini sering diidentifikasi sebagai dewi kesuburan. Karena seperti yang kita ketahui perempuan juga merupakan seorang ibu, sebagai makhluk yang melahirkan.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Selain “Venus of Willendorf”, terdapat pula temuan-temuan figur perempuan dari masa prasejarah yang juga diidentifikasi sebagai Mother Goddess. Antara lain figur-figur yang ditemukan di Lespugue dan Lausell, Prancis; dan tepian sungai Nil, Mesir. Bentuknya hampir sama dengan yang ditemukan di Willendorf, sehingga juga dikaitkan dengan kesuburan. Namun tidak semua temuan dengan bentuk tersebut memiliki arti dan makna yang sama. Bisa jadi figur-figur tadi tidak memiliki makna ketuhanan dan diidentifikasi sebagai dewi kesuburan, melainkan hanya sebagai hiasan atau mainan.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Pada masa selanjutnya, konsep-konsep ketuhanan dalam bentuk perempuan tetap banyak yang dikaitkan dengan kelahiran dan kesuburan. Konsep yang kemungkinan telah dikenal sejak masa prasejarah ini, semakin bervariasi dikenal di banyak belahan dunia.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Kebudayaan Yunani mengenal Gaea, sebagai Ibu Bumi yang kelak melahirkan dewa-dewi dan kehidupan di bumi; Kebudayaan Babylonia dan Asyria mengenal Ishtar sebagai dewi kesuburan; Amaterasu dipercaya sebagai dewi matahari yang melahirkan keluarga kaisar yang berkuasa di Jepang. Selain itu, masih banyak lagi penggambaran figur perempuan yang dikaitkan dengan dewi yang berkaitan dengan kesuburan dan kelahiran. Hal itu memperlihatkan bahwa konsep Tuhan sebagai pencipta sering pula dikaitkan dengan perempuan yang merupakan rahim dari awal kehidupan manusia.&lt;/p&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;The Power-Within&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;p align="justify"&gt;Pada awalnya, memang figur dewi perempuan sering diidentikkan dengan dewi yang berkaitan dengan kelahiran dan kesuburan. Akan tetapi, pada pada perkembangan berikutnya banyak ditemukan dewi perempuan yang dilengkapi dengan atribut lain selain kesuburan dan kelahiran. Umumnya, figur-figur dewi perempuan di berbagai kebudayaan memiliki atribut yang memiliki sifat feminin sebagaimana layaknya perempuan: Seperti dewi cinta, dewi kecantikan, dan dewi kesenian.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Selain itu, figur-figur dewi perempuan juga sering digambarkan sebagai sosok yang memiliki kekuatan. Seperti misalnya Athena, dewi kebijaksanaan yang dikenal di kebudayaan Romawi. Walau sebagai dewi kebijaksanaan, figurnya lebih menyerupai dewi perang. Hal ini terlihat dari penggambaran Athena: dengan baju perang, lengkap dengan perisainya. Namun bukan berarti Athena merupakan sosok yang identik dengan kekerasan. Athena dikenal juga sebagai dewi kedamaian dan dewi keadilan. Oleh masyarakat Yunani, Athena dianggap sebagai pelindung kehidupan yang beradab (civilized life).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Kebudayaan Hindu mengenal Durga sebagai figur perempuan yang dilengkapi dengan atribut kekuatan. Sosok Durga digambarkan bertangan banyak, dengan beraneka macam senjata di genggaman. Masing-masing senjata merupakan pemberian setiap dewa dalam pertarungan Durga melawan Mahisasura, yang berwujud kerbau. Hal itu dilakukan para dewa karena mereka tidak sanggup mengalahkan Mahisasura, dan hanya Durga yang mampu mengalahkannya. Durga merupakan aspek krodha (dahsyat; menakutkan) dari istri (sakti) Siva. Adapun aspek santa (tenang) dari sakti Siva lebih dikenal dengan nama Parvati atau Uma.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Selain Athena dan Durga, masih banyak figur perempuan yang juga memiliki atribut kekuatan. Seperti misalnya Freya (dewi perang sekaligus dewi cinta yang dipercaya oleh bangsa Viking di Eropa Utara) dan Ishtar (dewi perang dan cinta bangsa Babylonia dan Assyria). Hal itu seolah-olah menepis kesan perempuan sebagai sosok yang lemah. Menariknya, justru kekuatan itu semakin bersinergi dengan kelembutan dan kebijaksanaan, yang merupakan sifat feminin dan secara alamiah dimiliki perempuan.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Konsep Keseimbangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Melihat begitu banyaknya unsur feminin pada sejarah manusia dalam usahanya menggambarkan Tuhan, banyak yang bertanya-tanya: Mengapa sekarang terdapat kecenderungan aspek ketuhanan yang patriarki, yang didominasi oleh figur laki-laki. Walaupun mungkin pada kenyataannya Tuhan bukanlah laki-laki atau perempuan.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Namun sebenarnya, terdapat pula konsep keseimbangan dalam hal ketuhanan yang berusaha dijelaskan oleh beberapa kebudayaan. Misalnya seperti konsep sakti dalam kebudayaan Hindu. Sakti adalah energi atau kekuatan yang dimiliki setiap dewa, yang juga dianggap sebagai penggerak para dewa. Ada juga yang mengatakan bahwa sakti adalah energi feminin, sehingga dalam penggambarannya sakti itu berwujud istri. Sebuah wujud yang merupakan pendamping para dewa dalam menjalankan ‘tugasnya’ untuk menciptakan dan melangsungkan alam semesta.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Selalu ada perempuan hebat di balik lelaki hebat. Mungkin itulah makna dari konsep sakti. Karena itu Wisnu ditemani Laksmi, Brahma ditemani Sarasvati, dan Siva ditemani Parvati dalam menjalankan ‘tugasnya’.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Konsep keseimbangan juga terdapat pada kebudayaan yang tidak memanifestasikan Tuhan dalam wujud konkret, dalam hal ini adalah kebudayaan Islam. Walau tidak memiliki wujud konkret, namun konsep keseimbangan gender dalam hal ketuhanan yang dikenal Islam terdapat pada sifat-sifat Tuhan yang terdapat di nama-namaNya (Asmaul Husna). Mengutip Ibnu Arabi, Sachiko Murata (1992), seorang ahli di bidang perbandingan agama, dalam buku Tao Of Islam melihat bahwa ada sifat feminin di nama-nama seperti Al Quddus (suci), dan Ar Rahiim (penyayang); juga sifat maskulin di nama-nama seperti Al Aziz (perkasa) dan Al Jabbar (penguasa).&lt;/p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sebuah Harmoni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Walau demikian banyak aspek ketuhanan yang berusaha untuk dimanifestasikan oleh beberapa kebudayaan dalam figur perempuan, tidak berarti merendahkan sifat maskulin dari ketuhanan. Begitu pula sebaliknya, ketika aspek ketuhanan itu lebih banyak dimanifestasikan dalam figur laki-laki, tidak menjadikan sifat feminin dari ketuhanan menjadi direndahkan. Justru sebenarnya manusia berusaha memperlihatkan bahwa ada sifat maskulin dan sifat feminin dalam aspek ketuhanan. Sebuah konsep keseimbangan yang telah disampaikan sejak masa Paleolitik, bahkan mungkin hingga masa Posmodernisme seperti sekarang.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;E. O. James (1950), seorang ahli di bidang sejarah dan filsafat agama, dalam buku The Concept Of Deity mengatakan bahwa keseimbangan gender dalam aspek ketuhanan disimbolkan bagaikan langit dan bumi. Langit (sky-god) merupakan simbol Tuhan yang disembah dan berkuasa. Sedangkan, Bumi (earth-mother) merupakan simbol Tuhan yang memelihara dan menjaga.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Pendapat sama juga pernah dikemukakan Rumi, yang pernah dikutip Erich Fromm (1956) dalam buku The Art of Loving. Bahwa dalam pandangan orang-orang bijak, langit adalah laki-laki dan bumi adalah perempuan. Bumi memupuk apa yang telah dijatuhkan oleh langit. Jika bumi kekurangan panas, maka langit mengirimkan panas kepadanya. Jika bumi kehilangan kesegaran dan kelembaban, langit segera memulihkannya. Langit memayungi bumi layaknya seorang suami yang menafkahi istrinya; dan Bumi pun sibuk dengan urusan rumah tangga: ia melahirkan dan menyusui segala yang telah ia lahirkan.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Indah sekali, bukan?! Walaupun banyak cara yang dilakukan manusia dalam menggambarkan Tuhan, bagaimana pun juga Tuhan adalah sebuah keseimbangan dan kesempurnaan. Sebuah harmoni yang menjadikan dunia terus berputar, hingga Ia berkehendak untuk menghentikannya suatu saat (Bayu Galih/Rusyanti/Khairun Nisa, April 2008).&lt;/p&gt;                        &lt;!-- You can start editing here. --&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3706042246538351987-7091815181913733422?l=tinulad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tinulad.blogspot.com/feeds/7091815181913733422/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3706042246538351987&amp;postID=7091815181913733422' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/7091815181913733422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/7091815181913733422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tinulad.blogspot.com/2008/04/mother-goddes-april-2008.html' title='Memaknai Kecantikan Tuhan'/><author><name>tinulad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05711931021252337849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i18.photobucket.com/albums/b136/bulatpenuh/tinulad/th_MG.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3706042246538351987.post-552239520335453066</id><published>2008-03-30T17:08:00.007+07:00</published><updated>2008-12-22T18:41:17.873+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Arkeolog dalam Fiksi</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Dunia arkeologi yang dalam kehidupan nyata sering dianggap memiliki &lt;i&gt;madesu&lt;/i&gt; (alias Masa Depan Suram) ternyata bisa disulap menjadi seksi dan mendebarkan di tangan para penulis. Sebutlah beberapa judul yang mengangkat tema penelitian masa lalu ini seperti: &lt;i&gt;Indiana Jones&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;National Treasure&lt;/i&gt;, sampai &lt;i&gt;Jurassic Park&lt;/i&gt;, mereka laris ditonton oleh jutaan umat manusia di seluruh dunia. &lt;i&gt;Thanks to Holywood&lt;/i&gt;, masyarakat bisa memiliki pandangan baru terhadap profesi &lt;i&gt;suram&lt;/i&gt; ini. Jadi, bagaimana kalau kita sedikit berkenalan dengan sebagian dari arkeolog fiktif tersebut?&lt;/p&gt;&lt;b&gt;Indiana Jones&lt;/b&gt;&lt;p align="justify"&gt;Indiana Jones merupakan tokoh fiksi yang paling “bertanggung jawab” atas persepsi masyarakat modern tentang arkeologi: Perburuan harta karun. Harap maklum, mengingat film garapan Spielberg yang diproduseri Goerge Lucas ini begitu sukses mendulang penonton (dan dollar) dalam periode 80-an. Walau begitu, Dr. Jones tetap berburu harta karun dalam bingkai ilmu pengetahuan. Tentu saja, mengingat statusnya sebagai seorang profesor di bidang arkeologi.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Bernama lengkap Dr. Henry Walden Jones Jr., tetapi lebih memilih untuk dipanggil Indiana yang merupakan nama anjing peliharaannya sejak kecil, daripada panggilan yang diberikan sang ayah: Junior. Telah melakukan berbagai petualangan sejak kecil selagi mengikuti tugas dinas sang ayah yang juga seorang arkeolog.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Nurani seorang arkeolognya sudah muncul sejak masa sekolah. Dalam &lt;i&gt;The Last Crusade&lt;/i&gt;, diceritakan bagaimana pandu muda ini berusaha menyelamatkan Salib Coronado dari tangan pemburu harta karun, untuk ditempatkan di museum. Dengan tali cambuk dan topinya yang khas, Indi merupakan ikon seorang petualang sejati. Namun ia tetap digambarkan punya kelemahan: fobia terhadap ular.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Indiana Jones pertama kali muncul dalam trilogi petualangannya yang terkenal: &lt;i&gt;Raiders of The Lost Ark&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Indiana Jones and the Temple of the Doom&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;Indiana Jones and The Last Crusade&lt;/i&gt;. Dalam ketiga film tersebut, peran Indi begitu lekat dengan nama Harisson Ford. Menyusul kesuksesan film, muncul pula serial televisinya, &lt;i&gt;The Young Indiana Jones Chronicles&lt;/i&gt; pada tahun 1992 hingga 1996. Adapun peran tersebut dimainkan tiga orang berbeda: Sean Patrick Flanery (Indi usia 17 tahun), George Hall (93 tahun), dan Corey Carrier (10 tahun).&lt;/p&gt;&lt;b&gt;Lara Croft&lt;/b&gt;&lt;p align="justify"&gt;Terlahir dari keluarga bangsawan, putri dari Lord Henshingly Croft, Lara merupakan seorang antiquarian yang selalu terlibat berbagai petualangan seru. Apalagi kalau bukan berburu harta karun. Walau demikian, hal itu tidak menjadikan Lara menjadi karakter yang liar. Ia tetap memiliki karakter yang kuat sebagai seorang bangsawan.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Perkenalan Lara terhadap alam bebas dan berbagai petualangan dimulai sejak masa sekolahnya di Gordonstoun. Di sanalah ia menemukan cintanya pada alam bebas, pada pegunungan di Skotlandia. Kemudian berlanjut saat ia melanjutkan kuliah di Swiss, terutama saat ia mulai kenal dengan berbagai &lt;i&gt;extreme sports&lt;/i&gt;. Dan, persahabatannya dengan alam jua yang membuat ia bertahan ketika pesawat yang ditumpanginya jatuh di Himalaya.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Di rumah besarnya di Surrey, Inggris, Lara merasa terkungkung dalam lingkungan aristokrasi. Hanya petualangan yang membuat Lara merasa ‘hidup’. Saat itu juga dia sadar bahwa rumahnya cukup luas untuk menampung berbagai artefak. Itulah yang membuat Lara memulai petualangannya sebagai seorang &lt;i&gt;Tomb Raider&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;i&gt;Tomb Raider&lt;/i&gt; merupakan video game laris yang membesarkan nama Lara Croft. Jagoan hasil rekaan Toby Gard ini menjadi ratu dunia game sejak debutnya pada 1996. Kini hasil rekaan itu telah muncul dalam film, dan telah melekat dengan nama Angelina Jolie.&lt;/p&gt;&lt;b&gt;Taichi Hiraga-Keaton&lt;/b&gt;&lt;p align="justify"&gt;Taichi Hiraga-Keaton merupakan seorang arkeolog yang lahir dari ayah seorang ahli zoology dari Jepang dan ibu seorang bangsawan Inggris. Sejak perceraian orangtuanya, Keaton mengikuti sang ibu dan menjadi warga negara Inggris. Beranjak dewasa, Keaton melanjutkan kuliahnya di jurusan Arkeologi, Oxford University. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Lulus dari Oxford, Keaton kemudian memulai karir militernya di SAS, sebuah pasukan khusus Inggris. Berbekal kemampuan militernya di SAS, juga kemampuan analisis dan pengetahuannya sebagai seorang arkeolog, Keaton kemudian bekerja sebagai penyelidik asuransi di &lt;i&gt;Lloyd’s of London&lt;/i&gt;. Namun ia juga masih menjadi pengajar arkeologi di berbagai universitas. Sebagai seorang arkeolog, ia punya impian: ekskavasi di tepi sungai Danube dan membuktikan teori kalau kebudayaan Eropa berawal dari tepi sungai Danube. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;i&gt;Master Keaton&lt;/i&gt; merupakan manga (komik Jepang) hasil rekaan Hokusei Katsushika dengan ilustrasi Naoki Urasawa yang berkisah tentang petualang Keaton sebagai penyelidik asuransi. Dibuat pada 1988 hingga 1994, &lt;i&gt;Master Keaton&lt;/i&gt; menuai sukses dan menginspirasi anak-anak Jepang untuk mendalami Arkeologi. Kesuksesan itu membuat Keaton juga muncul dalam format DVD dalam bahasa Inggris untuk pasar Amerika Serikat.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Adapun yang membuat Keaton berbeda dengan Lara atau Indi adalah sosoknya yang lebih humanis. Keaton digambarkan sebagai manusia biasa, yang bercerai dengan istrinya dan terpaksa meninggalkan putrinya di Jepang demi pekerjaan yang memaksa ia berkeliling dunia. Walau cerita tidak sedahsyat &lt;i&gt;Tomb Raider&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Master Keaton&lt;/i&gt; merupakan kisah yang kaya dengan pengetahuan budaya. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dengan latar dan kepribadian yang berbeda, para arkeolog fiktif di atas berhasil mengubah pandangan orang mengenai profesi yang mereka wakili. Walau perlu juga diingat apa yang ada di dunia nyata mungkin tak semendebarkan yang terangkai dalam fiksi. Namun bagi para penggilanya, pekerjaan yang paling membosankan sekalipun bisa jadi jauh lebih memicu adrenalin ketimbang &lt;i&gt;bungee jumping&lt;/i&gt; di ketinggian Niagara. Akankah Indonesia memiliki detektif masa lalunya sendiri? Kita lihat saja... (Tim redaksi Tinulad)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3706042246538351987-552239520335453066?l=tinulad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tinulad.blogspot.com/feeds/552239520335453066/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3706042246538351987&amp;postID=552239520335453066' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/552239520335453066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/552239520335453066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tinulad.blogspot.com/2008/03/arkeolog-dalam-fiksi.html' title='Arkeolog dalam Fiksi'/><author><name>tinulad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05711931021252337849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3706042246538351987.post-2175413470183027505</id><published>2008-03-30T15:14:00.003+07:00</published><updated>2008-04-01T21:29:26.883+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Archaeology: The Unfinished “Work”</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Apa yang ada di kepala kita ketika mendengar kata “arkeologi"? Jawabannya berbeda-beda. Arkeologi adalah: fosil, dinosaurus, penggalian, Indiana Jones, peneliti, dan ilmuwan. Kutipan dibawah ini mungkin cukup mewakili paradigma yang sering kali direpresentasikan oleh  masyarakat populer dewasa ini.&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;“Archaeology is partly the discovery of the treasures of the past, partly the meticulous work of the Scientific analyst, partly the exercise of the creative imagination..”&lt;br /&gt;(Bahn, 1996:11)&lt;/blockquote&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dengan kemajuan teknologi yang pesat dewasa ini, pernyataan diatas dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk  visual yang mengagumkan oleh tangan-tangan &lt;i&gt;creationist&lt;/i&gt;. Yup! Lihatlah perburuan harta karun yang menegangkan di situs Angkor Wat oleh jagoan perempuan bernama Lara Croft dengan latar belakang dunia arkeologi. Penelitian untuk memecahkan serangkaian teka-teki rumit dalam bentuk novel detektif  karya Agatha Christie yang terinspirasi oleh suaminya yang juga arkeolog. Simak juga film fiksi karya Steven Spielberg yang fenomenal, sebuah karya imajinasi kreatif di luar batas nalar: Jurassic Park. Inilah bungkusan arkeologi dalam dunia konsumsi di era nanoteknologi. Disadari atau tidak, karya-karya ini cukup mempopulerkan dunia arkeologi kepada masyarakat umum, terutama bagi para pelajar yang ingin meneruskan studinya ke tingkat yang lebih tinggi.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Di Indonesia sendiri "arkeologi" bukanlah hal yang populer. Gaungnya tidak selaris "ekonomi". Secara institusional hanya ada 4 universitas yang menggodok calon-calon arkeolog. Keempat universitas ini adalah UI, UGM, UDAYANA, dan UNHAS. Di UI sendiri animonya masih cukup bagus. Rata-rata daya tampung untuk tiap tahunnya sekitar 20-40 kursi. Menurut Irmawati Johan, Sekjur Arkeologi-UI, motif para mahasiswa baru terhadap arkeologi bervariasi dari mulai kesadaran penuh menggapai cita-cita, terinspirasi berbagai film dan buku, hingga yang merasa terjebak dan pada akhirnya tertawan akan nama besar UI. Namun ada pula mahasiswa yang benar-benar menemukan dirinya setelah ia mengenal ilmu ini secara lebih mendalam.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Calon-calon arkeolog muda ini tentunya akan menghadapi berbagai tantangan yang besar ketika mereka pada akhirnya harus berhadapan dengan realita yang ada di luar. Jangan terlalu berharap akan menemukan petualangan spektakuler seperti yang digambarkan dalam layar lebar atau sedramatis novel, karena yang terlihat dibalik layar belum  tentu sama dengan  kenyataannya.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tergusurnya situs-situs arkeologi baik yang sekarang terjadi dan dimasa yang akan datang merupakan konsekuensi logis dari pertumbuhan ekonomi dan penguasaan kapital. oleh karena itu perjuangan kita  seringkali akan berbenturan dengan penguasa dan kepentingan kelompok tertentu. Selain itu, jumlah situs-situs yang pastinya meningkat tiap 50 tahunnya, memerlukan penanganan yang menyeluruh dan menuntut peningkatan kompetensi tiap individunya dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin cepat.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Untuk menghadapi tantangan ini dalam metode pengajarannya, jurusan arkeologi UI menerapkan sistem PBL (Problem Based Learning) yang berorientasi pada mahasiswa sebagai objek (Student Centered). Sistem ini menuntut mahasiswanya untuk berpartisipasi aktif dan kritis. Sedangkan dosen sendiri lebih bersifat fasilitator. Pada penerapannya, memang masih banyak ditemukan adanya kekurangan terutama pada masalah fasilitas yang  menunjang perkuliahan. Walau begitu pengajar menginginkan agar mahasiswanya mampu bersaing dengan dunia luar untuk memajukan arkeologi di Indonesia. Keterbatasan hendaknya tidak dijadikan hambatan untuk terus maju. Tidak ada cara lain bagi kita selain giat belajar dan berusaha meraih segala peluang yang ada dengan penuh tanggung jawab.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sebagai ilmu yang tidak terlalu populer di Indonesia, bidang karir untuk dunia inipun tidak banyak, ditambah lagi dengan jumlah angkatan pencari kerja yang berjumlah 40 juta lebih, menjadikan persaingan semakin sulit. Banyak ahli-ahli budaya yang berkarir di bidang lain dan sebaliknya. Peluang sebenarnya  tetap ada. Banyak Balai-balai arkeologi, Suaka purbakala maupun museum-museum yang tersebar di seluruh Indonesia. Yang diperlukan sekarang adalah keberanian untuk &lt;i&gt;out of Java&lt;/i&gt; dan pembenahan manajemen sumber daya budaya kearah yang lebih baik.  &lt;i&gt;The right man in the right place&lt;/i&gt; nampaknya sulit di terapkan di Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tapi di balik segala masalah yang pelik ini, gemerlapnya layar hiburan yang membius para  treasures seeker, menumpuknya angkatan pencari kerja,  angkuhnya tembok-tembok penguasa dan budak kapital penjual aset-aset bangsa.... Lebih dari sekedar produk konsumsi, Arkeologi mengusung nilai yang lebih penting lagi yaitu sebuah proyek idealis yang menuntut tanggung jawab bersama demi kemanusiaan dan identitas bangsa yang mau tidak mau harus diteruskan kepada generasi penerus dan pelurus bangsa yang tidak hanya “mentok” pada batasan-batasan karir semata. Seperti halnya yang dinyatakan oleh Calne:&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;“Keselamatan kita, sebagai hewan sosial, tergantung pada kemampuan kita berbicara dan mengerti, dan keampuhan kebudayaan moderen berasal dari terciptanya tulisan barang lima ribu tahun yang lalu. Semua peradaban besar di dunia ini sekarang dibangun diatas dasar manfaat tulisan dan bacaan. Dan jauh sebelum itu... apa yang kita tahu mengenai sejarah pratulis adalah berkat arkeologi...”&lt;br /&gt;(Calne, 2005: 38&amp;amp;84)&lt;/blockquote&gt;&lt;p align="justify"&gt;Untuk menjawab tantangan ini, dewasa ini banyak sekali komunitas-komunitas pencinta budaya di Indonesia dengan berbagai visi dan misi. Selain sebagai sarana berkreasi, dan mengintelektualisasikan diri,...komunitas ini mampu memperlihatkan eksistensinya ditengah arus globalisasi ekonomi yang semakin gencar. Lihatlah kreatifitas kelompok yang terkenal dengan Dagadu atau Joger-nya. Dengan tetap mengusung tema pelestarian budaya, kelompok-kelompok ini mampu menghasilkan keuntungan dan nama besar, sekaligus membuka peluang kerja.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Indonesia adalah negeri yang kaya. Negeri ini menyimpan banyak potensi  baik propinsi, suku-bangsa, bahasa, adat-istiadat, macam kuliner, dan lain-lain yang tersebar di 276.000  pulau dengan kandungan potensi arkeologi yang belum tergali. Itu merupakan aset yang sangat berharga. Siapa lagi yang akan memberdayakannya selain kita sebagai generasi penerus bangsa? &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Jadi sebenarnya, &lt;i&gt;Archaeology is a dynamically expanding subject&lt;/i&gt;. Calne mengingatkan kita bahwa, lebih dari romantisme akan kenangan masa lalu, arkeologi merupakan dasar dari terbentuknya peradaban moderen sekarang ini. Arkeologi memberi kita “harta karun” agar belajar dari sejarah untuk masa depan yang lebih baik.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Peluang karir yang sesuai mungkin terbatas di dunia nyata, tapi tidak dalam imajinasi&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Lihatlah biografi JFK, Sukarno, Bill Gates, Sayyid Quthb. Mereka semua adalah pengkhayal.  Imajinasi merupakan tulang punggung penyangga kreativitas dan sebagian dari potensi ledakan kepahlawanan (Annis Matta)  kita. Kecintaan kita pada Arkeologi dapat ditransformasikan dalam berbagai bentuk dan kreasi. Jadilah aktif, kritis dan kompeten. Teruslah berkarya dan ingat:&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;“Everything that You Can Imagine Is Real”&lt;br /&gt;(Albert Einstein)&lt;/blockquote&gt;&lt;p align="right"&gt;(Rusyanti)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3706042246538351987-2175413470183027505?l=tinulad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tinulad.blogspot.com/feeds/2175413470183027505/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3706042246538351987&amp;postID=2175413470183027505' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/2175413470183027505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/2175413470183027505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tinulad.blogspot.com/2008/03/archaeology-unfinished-work.html' title='Archaeology: The Unfinished “Work”'/><author><name>tinulad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05711931021252337849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3706042246538351987.post-1123628804989166793</id><published>2008-02-18T21:45:00.000+07:00</published><updated>2008-02-18T21:47:31.602+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tokoh'/><title type='text'>Laksamana Cheng Ho</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Cheng Ho merupakan sebuah sosok yang memiliki banyak sekali nama. Beberapa ada yang menyebutnya Zheng He, Sam Po Kong, Sam Po Toa Lang, Sam Po Thay Jien, Sam Po Thay Kam, dan sebuah nama lagi  disebutkan dalam sebuah berita Ming Shi (Sejarah dinasti Ming), bahwa “Zheng He berasal dari Propinsi Yunnan, dikenal sebagai Kasim San Bao”. Tokoh ini kurang diperhatikan pada masa feodal Cina di masa lalu karena dia adalah seorang kasim, dan kasim tidak dihargai di Cina pada masa itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cheng Ho berasal dari suku Hui yang anggota sukunya banyak yang memeluk Islam, termasuk ayah dan kakeknya. Beberapa ahli ada yang menyatakan keluarga ini sebagai keturunan Nabi Muhammad, tetapi tak sedikit pula yang menentang. Cheng Ho hidup sejak 1371-1433 M, dan selama masa hidupnya dia sudah memimpin armada pelayaran selama 28 tahun dengan 7 kali pelayaran berturut-turut untuk mengunjungi banyak negara, baik di Asia maupun Afrika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tujuh pelayarannya tersebut, dia mampir ke Sumatera sebanyak 7 kali dan ke Jawa sebanyak 6 kali karena dia tidak singgah ke pulau ini pada pelayarannya yang ke-enam. Akan tetapi di Jawa ada sebuah bangunan yang dibuat untuk mengenang Cheng Ho, yaitu Klenteng Sam Po Kong di Semarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut cerita, pada pertengahan abad 15 Cheng Ho berlabuh di Simongan, Semarang, karena pembantunya, Wang Jing-hong, sakit. Untuk menjaga kesehatannya Cheng Ho memerintahkan Wang beserta 10 awak kapal menetap sementara di Semarang, sementara ia dan awak lain meneruskan perjalanan. Dengan segera Wang menjadi betah dan memutuskan menetap.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusannya ini membawa banyak perubahan bagi daerah tersebut. Karena kemudian, ia dan 10 awak lain bercocok tanam, membuat rumah, menikah dengan wanita setempat, dan berdagang dengan menggunakan satu kapal yang ditinggalkan Cheng Ho, serta menyebarkan agama Islam. Lama kelamaan daerah tersebut menjadi ramai dan berkembang pesat. Untuk mengenang jasa Cheng Ho ia membuatkan sebuah patung yang kemudian dipuja oleh masyarakat setempat setiap tanggal 1 dan 15 bulan Imlek. Selanjutnya dibangun juga sebuah klenteng di tempat tersebut yang dikenal dengan nama Klenteng Sam Po Kong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Cheng Ho meninggal, banyak orang yang berselisih paham mengenai letak makamnya. Sebagian mengatakan berada di Semarang, sebagian lain yakin makam tersebut ada di Gun Ming, Yunan. Sementara keturunannya sendiri berpendapat makam moyang mereka tersebut terletak di Nanjing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, kebanyakan masyarakat berpendapat bahwa Cheng Ho cukup berjasa bagi dunia. Karena selain menyebarkan Islam, dia juga memperbanyak pengetahuan mengenai laut Pasifik dan Hindia, membuat 24 peta navigasi, menghalau bajak laut yang dapat menghambat perdagangan, dan membuka jalan untuk pertukaran kebudayaan. &lt;b&gt;(nisa)&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dari Sam Po Kong dan Indonesia karya Kong Yuan Zhi)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3706042246538351987-1123628804989166793?l=tinulad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tinulad.blogspot.com/feeds/1123628804989166793/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3706042246538351987&amp;postID=1123628804989166793' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/1123628804989166793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/1123628804989166793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tinulad.blogspot.com/2008/02/laksamana-cheng-ho.html' title='Laksamana Cheng Ho'/><author><name>tinulad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05711931021252337849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3706042246538351987.post-7609969318987049405</id><published>2008-02-12T23:19:00.002+07:00</published><updated>2008-12-22T18:10:32.222+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Witting Tresno'/><title type='text'>Witing Tresno</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;img src="http://i18.photobucket.com/albums/b136/bulatpenuh/tinulad/kamra.jpg" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prakata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Februari. Bulan kedua dalam penanggalan surya ini sering dianggap sebagai bulan penuh cinta. Love is in the air. Setidaknya demikianlah anggapan sebagian besar masyarakat dunia, terinspirasi dari kebudayaan Romawi yang merupakan salah satu kebudayaan besar dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi tulisan ini tidak akan membahas perayaan yang hanya dalam satu hari dapat membuat dunia bernuansa merah jambu. Alasannya? Bukan karena adanya pro – kontra perayaan Valentine’s Day yang sering dilandasi alasan ideologi, juga teologi. Tetapi karena ada hal menarik lain yang merupakan substansi dari perayaan itu, yang tentunya bersifat sangat universal: Cinta.&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Bicara cinta, tentu saja akan terbayang sesuatu yang mellow-jello atau bahkan roman-picisan. Seperti halnya yang ditulis Plato dalam Symposium tentang soulmate: dua jiwa yang dipisah, kemudian apabila dipertemukan akan terasa… sempurna. Ironisnya, kisah Plato tersebut terinspirasi ocehan Aristophane ketika sedang mabuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi cinta tidak selalu bersifat melankolis dan romantis. Erich Fromm, seorang filsuf, bahkan menganggap cinta dapat membebaskan manusia dari keterasingan. Selama manusia menjadikan cinta sebagai suatu yang produktif: memiliki perlindungan, tanggung jawab, penghormatan, dan pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusing? Memang lebih menyenangkan apabila tidak membicarakan cinta secara filosofis. Sepertinya banyak yang sepakat apabila cinta lebih menyenangkan apabila diceritakan. Apalagi Indonesia juga memiliki banyak sumber cerita menarik tentang cinta, terutama yang bersumber dari masyarakat Jawa Kuna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan berarti terpengaruh Orde Baru apabila kami membicarakan kisah cinta yang banyak bersumber dari Jawa. Tidak dapat disangkal lagi, masyarakat Jawa Kuna merupakan masyarakat yang produktif dalam menghasilkan kisah roman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya dalam bentuk tradisi lisan, bahkan kisah-kisah tersebut tercatat dengan baik dalam bentuk tulisan. Tidak hanya itu, kisah-kisah tersebut juga divisualisasi dengan jelas dalam bentuk relief cerita. Walaupun mendapat pengaruh dari kebudayaan India, namun cerita-cerita tersebut telah digubah sesuai dengan kebudayaan mereka sendiri (local genius).&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Untaian "Petulangan" Cinta Arjuna&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tokoh yang populer dalam hal percintaan, bahkan hingga sekarang, adalah Arjuna. Salah satu tokoh Pandawa ini dikenal karena ketampanan fisiknya. Konon Arjuna memiliki setengah dari seluruh ketampanan dunia yang diberi oleh para dewa, sementara setengah yang lain dibagikan kepada seluruh pria di dunia. Namun bagaimanakah sebab-musabab Arjuna dikenal sebagai sosok yang mencari cinta? &lt;p align="justify"&gt;Banyak naskah yang bercerita tentang ‘petualangan cinta’ Arjuna, antara lain Adiparwa, Subadhrawiwaha (pernikahan Subadhra), dan Arjunawiwaha (pernikahan Arjuna). Dalam salah satu fragmen cerita yang digubah dari Mahabharata, dikisahkan tentang sayembara yang diadakan raja Drupada, dan diikuti para Pandawa. Singkat cerita, para Pandawa berhasil menang, dan berhak mendapatkan putri raja, Drupadi, sebagai istri para Pandawa.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Para Pandawa membuat aturan mengenai saat-saat mereka menemani Drupadi, antara lain tidak mendekat saat salah satu dari mereka sedang bersama Drupadi. Namun, saat Yudhistira sedang bersama Drupadi, secara tidak sengaja Arjuna mendekati mereka berdua. Untuk menghindari perselisihan, Arjuna mengalah, memilih mengembara selama dua belas tahun, kemudian berikrar kepada Yudhistira (kakak tertua para Pandawa) tidak akan bercinta selama kurun waktu tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Kemudian dalam pengembaraannya Arjuna bertemu dengan Ulupuy, putri raja naga Korawya. Ulupuy-lah yang mematahkan ikrar Arjuna, dengan mengatakan bahwa ikrar itu hanya berlaku untuk Drupadi. Arjuna kemudian luluh, mengikuti Ulupuy ke dunia bawah, kemudian menikahinya.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Mungkin Ulupuy pula yang menjadi pintu bagi ‘petualangan cinta’ Arjuna. Karena kemudian Arjuna meninggalkannya dan kembali mengembara. Dalam pengembaraan berikutnya, tercatat nama Citragandha, Subadhra, Suprabha, dan Tilottama sebagai bagian dari ‘petualangan cinta’ Arjuna.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Citragandha merupakan putri raja Citradahana, yang membolehkan Arjuna menikahi putrinya selama Arjuna berjanji akan memberinya cucu laki-laki. Buah pernikahan Arjuna dengan Citragandha adalah Wabruwahana. Kemudian setelah memberikan cucu laki-laki kepada raja Citradhana, Arjuna kembali mengembara.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Pengembaraan berikutnya mempertemukannya dengan Krsna, juga Subadhra, adiknya Krsna. Konon Subadhra memiliki setengah dari seluruh kecantikan yang ada dunia, yang setengahnya ada pada perempuan seluruh dunia. Ketika melihat Subadhra pertama kali, Arjuna jatuh hati kepadanya. Namun Krisna menyarankan Arjuna untuk melarikan Subadhra. Karena kesaktiannya, Arjuna tidak dapat ditangkap. Kemudian Arjuna pun dinikahkan dengan Subadhra, juga atas usul Krsna kepada keluarganya, dengan pertimbangan kesaktian dan status Arjuna sebagai Pandawa.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Sedangkan Suprabha dan Tilottama adalah dua dari tujuh bidadari yang dinikahi oleh Arjuna, yang terdapat dalam naskah Arjunawiwaha. Kitab yang digubah Mpu Kanwa pada masa pemerintahan Erlangga ini bercerita tentang usaha Arjuna untuk membunuh Niwatakawaca, seorang raksasa (daitya) yang berusaha menyerang dan menghancurkan surga, kerajaan Indra. Sebagai rasa terima kasih, Indra pun menikahkan Arjuna dengan tujuh bidadari, termasuk Suprabha dan Tilottama. Namun, tidak jelas kronologi kisah ini dalam ‘petualangan cinta’ Arjuna: apakah sebelum, sesudah, atau ketika ia menikah dengan Subadhra?&lt;/p&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kesetiaan Rama - Sita&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;p align="justify"&gt;Hmm… Tentu tidak semua kisah cinta seperti halnya Arjuna. Banyak juga, kok, kisah cinta dari masa Jawa Kuna yang menceritakan tentang kesetiaan. Mau bukti?! Kisah-kisah berikut adalah beberapa contohnya.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Tentu nama Rama – Sita tidak terdengar asing lagi. Kisah yang digubah oleh Valmiki ini kembali ditulis oleh penyair Jawa Kuna yang diperkirakan berasal dari zaman Kediri abad ke-11 atau ke-12. Mungkin bisa dibilang kalau kisah ini merupakan cinta segitiga dengan tokoh-tokoh yang paling dikenal di masyarakat Indonesia: Rama, Sita, dan Rawana.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Konon Rawana jatuh hati kepada Sita, yang ternyata sangat mencintai Rama. Rawana pun kemudian menculik Sita ke kerajaannya di Alengka. Rawana juga melakukan segala hal yang dapat menyenangkan hati Sita. Bahkan Alengka pun dipenuhi ribuan bulan bulat tiap malam, sebagai persembahan cinta Rawana kepada Sita. Namun Sita tetap sangat merindukan Rama.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Begitu pula dengan Rama, yang melewatkan musim hujan di gunung Malyawan dalam kedukaan yang dalam. Dalam pupuh ketujuh kitab Ramayana, kerinduan itu dituliskan dengan sangat puitis: “musim yang menimbulkan rasa rindu akan kekasih”. Kerinduan yang ironis, karena kemudian menyebabkan terbakarnya Alengka akibat serangan Rama yang dibantu adiknya, Laksmana, serta pasukan kera pimpinan Hanuman. Sita pun terlepas dari cengkraman Rawana, setelah Rama berhasil menewaskannya.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Akan tetapi ‘scene’ klasik layaknya love story lain, dimulai pada bagian berikutnya. Rama merasa mereka sudah tidak bisa hidup sebagai suami-istri lagi karena Sita sudah begitu lama hidup dengan Rahwana dan pengikutnya, yang notabene adalah musuh mereka. Sita yang terluka hatinya mencoba membuktikan kesuciannya dengan membakar dirinya sendiri dalam api. Agni, sang dewa api membantunya karena pada saat Sita menerjunkan diri api langsung berubah menjaid bunga teratai emas. Hal ini melenyapkan kecurigaan Rama dan akhirnya mereka bersatu kembali dan kembali ke Ayodhya sebagai raja dan permaisuri.&lt;/p&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengorbanan Kama - Ratih&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;p align="justify"&gt;Beda lagi dengan Kama – Ratih. Kisah yang tertulis dalam Smaradahana (api asmara) gubahan Mpu Dharmaja pada paruh abad terakhir kerajaan Kadiri ini, bercerita tentang kesetiaan yang berakhir sangat dramatis.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Kisah berawal dengan ancaman yang melanda kahyangan oleh raksasa bernama Nilarudraka. Tak ada seorang pun dewa yang mampu mengalahkannya, kecuali seorang putra dari benih Siwa. Namun, saat itu Siwa sedang bertapa dan sama sekali tak bisa diganggu.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Para dewa kemudian mengadakan pertemuan, yang dipimpin oleh dewa Indra. Kemudian, atas usul Wrhaspati, seorang penasehat, para dewa sepakat untuk mengutus dewa cinta, Kama, untuk mengobarkan hati Siwa dengan asmara dan kerinduan terhadap Uma, permaisurinya.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Kama pun bersedia menerima tugas dari para dewa, dan berangkat menuju tempat Siwa sedang bertapa. Kama kemudian melepaskan beberapa panah berbentuk bunga, untuk membangkitkan kerinduan dewa tertinggi tersebut terhadap Uma. Berhasil. Siwa pun terbangun dari tapanya karena merindukan Uma. Kelak, lahir Ganesha sebagai buah cinta Siwa – Uma, yang akan mengalahkan Nilarudraka.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Akan tetapi, Siwa sangat marah setelah mengetahui tapanya diganggu oleh sang dewa asmara. Siwa lalu membakar Kama dengan mata ke-tiganya (trinetra) hingga menjadi abu. Mengetahui musibah yang menimpa Kama, Indra dan dewa yang lain kemudian datang untuk menjelaskan kejadian sebenarnya. Mereka lalu meminta Siwa untuk menghidupkan Kama kembali. Karena, tanpa Kama tidak akan ada cinta, dan akan banyak hal buruk di dunia tanpa adanya cinta. Siwa sependapat, tetapi hanya akan menghadirkan suksma (sukma) Kama, dan tidak dalam bentuk fisik.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Mengetahui kabar yang menimpa suaminya, Ratih merasa sangat sedih. Tanpa Kama, ia hanya merasakan hidup bagai “menceburkan diri ke dalam api”. Wrahaspati kemudian menjelaskan bahwa mereka berdua masih dapat saling bertemu, walau hanya dalam bentuk suksma.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Di perabuan Kama, Ratih menegaskan kesetiaannya yang tak akan goyah. Api di perabuan Kama kemudian kembali menyala tinggi, seolah mengajak Ratih untuk menemani Kama. Setelah memurnikan pikirannya melalui yoga, Ratih kemudian menceburkan diri ke dalam api. Mengorbankan bentuk fisiknya untuk menyatukan kembali suksma mereka berdua.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Bentuk fisik Kama dan Ratih pun bersatu menjadi abu. Dan, hingga kapan pun suksma mereka juga akan terus bersatu. Kama akan menjelma pada hati setiap lak-laki. Sedangkan Ratih akan menjelma pada hati setiap perempuan.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Hmm… It sounds so deep…&lt;/p&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Love is (Not) Blind&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;p align="justify"&gt;Banyak orang mengatakan kalau cinta itu buta. Jatuh cinta pun sering membuat manusia lupa segalanya, kecuali orang yang dikasihinya. Lihatlah Rawana, berjuta bulan bulat selalu dipersembahkan kepada Sita tiap malam. Sedangkan tak sedegup pun hati Sita bergetar kepada Rawana, karena rindunya yang teramat dalam kepada Rama. Sia-sia? Hanya Rawana yang mampu menjawabnya.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Namun, tidak selamanya cinta membuat manusia itu buta. Beberapa kisah cinta masyarakat Jawa Kuna mengajarkan bahwa cinta tidak hanya tentang mengagungkan rasa cinta itu sendiri. Ya, cinta tidak hanya tentang rasa, tetapi juga pengorbanan dan dharma. Dan, tentu saja hal itu membutuhkan kesadaran hati dan pikiran. Seperti salah satu kisah yang terdapat dalam Tantri Kamandaka berikut.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Alkisah, terdapat seorang raja yang bernama Aridarma (Angling Darma? –ed.), yang mencegah seorang putri naga dari perbuatan tidak senonoh. Atas perbuatannya itu, oleh raja naga Aridarma diberikan kemampuan bicara bahasa binatang. Akan tetapi, syaratnya adalah Aridarma harus merahasiakan kemampuannya itu, atau ia akan mati. Aridarma pun menyanggupinya.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Suatu ketika, saat sedang bermesraan dengan permaisurinya, Aridarma mendengar ucapan seekor cicak betina: “Aduhai, ingin sekali aku diperlakukan mesra seperti yang didapatkan Dewi Mayawati. Tidak seperti aku yang ditinggal suami dalam sepi.”&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Mendengar itu, Aridarma hanya tersenyum. Ketika melihat suaminya tersenyum, Mayawati penasaran. Kemudian ia bertanya kepada suaminya. Akan tetapi, Aridarma diam, tidak menjawab rasa penasaran Mayawati. Ditikam sejuta penasaran, Dewi Mayawati terus mendesak, namun Aridarma tetap diam, karena ia akan mati, sesuai syarat yang diberikan raja naga.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Hingga kemudian, penasaran Dewi Mayawati berubah menjadi emosi. Ia lalu berkata “Baiklah, kalau begitu hamba lebih baik mati.”&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Aridarma menjawab, “Baiklah kalau demikian. Buatkan tempat pembakaran. Kalau aku ceritakan, itu hanya akan membuatku mati. Nanti akan aku ceritakan di tempat kita akan terbakar bersama-sama. Sehingga matilah kita bersama-sama.”&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Para pengawal kemudian mempersiapkan tempat pembakaran. Ketika di atas panggung, Aridarma mendengar obrolan sepasang kambing.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Kambing betina berkata, “Mas, ambilkan aku janur kuning dekat tempat pembakaran itu, dong.”&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Tapi kemudian kambing jantan menjawab. “Pikirmu apa? Tidakkah kau melihat tempat itu dipenuhi para penjaga yang membawa senjata? Apa kamu mau aku disemblih?”&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Kambing betina kemudian merengek, “Kalau kamu tidak mengabulkan, lebih baik aku mati saja.”&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Sambil marah-marah, sang jantan lalu menjawab. “Kalau mau mati, mati saja! Tidak mau aku seperti raja bodoh itu. Hanya untuk memenuhi keinginan sang istri, dia memilih mati. Beda dengan aku, mau cinta, mau tidak cinta juga terserah…!”&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Setelah mendengar ucapan kambing jantan, Aridarma pun tersadar, lalu turun dari panggung tempat pembakaran. Ia memutuskan untuk tidak secepat itu meluluskan permintaan permaisurinya tercinta. Bagaimanapun juga, Aridarma adalah raja, dan dharma seorang raja adalah kepada rakyatnya, bukan hanya kepada istri.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Namun, Mayawati tetap menerjunkan dirinya ke dalam api. Begitu pula dengan kambing betina.&lt;/p&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;All We Need is Love&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;p align="justify"&gt;Ckkk… ckkk… ckkk… Dahsyat juga, ya, apa yang telah ditulis masyarakat Jawa Kuna. Ternyata, cinta merupakan sumber inspirasi yang dapat dijadikan pelajaran dalam kehidupan. Datangnya cinta memang dapat menghasilkan berjuta akibat. Mulai dari rivalitas yang menyebabkan peperangan; hingga tentang perjuangan dan pengorbanan.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Betapa pun cinta dapat membuat manusia menjadi buta, namun seperti yang diajarkan naskah-naskah Jawa Kuna: bukan cinta yang hendaknya diagungkan. Tetapi dharma kepada cinta-lah yang harus diperjuangkan. Seperti yang dikatakan Erich Fromm (1947), yang dibutuhkan manusia adalah cinta yang produktif: memiliki perlindungan, tanggung jawab, penghormatan, dan pengetahuan. (Bayu Galih/Khairun Nisa, Februari 2008)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3706042246538351987-7609969318987049405?l=tinulad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tinulad.blogspot.com/feeds/7609969318987049405/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3706042246538351987&amp;postID=7609969318987049405' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/7609969318987049405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/7609969318987049405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tinulad.blogspot.com/2008/02/februari.html' title='Witing Tresno'/><author><name>tinulad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05711931021252337849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i18.photobucket.com/albums/b136/bulatpenuh/tinulad/th_kamra.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3706042246538351987.post-4678868168725766554</id><published>2008-01-29T14:10:00.000+07:00</published><updated>2008-01-30T11:16:06.266+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Tahun Baru di Dunia</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Baru dua bulan berada di 2008, Indonesia sudah disambangi tiga tahun baru berbeda yang berhasil memperbanyak jumlah hari libur nasional. Yang pertama, tentu saja tahun baru 2008 yang jatuh pada 1 Januari lalu. Penetapan tanggal 1 Januari sebagai tahun baru sebenarnya sudah sejak masa Romawi Kuno. Awalnya mereka menetapkan 1 Maret sebagai tahun baru namun kemudian beralih pada 1 Januari. Pada abad pertengahan, ada banyak negara di Eropa yang menetapkan 25 Maret (Hari Kenaikan Tuhan) sebagai tahun baru hingga tahun 1600 ketika mereka beralih pada Kalender Gregorian yang menetapkan 1 Januari sebagai tahun baru.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya berselang beberapa hari, giliran jatuh pada Tahun Baru Muharram 1429 H. Ummat Islam menggunakan Kalender Hijriyah yang dinamakan demikian karena tahun pertamanya (622 M) adalah tahun ketika Nabi Muhammad hijrah dari Makkah ke Madinah. Namun tahun Hijriyah baru mulai didiskusikan setelah Nabi Muhammad wafat.  Ada yang mengusulkan agar patokan yang digunakan adalah tahun kelahiran nabi, namun ada juga yang mengusulkan diambilnya tahun ketika nabi wafat. Akhirnya pada 638 M, khalifah Umar bin Khatab menetapkan awal patokan penanggalan Islam adalah tahun dimana hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah, dan tanggal 1 Muharam tahun 1 Hijriyah bertepatan dengan 16 Juli 622.        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun baru ketiga adalah tahun baru Imlek yang jatuh pada bulan ini. Kalender Imlek sudah dikembangkan jauh sebelum Masehi, tepatnya pada millenium ketiga sebelum masehi, dan konon ditemukan oleh penguasa legendaris pertama, Huáng Dì. Saat tahun baru, ada beberapa tradisi yang sudah turun-temurun dilakukan oleh masyarakat Tionghoa di antaranya, membakar petasan, saling mengunjungi dan memberi hormat serta yang paling populer yaitu angpao. Makanan khas Imlek adalah kue keranjang, yang menurut mitosnya diperuntukkan bagi dewa dapur. Tahun baru Imlek ditentukan berdasarkan perhitungan lunar (peredaran bulan) yang dikombinasikan dengan perhitungan solar (peredaran matahari) dan pergantian musim dari musim dingin ke musim semi. Tahun pertama Imlek diambil dari tahun kelahiran Khong Hu Cu atau Kong Fu Tse pada 551 SM.        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, selain tiga tahun baru yang disebutkan diatas, ada banyak tahun baru lain yang dirayakan di seluruh dunia. Umat Sikh merayakan tahun baru berdasarkan Kalender Nanakshahi setiap 14 Maret. Kalender Nanakshasi sebenarnya adalah kalender solar yang diadopsi oleh  Shiromani Gurdwara Prabhandak Committee dan didesain oleh Pal Singh Purewal untuk menggantikan kalender Hindu.            &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Tamil, baik yang berada di India maupun di belahan dunia lainnya, merayakan tahun baru yang jatuh di sekitar tanggal 14 April. Di tahun 2008, petinggi Tamil Nadu memutuskan tahun baru Tamil akan bertepatan dengan dimulainya bulan Suravam dan diadakannya Festival Pongal.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jepang merayakan tahun baru dan pergantian shio (Eto) secara bersamaan pada tanggal 1 Januari. Dahulu, kalender Jepang didasarkan pada kalender Tionghoa, sehingga mereka merayakan tahun baru di awal musim semi, bersamaan dengan Tahun baru Imlek, Tahun baru Korea, dan Tahun baru Vietnam, namun pada 1873 pemerintah Jepang mulai menggunakan kalender Gregorian sehingga tahun baru ikut dirayakan tanggal 1 Januari. Hari-hari di awal tahun baru ditandai dengan Hatsumode berupa kunjungan pertama ke kuil agama Shinto dan Buddha. Makanan khas tahun baru disebut Osechi, salah satunya adalah sup zoni dari kuah dashi yang berisi mochi dan sayur-sayuran. Penutupan perayaan tahun baru ditandai dengan memakan bubur nanakusa yang dimasak dengan 7 jenis sayuran dan rumput.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Ethiopia merayakan tahun baru yang disebut Enkutatash dan jatuh setiap tanggal 11 atau 12 September. Tahun baru akan selalu jatuh di tanggal ini pada tahun 1900 hingga 2099, namun akan jatuh di tanggal yang berbeda pada abad yang lain.        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun baru sebagai sebuah perayaan ketika merayakan berakhirnya masa satu tahun dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya memang hanya akan terjadi di suatu kebudayaan yang memiliki kalender tahunan. Dengan begitu banyaknya populasi di dunia, masing-masing dengan kebudayaan yang berbeda-beda, maka tidak mengherankan jika ada banyak tahun baru yang dirayakan. Namun ada satu kesamaan, semuanya dirayakan dengan penuh keriangan, karena tahun baru adalah saat dimana banyak harapan baru mulai disemai dan tumbuh. (dari berbagai sumber) &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3706042246538351987-4678868168725766554?l=tinulad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tinulad.blogspot.com/feeds/4678868168725766554/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3706042246538351987&amp;postID=4678868168725766554' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/4678868168725766554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/4678868168725766554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tinulad.blogspot.com/2008/01/tahun-baru-di-dunia.html' title='Tahun Baru di Dunia'/><author><name>tinulad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05711931021252337849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3706042246538351987.post-4419062725749533268</id><published>2008-01-29T12:29:00.000+07:00</published><updated>2008-01-30T11:11:19.166+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Pulanglah Dia Si Arca Hilang</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Beberapa orang mungkin menganggap topik ini usang, tapi sengaja kami angkat kembali demi membuktikan tak semua manusia yang hidup di Indonesia memiliki sifat latah yang sudah membudaya. Untuk mengetahui seberapa latahnya bangsa ini, mungkin kita bisa memundurkan ingatan beberapa tahun ke belakang, saat maraknya berita soal penemuan 'hobbit' yang dengan bangganya diumumkan Australia kepada dunia internasional. Seketika Indonesia kebakaran jenggot, lalu berubah marah dan gusar, sebab penemuan penting di tanah air malah diumumkan seenaknya oleh Mike Morwood dan Peter Brown dalam sebuah konferensi pers di Sydney, Australia, tanpa kehadiran peneliti Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang benar nasib Indonesia. Punya lahan yang kaya artefak dan situs penting, punya peneliti sendiri yang mampu meneliti artefak-artefak tersebut, namun tak punya dana hingga terpaksa bekerja sama dengan negara lain, penyokong yang kemudian mengambil alih penelitian tersebut. Tapi hanya segitu saja, setelah media dan beberapa kelompok masyarakat puas merasa panik dan marah akan kasus tersebut, maka semuanya terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus dengan negara tetangga juga tak jauh berbeda. Ketika Malaysia sang 'saudara serumpun' menggunakan lagu Rasa Sayange untuk website kebudayaan mereka, serentak seluruh rakyat Indonesia marah, terutama karena setelah Rasa Sayange, ada pencurian beruntun lainnya. Internet dijadikan media ketika banyak orang menumpahkan kemarahan mereka di beberapa forum bebas maupun blog, bahkan hacker asal Indonesia sempat membajak situs tersebut. Tapi setelah itu apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada kasus pencurian benda-benda purbakala di Museum Radya Pustaka yang berhasil terkuak, lingkaran setan yang sama juga kembali terulang. Pembahasan ramai dimana-mana, mengenai Hasjim, Krueger, lemahnya mental dan pengawasan para pegawai museum, sampai ketakcakapan pemerintah. Namun seiring dengan berjalannya waktu maka berita mengenai Hasjim, atau Museum Radya Pustaka-pun makin jarang ditemui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulai dari terkuaknya keberadaan arca-arca palsu di Museum Radya Pustaka tahun 2007 kemarin. Untunglah dua petugas Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah berhasil mengendus ketidakberesan pada arca yang tersimpan di ruang belakang Radya Pustaka, September lalu. Kecurigaan itu muncul sebab arca Agastya di museum tersebut memiliki perbedaan yang sangat mencolok jika dibandingkan dengan wujud di dalam foto dokumen BP3 yang diambil pada 2001. Ternyata tak hanya satu arca yang palsu, Agastya memiliki empat 'teman' lain yang juga bernasib sama, yaitu Durga Mahisasura Mardini, Durga Mahisasura Mardini II, Siwa, dan Mahakala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkuaknya kasus lima arca tersebut mendorong penyelidikan lebih lanjut, hingga BP3 Jawa Tengah mengumumkan ada enam benda koleksi lain yang telah hilang dan dipalsukan, yaitu dua arca perunggu, sebuah kap lampu perunggu, dua buah keramik yang salah satunya berasal dari Dinasti Ming, dan sebuah tempat buah-buahan hadiah dari Napoleon Bonaparte kepada Pakubowono X.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah tersebut memang bukanlah kerugian yang sedikit, namun tanpa bermaksud mendukung pencurian yang melanggar hukum tersebut, terpikirkan oleh kami, benarkah arca-arca tersebut dalam keadaan yang lebih baik jika berada di tangan museum dan pemerintah? Kalau beberapa museum yang sudah kami kunjungi seperti Museum Nasional dan Fatahillah, bisa dijadikan patokan bagi kualitas museum-museum di Indonesia, maka bisa dipastikan museum adalah tempat yang mengerikan bagi benda-benda bersejarah tersebut. Pasti sudah banyak yang tahu betapa arca-arca di museum dalam kondisi yang aus dan berjamur, terlihat seperti tak dirawat sama sekali. Alasannya? Klise: kurang dana dan kurang orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, mungkin saja akan lebih baik arca-arca tersebut dicuri dan dibeli oleh kolektor pribadi yang mampu merawat mereka dengan lebih baik. Pencurian benda bersejarah yang dilindungi hukum memang salah, namun menelantarkan benda tersebut adalah tindakan yang sama salahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin suatu ketika, saat museum kita sudah mampu memperlakukan museum kita benda-benda koleksi mereka dengan lebih 'manusiawi', maka mungkin itulah saat paling pantas bagi orang Indonesia untuk mengutuk pencurian dan pejualan ilegal benda-benda cagar budaya milik negara.  &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3706042246538351987-4419062725749533268?l=tinulad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tinulad.blogspot.com/feeds/4419062725749533268/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3706042246538351987&amp;postID=4419062725749533268' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/4419062725749533268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/4419062725749533268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tinulad.blogspot.com/2008/01/pulanglah-dia-si-arca-hilang.html' title='Pulanglah Dia Si Arca Hilang'/><author><name>tinulad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05711931021252337849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3706042246538351987.post-7175173638679905814</id><published>2007-10-23T15:36:00.000+07:00</published><updated>2008-01-29T14:15:59.740+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Lebaran dan Ragam Budaya Indonesia</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Di negeri kami, Indonesia, Lebaran merupakan suatu keunikan. Lihat saja dari penggunaan Ketupat sebagai atribut utama perayaan. Sebuah simbol yang memperlihatkan keanekaragaman budaya. Sehingga Lebaran kami pun tidak harus identik dengan unta dan pohon kurma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya setelah Sholat Ied, seluruh keluarga berkumpul untuk tradisi sungkeman, tanda bakti anak kepada orang tua. Ayah berpakaian batik dan Ibu berpakaian kebaya, jenis-jenis pakaian tradisional negeri kami, yang kini diklaim Malaysia. Selain itu beberapa dari kami juga menggunakan baju koko, perpaduan tradisi Cina dan Nusantara, tapi kami tidak pernah mengklaim baju koko berasal dari Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah keluarga inti saling bermaafan, kami kedatangan keluarga besar. Paklik Heru yang baru menikah dengan gadis Palembang datang paling awal. Bibi baru kami terlihat cantik dengan kain songket yang dikenakan. Kata Bibi, songket itu pun direncanakan akan dipatenkan oleh Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah paman datang, Bulik Rina dan Paman Fauzan tiba sekitar setengah jam kemudian. Setelah Ibu mempersiapkan hidangan untuk disantap beramai-ramai. Ada Opor Ayam dan Rendang yang menemani Ketupat. Paman Fauzan kemudian bersungut-sungut kesal ketika bercerita kalau Rendang, makanan Padang, dipatenkan juga oleh Malaysia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ayah lalu berusaha menenangkan. Beliau juga bercerita kalau lagu kebangsaan Malaysia, Negaraku juga diduga merupakan jiplakan lagu Terang Bulan yang sering dinyanyikan kakek. Jadi menurut Ayah seharusnya Pemerintah Indonesia lebih peduli akan hak cipta. Tapi lagu Rasa Sayange sekarang juga diklaim Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Begitulah biasanya Lebaran di negeri kami Indonesia, kaya akan ragam budaya. Mungkin disebabkan juga metode dakwah Sunan Kalijaga yang intensif melakukan pendekatan kepada masyarakat melalui Budaya. Bahkan Sunan Kalijaga pun memodifikasi wayang, yang menurut J. L. A. Brandes merupakan kesenian asli Indonesia selain Batik, dalam metode dakwahnya. Tapi bahkan sekarang wayang juga diklaim Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Begitulah negeri kami Indonesia. Kaya ragam budaya, tapi miskin kesadaran budaya. Semoga anak-anak kami tidak menjadi seperti pendahulunya. (Oktober, 2007)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3706042246538351987-7175173638679905814?l=tinulad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tinulad.blogspot.com/feeds/7175173638679905814/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3706042246538351987&amp;postID=7175173638679905814' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/7175173638679905814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/7175173638679905814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tinulad.blogspot.com/2007/10/lebaran-dan-ragam-budaya-indonesia.html' title='Lebaran dan Ragam Budaya Indonesia'/><author><name>tinulad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05711931021252337849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3706042246538351987.post-3371280213882009007</id><published>2007-09-27T16:10:00.000+07:00</published><updated>2008-01-29T14:15:34.994+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Tradisi Kuliner Nusantara</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Tradisi. Kamus Besar Bahasa Indonesia memperkenalkannya sebagai adat kebiasaan turun temurun yang masih dijalankan dalam masyarakat. Umumnya berkaitan dengan hal-hal yang religius. Tapi tradisi tidak selamanya identik dengan ritual yang khusyuk. Tradisi juga bisa dalam bentuk segala macam kelezatan, lho!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini terlihat dalam tradisi aneka ragam makanan khas Nusantara. Tidak sekedar untuk mengisi perut atau mencari kelezatan semata. Tradisi kuliner khas Nusantara ternyata kaya dengan arti dan makna.  Berkenaan dengan tradisi Ramadhan, beberapa daerah di Indonesia memiliki tradisi kulinernya sendiri, baik dalam menyambut atau menjadi hidangan nikmat saat berbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munggahan misalnya. Tradisi yang terkadang juga dilafalkan sebagai Punggahan ini dikenal oleh masyarakat Jawa Barat dan Jawa Tengah bagian selatan. Disebut demikian karena mereka menganggap orang yang berpuasa itu munggah atau meningkat perasaannya. Biasanya dipersiapkan sajian dengan tujuh jenis lauk-pauk seperti sambal goreng, bakmi, gudangan (urap), tempe, daging/ayam goreng, telur, dan acar. Lauk yang memiliki cita rasa beragam ini dimaksudkan untuk melambangkan manusia yang mempunyai karakter dan kesenangan yang berbeda-beda. Walau aslinya berasal dari pulau Jawa, namun seiring dengan meluasnya populasi orang Jawa di daerah lain masyarakat luar Jawa juga mengenal tradisi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus Yogyakarta dan Solo, Ramadhan disambut dengan sajian ‘tiga serangkai’ yang terdiri dari ketan putih, kolak, dan apem. Ketan, yang kecil-kecil ukurannya namun menjadi satu dan saling melekat, melambangkan banyaknya orang yang menjalankan puasa dan menjadi satu. Ketan juga mengandung makna mengirim doa dan pengharapan agar arwah leluhur mendapat tempat yang baik di sisi Tuhan. Sedangkan putih melambangkan niat suci untuk memasuki bulan puasa, serta sudah bersatunya pikiran dan jiwa untuk menjalankan perintahNya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun apem yang berbentuk bulat seperti payung melambangkan kebulatan tekad untuk memohon perlindungan kepada Tuhan dan permohonan maaf bagi arwah leluhur kepada Tuhan. Kata apem juga berasal dari bahasa Arab, afwun, yang artinya permintaan maaf atau ampunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kolak berasal dari bahasa Arab, qola. Artinya, pernyataan atau ucapan syukur akan datangnya Ramadhan dan ibadah puasa yang akan dijalankan. Selain itu, juga sebagai pernyataan ikhlas menerima tugas agama ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm... Ternyata selama ini hidangan yang kita santap saat berbuka mempunyai maknanya. Semoga saja makna itu tidak menghilang secepat kita menyantapnya. Ada yang tahu makna makanan tradisional lain? *dari berbagai sumber* (September, 2007)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3706042246538351987-3371280213882009007?l=tinulad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tinulad.blogspot.com/feeds/3371280213882009007/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3706042246538351987&amp;postID=3371280213882009007' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/3371280213882009007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/3371280213882009007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tinulad.blogspot.com/2007/09/tradisi-kuliner-nusantara.html' title='Tradisi Kuliner Nusantara'/><author><name>tinulad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05711931021252337849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3706042246538351987.post-5778293414709107626</id><published>2007-09-06T12:52:00.000+07:00</published><updated>2008-01-29T14:14:24.084+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Sejarah di Balik Nama?</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Shakspeare, seorang sastrawan Inggris, pernah mengatakan: "What's in a name?" Tentu jawabnya bisa bermacam-macam. Walau bunga Mawar tetaplah wangi walau tidak tidak bernama Mawar. Jauh sebelumnya di jazirah Arabia, seorang Muhammad pernah mengatakan bahwa nama adalah doa, ada pengharapan ketika orang tua menamakan bayinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kita tidak bicara tentang nama yang melekat pada manusia. Lebih menarik apabila mengetahui latar belakang nama suatu wilayah. Ada proses panjang yang terjadi di sana: Baik itu proses sejarah, maupun latar belakang budaya yang melatarbelakangi pembentukan nama. Suatu proses yang tidak jarang membuat kening manusia berkernyit: Heran, takjub, atau bahkan merinding. Hingga tidak jarang sebuah nama terjadi bukan karena sebuah pengharapan, tapi lebih ke takdir. (It's a little bit debatable, isn't it?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti misalnya nama Kampung Pecah Kulit, di Jakarta Utara. Dinamakan "Pecah Kulit" karena adanya eksekusi oleh Pemerintah Hindia Belanda terhadap seorang londo yang bernama Pieter Erbeveld. Kesalahan Pieter adalah mendukung perjuangan inlander melawan VOC (Untuk jelasnya baca Adolf Heuken, Historical Sites of Jakarta).  Eksekusi berjalan parah. Kedua kaki dan kedua tangan Pieter diikat di kuda, kemudian kuda-kuda tersebut berlari kencang ke empat penjuru mata angin. Maka pecahlah badan, juga kulit, Pieter. Tak hanya itu, kepalanya juga digantung untuk dijadikan monumen peringatan bagi para inlander. Sejak itu, wilayah itu dinamakan Kampung Pecah Kulit. Nama yang diambil dari pecahnya kulit Pieter Erbeveld. Oh... Seraaamm...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi, nih. Selama ini, orang mengetahui nama Betawi berasal dari lidah penduduk pribumi yang kesulitan menyebut Batavia. Tapi ada sejarah nama lain dari Betawi, walau tidak familiar dan marjinal. Konon, tentara Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung yang mengepung Batavia saat itu kehabisan amunisi. Tak hilang akal, Sultan Agung kemudian meminta prajurit-prajuritnya mengumpulkan kotoran, alias tahi, untuk dijadikan amunisi. Setelah terkumpul banyak, tahi-tahi itu lalu dilemparkan ke dalam kota Batavia. Tentu saja "semerbak harumnya" tahi tersebut menyebar ke penjuru kota. Hingga orang-orang berteriak, "Mambu tai, Mambu tai," yang kemudian terdengar seperti Betawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, setidaknya itulah yang diceritakan almarhum Ajatrohaedi, seorang ahli sejarah nama, yang juga guru kami tercinta. Sejarah nama itu sendiri dikenal di dunia akademisi dengan nama ilmu Toponimi. Suatu bidang ilmu yang oleh Mang Ajat dinamakan ke bahasa Indonesia: Widyaloka. Sayang, ilmu ini belum begitu berkembang di sejarah-budaya Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh iya, sekedar info. Tahukah Anda kalau ternyata nama Margonda Raya, yang terbentang sedemikian panjangnya di Depok, diambil dari nama pahlawan legendaris Depok: Margonda. (Agustus, 2007)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3706042246538351987-5778293414709107626?l=tinulad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tinulad.blogspot.com/feeds/5778293414709107626/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3706042246538351987&amp;postID=5778293414709107626' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/5778293414709107626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/5778293414709107626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tinulad.blogspot.com/2007/09/sejarah-di-balik-nama_06.html' title='Sejarah di Balik Nama?'/><author><name>tinulad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05711931021252337849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3706042246538351987.post-1586421049805640446</id><published>2007-08-12T08:29:00.000+07:00</published><updated>2008-02-13T08:56:17.417+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Sejumlah Tanya tentang Keajaiban Dunia</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Sebenarnya sangat sulit untuk mendefinisikan keajaiban dunia. Apakah keajaiban dunia merupakan hasil kreasi alam, yang saking indahnya membuat manusia melihatnya sebagai keajaiban? Ataukah hasil ‘sentuhan’ manusia dari mahakarya sebuah peradaban?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa bermaksud menafikan kebesaran alam dan pencipta-Nya, lebih menarik apabila kita melihat keajaiban dunia sebagai hasil peradaban. Terutama lagi setelah organisasi bernama The New Open World Corporation menyatakan tujuh keajaiban dunia baru (The New Seven Wonders of the World), yang mencakup Chichen Itza di Meksiko, Patung Kristus Penebus di Brazil, Tembok Besar Cina, Machu Pichu di Peru, reruntuhan kota Petra di Yordania, Colloseum di Italia, Taj Mahal di India, dan Piramida Giza di Mesir. Menarik, karena ternyata tujuh keajaiban dunia baru yang dicetuskan 7 Juli 2007 ini menuai banyak kontroversi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah UNESCO yang menjadikan The New Seven Wonders of the World menjadi sebuah kontroversi. Sebagai sebuah lembaga resmi PBB yang juga bertanggung jawab akan pelestarian Benda Cagar Budaya Dunia (world heritage), UNESCO menolak dikaitkan dengan kampanye tujuh keajaiban dunia baru tersebut. Sebuah sikap yang kami anggap tepat, karena sebagai sebuah lembaga yang bertanggung jawab terhadap world heritage, UNESCO tidak dapat memprioritaskan tugasnya hanya kepada tujuh wonders baru, serta melupakan world heritage lain. Tentu saja termasuk yang ada di Indonesia, seperti Borobudur, Prambanan, dan Sangiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontroversi lain adalah kriteria new wonders yang tidak jelas. Akan terasa aneh untuk membandingkan Patung Kristus Penebus di Brazil, yang baru berusia 78 tahun dan dibuat dengan teknologi modern, dengan Tembok Besar Cina, yang didirikan antara 220 – 200 SM dan menjadi bangunan terpanjang dalam sejarah manusia walau dengan teknologi yang sederhana. Baik itu batas waktu atau teknologi yang digunakan sebagai kriteria, masih rancu untuk menyebut sesuatu sebagai wonder.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita kembali lebih jauh ke belakang, menengok sejarah awal munculnya tujuh keajaiban dunia. Mengapa harus tujuh? Sebab sang pencetus awal, Antipater Sidon, membuat tujuh daftar dalam sebuah puisi sekitar abad 140 SM. "Aku telah melihat tembok Babilonia yang agung yang di atasnya terbentang jalanan untuk kereta-kereta perang, dan patung Zeus di Alfeus, dan taman-taman gantung, dan Kolosus Matahari, dan karya besar yang membangun piramida-piramida tinggi, serta kuburan yang besar dari Mausolus; namun ketika aku melihat rumah Artemis yang menjulang ke awan-awan, yang lain itu semuanya kehilangan keindahannya, dan aku berkata, 'Tengoklah, selain Olympus, Matahari tidak pernah lagi melihat apapun yang sedemikian agung.” (Antipater, Greek Anthology IX.58).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dari sanalah tujuh keajaiban dunia berasal. Semata-mata berasal dari pendapat pribadi seorang Sidon, yang kemudian dikembangkan lebih jauh. Sekarang masyarakat mengenal banyak jenis tujuh keajaiban dunia. Pertama sebagaimana tertera dalam daftar Antipater Sidon. Satu-satunya keajaiban dunia kuno yang masih ada hingga sekarang adalah Piramid Giza. Colossus of Rhodes adalah keajaiban dunia kuno yang berumur paling pendek, hanya bertahan selama 56 tahun sebelum hancur oleh gempa bumi, sementara keberadaan Taman Gantung Babilonia, masih diperdebatkan keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah peradaban kuno runtuh, ingatan akan keajaiban dunia kuno yang hancur perlahan menghilang. Kelompok cendekiawan meninjau ulang dan menulis kembali daftar keajaiban dunia yang dikenal sebagai tujuh keajaiban dunia pertengahan yaitu Katakombe Kom el Shoqafa, Colosseum, Tembok besar China, Hagia Sophia, Menara miring Pisa, Menara porselen Nanjing (Nanjing, Tiongkok), dan Stonehenge (Skotlandia, Britania Raya). Setelah keajaiban pertengahan, banyak orang sudah menyusun daftar Keajaiban Dunia Modern, antara lain Terowongan Channel (Britania Raya dan Perancis), Menara CN (Toronto, Kanada), Empire State Building (New York, Amerika Serikat), Jembatan Golden Gate (San Francisco, AS), Dam Itaipu (Brazil dan Paraguay), Delta Works (Belanda), dan Terusan Panama (Panama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja Indonesia juga memiliki wonders, misalnya Borobudur sebagai salah satu mahakarya arsitektur pada masanya. Namun sayangnya, orang sering menyebut Borobudur sebagai forgotten wonders. Keajaiban yang terlupakan, seperti halnya Angkor Wat di Kamboja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan sangat bijak apabila kita tidak membatasi wonders of the world menjadi hanya tujuh. Karena ketika kita bicara wonders, tentu saja kita juga bicara kemajuan peradaban, hingga melahirkan mahakarya, baik kemegahan arsitektural ataupun keindahan estetis. Setiap peradaban, juga setiap zaman, tentu akan menghasilkan wonders-nya masing-masing. Dengan membatasinya dalam sejumlah angka prioritas hanya akan melupakan yang lain, dan ini menjadi ancaman bagi pelestariannya. (komunitas paduraksa, Juli 2007; dari berbagai sumber)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3706042246538351987-1586421049805640446?l=tinulad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tinulad.blogspot.com/feeds/1586421049805640446/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3706042246538351987&amp;postID=1586421049805640446' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/1586421049805640446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3706042246538351987/posts/default/1586421049805640446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tinulad.blogspot.com/2007/08/sejumlah-tanya-tentang-keajaiban-dunia.html' title='Sejumlah Tanya tentang Keajaiban Dunia'/><author><name>tinulad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05711931021252337849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
